Ditolaknya Anies Dampingi Jokowi Di GBK, Apakah Awal Perseteruan Pilpres 2019?

Ditolaknya Anies Dampingi Jokowi Di GBK

Ditolaknya Anies Dampingi Jokowi Di GBK

Kerincitime.co.id, Berita Jakarta – Ditolaknya Anies saat akan ikut mendampingi Jokowi dalam pemberian piala Presiden ternyata menjadi viral dan ramai jadi perbincangan di Indonesia. Ketika, Persija Jakarta menaklukkan Bali United 3-0. Setelah peluit panjang dibunyikan, nama Anies tak dipanggil untuk mendampingi Presiden Joko Widodo memberikan medali kepada skuat Macan Kemayoran.

Sebuah video menjadi viral ketika menunjukkan Anies terlihat sedang beranjak turun dari tribun, namun dicegat oleh pria berbaju safari. Pria berbaju hitam yang diketahui merupakan Paspampres itu mengangkat tangannya seolah mengatakan Anies tak perlu turun. Anies sempat berbincang dengan pria itu kemudian berbalik badan dengan wajah gusar. Belum diketahui apa yang dibincangkan oleh keduanya. Saat itu, Anies hendak turun mengikuti Presiden Jokowi. Pria berbaju hitam tersebut diketahui merupakan Paspampres.

Setelah itu ramailah komentar dan foto bertebaran di dunia maya. Muncul gambar saat piala presiden 2015, Ahok dengan gagahnya turun mendampingi Jokowi dalam penyerahan piala padahal saat itu pemenangnya adalah Persib Bandung. Banyak masyarakat menyangka bahwa hal itu terjadi karena kubu Jokowi siapapun dibelakangnya tidak bisa move on.

Tetapi banyak pengamat memandang hal lain. Saat ini sosok Anis tampaknya adalah menjadi si Kuda Hitam yang akan menjadi calon Rising Star yang bisa menggilas Jokowi di Pilpres 2019. Seperti halnya saat menjungkalkan Ahok dari kursi Gubernur DKI Jakarta. Persaingan itu tampaknya membuat awal perseteruan politik.

Saat ini kubu Jokowi dilanda kecemasan yang berlebihan dengan melakukan antitesis pencitraan pada Anis dengan mengurangi panggung pada gerak Anis. Ternyata bukan hanya itu, saat ini secara sistematis sudah mulai tampak bahwa panggung Anis dalam dunia media mulai dibatasi terutama oleh media mainstream. Saat penerimaan penyambutan Tim Persija yang diterima dinbalai kota oleh Anis Sandipun juga terjadi keanehan. Yang banyak disorot dan mendapat panggung yang banyak di media adalah Sandi.

Padahal saat itu Anis Sandi datang bersama sama. Bila dugaan pengamat benar, maka Anis sebagai Si Kuda Hitam di Pilpres 2019 harus bersiap sebentar lagi bukan hanya kehilangan panggung tetapi hantaman isu dan serangan lebih dahsyat akan diterimanya. Hal ini sudah mulai tampak ketika baru 3 bulan sebagain anggota DPRD sudah mengambil ancang ancang berinisiatif mengajukan interpelasi meski tidak ada kasus yang menonjol untuk dijatuhkan. Di media masapun sudah mulai bermunculan pasukan buzzer dengan berbagai serangan fitnah dan hinaan yang berlebihan terhadap Anis.

Si Kuda Hitam

Ketika dua nama besar seperti Jokowi dan Prabowo menjadi nama yang masih banyak diunggulkan dalam berbagai survey ternyata terselip nama Anis Baswedan di antaranya. Tampaknya terselipnya nama Anis Baswedan di antara nama besar itu bukanlah sesuatu kebetulan dan bukan sekedar main main belaka. Anis Baswedan, Sang Rising Star adalah salah satu sosok kuda hitam yang diprediksi dapat menjungkalkan Jokowi pada pilpres 2019. Anis adalah sang fenomenal yang dalam pilgub DKI Jakarta dengan hasil awal pooling yang sangat rendah, dukungan sedikit partai politik dan dengan dana yang pas pasan dapat menggelontor nama besar Ahok yang didukung 9 Partai Besar dan dukungan dana yang luarbiasa tak terbatas.

Sang Fenomenal ini tampaknya seperti sudah dipersiapkan sang Sutradara Alam sebagai pemimpin negeri karena dukungan luarbiasa dari umat muslim baik di Jakarta atau di Indonesia. Apalagi Pilgub DKI Jakarta 2017 dianggap sebagai Pemanasan Pilpres 2019 karena ternyata dukungannya bukan hanya dari masyarakat Jakarta tetapi dari seluruh masyarakat Indonesia.

Fakta politik bahwa Anis didukung mayoritas umat muslim yang saat ini merasa tidak menerima keadilan adalah senjata luar biasa hebat dalam meraih pilpres 2019. Apalagi rezim saat ini dianggap semakin jauh memberikan ketidak adilan terhadap umat muslim secara bertubi tubi tanpa ada koreksi seperti kasus penistaaan agama, represifnya aksi damai 212, kasus kriminalisasi ulama, kasua penganiayaan ulama dan berbagai kasus lainnya yang dianggap terjadinya ketidakadilan bagi umat muslim di negara yang mayoritas ini, membuat Anis diduga akan semakin meroket.

Apalagi dalam 3 bulan pemerintahannya Anis dengan cepat merealisasikan hampir semua janjinya sebagai gubernur DKI Jakarta. Karena kehebatan fenomena Anis inilah tampaknya yang membuat Prabowo masih belum juga membuat keputusan segera untuk mencalonkan dirinya sebagai capres. Bahkan sebagaian besar pengamat politik meramalkan bahwa bila Prabowo tidak mencalonkan lagi akan mendukung Anis Baswedan dan Gatot Nurmantyo sebagai pasangan capres dan wapres kuda hitam yang mempunyai daya magis luar biasa bagi bangsa ini.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dinilai bisa jadi kuda hitam di Pemilihan Presiden 2019.

Meski elektabilitasnya rendah, namun Anies punya popularitas tinggi karena jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta. Nama Anies menduduki urutan kelima sebagai calon presiden yang dikenal publik dengan presentase 84,6 persen. Anies berada di bawah Joko Widodo 97 persen, Jusuf Kalla 91,5 persen, Prabowo Subianto 87,7 persen dan Megawati Soekarnoputri 84,7 persen. Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari mengatakan Anies memiliki potensi kuat sebagai kuda hitam di tengah persaingan Jokowi dan Prabowo. Apalagi, jika Prabowo memutuskan tidak mencalonkan diri.

“Potensi kuda hitam ada di Anies, karena sekarang dia memegang jabatan strategis,” kata Qodari dalam paparannya di Hotel Atlet Century, Jakarta, Kamis (16/2). Salah satu faktor penunjang menguatnya Anies antara lain ‘memiliki’ banyak media massa karena berkantor di Jakarta. Karenanya, segala kebijakan Anies sebagai Gubernur akan menjadi sorotan. “Jadi kalau Anies buat kebijakan, kemungkinan besar jadi sorotan. Seperti becak kemarin, diskusi soal itu jadi bahasan berhari-hari,” katanya.

Potensi Anies di Pilpres 2019 juga tercermin dalam survei SMRC akhir 2017 lalu. Saat itu SMRC mensimulasikan sejumlah tokoh di luar Jokowi dan Prabowo dalam pertarungan Pilpres 2019. Hasilnya, Anies Baswedan ada di tempat teratas, dipilih oleh 0,9 persen responden, diikuti Ahok (0,8 persen), Hary Tanoesoedibjo (0,6 persen), serta AHY dan Ridwan Kamil yang sama-sama dipilih oleh 0,3 persen responden. Anies Baswedan akan menjadi lawan terberat Presiden Jokowi jika Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto tidak maju sebagai calon presiden di Pemilu 2019. Hal itu disampaikan dalam rilis survei Indo Barometer, di Hotel Atlet Century, Jakarta, Kamis (15/2/2018).

Anies menjadi lawan terberat Jokowi dengan elektabilitas 12,1 persen. Di bawah Anies ada nama mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo (7,8 persen). Kemudian putra sulung Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Agus Harimurti Yudhoyono (5,3 persen). Selain itu, ada pula nama Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan (2,5 persen) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (3,6 persen). Meski demikian, jika dihadapkan dengan lima nama tadi, rata-rata elektabilitas Jokowi jauh mengungguli mereka, yakni 55,4 persen. Namun, jika dihadapkan dengan Anies, elektabilitas Jokowi turun menjadi di bawah rata-rata, yakni 49,9 persen. “Jadi potensi kuda hitam ada di Anies,” kata Qodari mengomentari hasil survei.

Sumber : beritasepuluh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful