Herman Muchtar dari juragan 3 beca hingga Pemilik 3 hotel berbintang Laporan: Budhi Vrihaspathi Jauhari

Tak banyak masyarakat terutama generasi muda koa Sungai Penuh dan Kerinci yang tahu tentang kisah Herman Muchtar dalam merintis usaha yang di mulai dari angka Nol,pengalaman yang dijalani Herman Muchtar di rantau orang yang jauh dari orang tua barangkali bisa dijadikan cemeti untuk memotivasi generasi muda di alam Kerinci untuk memulai usaha.

Keluarga Herman Muchtar merupakan keluarga terpandang, Ayahanda beliau H.Muchtaruddin seorang pejuang dan tokoh yang memperjuangkan Kerinci yang saat ini berada di dalam kesatuan Kabupaten PSK-Sumbar menjadi daerah Otonum yang bergabung ke dalam Propinsi Jambi, dan pada masa itu suara dan populasi masyarakat Kerinci merupakan penentu utama terbentuknya Propinsi Jambi.

Anak kelima dari 6 bersaudara se ayah dan se ibu ini sejak kecil telah memiliki watak pekerja keras,meski orang tua tergolong berkecukupan dan mapan, namun Herman Muchtar dimasa kecil hingga SMA bergaul dengan msyarakat dan teman teman sebaya yang ada di wilayah adat depati nan bertujuh, Pulang sekolah dan di hari hari libur bersama sama teman temannya dan terkadang di temani keluarga ia mencangkul di lahan lahan sawah dan memancing belut di pematang sawah

Pada awal tahun 1970, Herman Muchtar Hijrah ke Bandung,hasil panen padi sebanyak 200 Kaleng merupakan modal awal Herman merantau, Kala itu Herman baru kelas III SMA, dan di beliau menyelesaikan pendidikan di salah satu SMA di Kota Bandung-Jawa Barat,Tamat SMA Herman Melanjutkan Kuliahnya dan tinggal di Asrama gunung kerinci di Jalan Cihampelas Kota Bandung.

Seperti yang telah dikemukakan diatas, Herman Muchtar memulai usaha dengan 200 kaleng padi , Dari hasil penjualan 200 kaleng padi hasil bertani di Kerinci dijual sebagai modal membeli 3 buah beca di kota Bandung. H.Herman Muchtar sambil kuliah di Institut Tehnologi Textile bandung merintis usaha bisnis konpeksi rumahan sekala kecil dan usaha rumahan ini semakin terus berkembang menjadi usaha garmen yang cukup dikenal di Bandung, usaha garmen ini dibawah bendera Kincai Collection Bandung.

Sebagai Mahasiswa dan dalam usia yang amat muda Herman Muchtar menjadi juragan beca, setiap hari hingga larut malam ketiga buah beca mencari penumpang disepanjang lorong lorong kota Bandung. Sedikit demiki sedikit pendapatan dari 3 beca di kumpulkan, sebagian pendapatan di tabung dan sebagian dimanfaatkan untuk biaya kuliah dan biaya hidup.

Sejak muda Herman Muchtar memang sudah mandiri, jiwa entrepreneur memang sudah ditanam sejak usia muda, dibandingkan dengan kakaknya yang lain, Herman Muchtarlah yang menggeluti dunia Bisnis mulai dari yang paling kecil hingga paling besar

Kakak sulung beliau Fahmi Muchtar menempuh karir militer dengan pangkat terakhir Kolonel dan bekerja di Industri persenjataa (PINDAD) Bandung, Kakak kedua Drs.Hasmi Muchtar kuliah di Fisip Unpad dan terakhi menjadi Bupati Kerinci dan Asisten IV Setda propinsi Jambi, sedangkan Yusnidar Muchtar Adnan menjadi Guru SPG dan terakhir menjadi salah seorang pejabat penting di Kanwil Depdikbud Propinsi Jambi.

Sebagai seorang wirausahawan muda saat itu, Herman Muchtar paham betul akan potensi Kota Bandung yang sejak masa kolonial mendapat julukan “Paris Van Java”

Herman Muchtar pandai membaca peluang bisnis,dan pada tahun 1985 mendirikan pondok Kincai tempat khost mahasiswi, pada tahun 1994 Herman Muchtar mulai merintis usaha perhotelan yang kala itu industri jasa perhotelan di Kota Bandung belum berkembang seperti saat ini

Berbekal kemauan,disiplin dan kerja keras Herman Muchtar membangun Hotel Cihampelas di jantung kota Bandung, dan hingga tahun 2015 Putra kelahiran Kota Sungai Penuh alam Kerinci ini telah sukses membangun 2 Hotel bintang dan 1 Hotel Melati di kawasan jalan Cihampelas Kota Bandung Propinsi Jawa Barat.

Untuk mendukung pengembangan jasa perhotelan Herman Muchtar mendirikan usaha traveling yang dikenal dengan Cihampelas Rental Car. pada tahun 1992 BUMN PT. Semen Padang melalui PT. Trimitra Jaya Perkasa memberikan kepercayaan untuk menjadi Distributor Semen Padang untuk wilayah Bandung, Tasik dan Cianjur di Propinsi Jawa Barat.

Bagi Masyarakat Propinsi Jawa Barat khususnya masyarakat Bandung, sosok H.Herman Muchtar merupakan figur pengusaha sukses yang berhasil membangun jaringan bisnis mulai dari bawah,dan dikalangan dunia usaha dan organisasi profesi dan organisasi sosial Herman Muchtar dikenal sebagai leader dan manajer yang diperhitungkan.

Dalam diskusi nya dengan Penulis Budhi Vrihaspati Jauhari di Lobby Hotel Cihampelas Bandung , Herman Muchtar dengan gaya bicara yang to the poin mengemukkan secara nasional penduduk Indonesia yang terjun ke dunia usaha hanya 0.,18 persen,sementara di Singapura sudah mencapai 4 %,Amerika 2%,melihat kondisi seperti itu betapa minimnya jiwa dagang masyarakat Indonesia.Dari 260Juta penduduk Indonesia hanya 0,18% yang menggeluti dunia usaha.

Selaku putra alam Kerinci saya menghimbau dan sangat mengharapkan agar para mahasiswa dan generasi muda untuk terjun ke dunia usaha,kaum muda mulai saat ini harus memulai untuk terjun ke dunia bisnis.apalagi dengan semakin terbatasnya penerimaan PNS dan karyawan” Kata Herman Muchtar”

Memang tidak bisa dipungkiri,masih banyak masyarakat kita yang masih senang menjadi Pegawai Negeri Sipil dan karyawan,karena kedua pekerjaan ini dianggap tidak memiliki resiko,PNS diakhir karirnya akan mendapat dana pension.

Meski menerima gaji yang minim sebagai karyawan mereka merasa pasti,karena setiap bulan menerima gaji,sebab jika membuka usaha, takut tidak laku dan bangkrut,modal mereka menjadi hilang.

Intinya secara umum masyarakat tidak mau ambil resiko,padahal dengan kondisi sekarang,seorang PNS atau karyawan tidak dalam posisi aman ,penuh persaingan, ancaman PHK dan kondisi penuh dengan ketidak pastian,apalagi dengan kehadiran tenaga asing,Banyak perusahaan perusahaan besar yang mempekerjakan tenaga asing.

Oleh sebab itu sebaiknya para mahasiswa dan generasi muda lebih tepat untuk mengandalkan kekuatan sendiri dengan mengembangkan jiwa usaha,akan tetapi untuk terjun ke dunia usaha, harus membekali diri dengan kemampuan manajemen,pemasaran dan kesepatan menangkap peluang, dengan kata lain seorang yang terjun kedunia usaha harus memiliki kecakapan diri.

Saya menghimbau agar Pemerintah Kabupaten Kerinci dan Pemerintah Kota Sungai Penuh khususnya kepada pengelola lembaga pendidikan termasuk perguruan tinggi untuk mengembangkan jiwa bisnis melalui lembaga pendidikan yang membangun ketrampilan (Live Skill),

Kedepan saya kira Lembaga Pendidikan yang ada di alam Kerinci dan di propinsi Jambi umumnya harus menerapkan prinsip prinsip dan kurikulum yang mengarah pada pembentukan ketrampilan yang terintegrasi dengan usaha dilapangan

menurut H.Herman Muchtar,SE secara umum lunturnya semangat berwira usaha para pemuda karena kesalahan memberi motivasi, para tenaga pengajar menganggap berwirausaha hal yang sangat susah, lebih enak menjadi Pegawai Negeri Sipil,Padahal motivasi menjadi PNS membuat banyak kalangan kaum muda jadi pemalas, hanya mengharapkan gaji bulanan,apalagi ada pemikiran PNS yang rajin dan PNS yang malas gajinya tetap sama.

Karena itu dewasa ini kita jangan heran jika dilingkungan perkantoran kita bila melihat PNS yang duduk duduk di kantin, ngobrol ngalor ngidul,l alu pulang kantor, kalau hal ini terus kita biarkan bagaiamana daerah kita bisa bergerak maju.Sedangkan semangat berdagang menumbukan dorongan bagi kaum muda untuk membidik pasar internasional yang akan memajukan perekonomian nasional,

Dampak Globalisasi menurut H.Herman Muchtar ditandai dengan pesatnya pertumbuhan tekhnologi informasi dan transportasi yang mendekatkan ruang dan waktu,membuat pergerakan manusia dan barang,serta uang lebih cepat melintasi batas Negara.

H.Herman Muchtar,SE menghimbau kaum muda agar berwawasan internasional,setiap ada peluang yang ada di luar negeri harus cepat kita tangkap.

Pantauan Penulis sosok H.Herman Muchtar,SE merupakan sosok pengusaha Sukses asal Sungai Penuh alam Kerinci yang ulet dan tangguh, ia salah satu diantara orang Jambi kelahiran alam Kerinci yang suskes dalam mengembangkan bisnis terutama di sektor Pariwisata

Pada tahun 2011.H. Herman Muchtar pernah mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Barat sebagai tokoh Pemerhati Pariwisata, maka menurut hemat penulis tidaklah salah jika Pemerintah Propinsi Jambi,Pemerintah Kabupaten Kerinci,Pemerintah Kota Sungai Penuh organisasi PHRI yang ada di Propinsi Jambi untuk memetik ilmu dan mencontoh usaha yang dilakukan putra daerah Jambi asal alam Kerinci dalam mengembangkan sektor Pariwisata.

Direktur Lembaga Bina Potensia/ penerima Anugerah Kebudayaan Tingkat nasional Budhi Rio Temenggung mengemukakan bahwa untuk itu kedepan dibutuhkan pemimpin yang memiliki visi,misi dan kwalitas sumber daya manusia yang benar benar ingin memajukan alam Kerinci

Para pemimpin di alam Kerinci kedepan harus berani mengevaluasi diri dan melakukan perubahan dalam sistim tata kelola managemen yang lebih transparan.

Menyikapi berbagai dinamika Pembangunan di alam Kerinci BJ.Rio Temenggung mengemukakan sejak masa lalu orang Kerinci telah mengenal istilah filosofis ” Tiga Tungku Sejarangan” yakni Pemerintah/ Eksekutif/Legeslatif ( Umaro) , Pemangku Adat dan Ulama, jika salah satu dari ketiga tungku tersebut tidak diperankan maka cita cita untuk memajukan dan mensejahterakan masyarakat akan terganggu dan sulit untuk tercapai.Dilain pihak para Pemangku adat juga diharapkan dapat memahami “Sko Tigo Takah” dan dapat memisahkan antara peran Pemerintah dan Peran Pemangku adat dalam Proses Pembangunan, para Ulama dan tokoh tokoh agamawan diharapkan dapat menjadi katalisator dan Fasilitator dalam menggairahkan derap langkah Pembangunan dan para aktifis (LSM) hendaknya dapat memerankan perannya sebagai Motivator dan Stablisator bukan bertindak sebagai Komporator.

Bila kita berbicara mengenai kebahagian,kita sekaligus juga bicara tentang manusia.Manusia adalah makhluk pencipta nilai dan pemberi makna pada nilai,berhubung sistim nilai yang dihayati perdepenisi adalah budaya/kebudayaan,manusia adalah fakta fundamental dan primordial dari budaya/kebudayaan, dengan demikian ide tentang kebudayaan menetapkan manusia diatas kewargaan (citizenship).Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia yang dilakukan oleh para pejuang dan para pahlawan termasuk juga persiapannya tahun 1908 dan 1928 lahir dari wacana kebudayaan yang dikembangkan oleh kaum terdidik/terpelajar.

Dalam kontek alam Kerinci,(Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci) sudah saatnya kita mewujudkan Pembangunan Daerah dengan pendekatan budaya,dengan demikian berarti budaya perlu diperhitungkan dalam pemerintahan.bukti sejarah menunjukkan bahwa budaywan sudah terbiasa menyatukn”NALAR” dan “HATI” seperti yang pernah diingatkan filsuf matematikus Pascal” Hati punya penalaran sendiri ketika nalar tidak bisa menjelaskan, sedalam dalam samudera, lebih dalam hati budayawan,setinggi tinggi gunung lebih tinggi pikiran budayawan”

Jika ketiga tungku sejarangan ini benar benar difungsikan dan dilibatkan secara lansung dalam proses proses pengambilan keputusan dan pengawasan dalam proses pembangunan diyakini alam Kerinci ( Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci) akan menjadi sebuah Negeri yang Gemah Ripah Loh Jinawi,Baldattun Thoyibatun wa Rabbun Ghafur…. Semoga.

There are no comments yet

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful