‘Mengintip’ Bunuh Diri di Kerinci

“Pahlawan [tapi] Neraka.” Kira-kira begitu julukan yang disemat kepada Quzman. Seorang muslim yang bunuh diri seusai kecamuk Perang Uhud (Sabtu, 23 Maret 625 M). Mulanya kehebatan Quzman dalam pertempuran memang dikagumi. Dari pasukan kaum Muslim dia yang pertama melepas anak panah. Lemparan tombaknya pun seolah seperti memanah. Gagah berani dia memainkan pedangnya menebas musuh. Beringas bagai amuk seekor harimau. Yang tewas ditangannya sekitar enam orang, dan tiga di antaranya adalah mereka yang bergantian memegang panji kaum musyrik.

Namun ketika pertempuran berakhir, Quzman, yang juga terluka dan telah dibawa ke sebuah rumah terdekat, tidak sanggup menahan rasa sakit lukanya. Hingga tak lama kemudian, dia pun mendorong dadanya ke sebuah mata pedang. Quzman mati bunuh diri. Sehingga terbukti ucapan Nabi Muhammad saw. saat sebelumnya ada sahabat yang menyanjung kepahlawanan Quzman. Waktu itu Nabi saw. telah bersabda: “Tidak! Dia termasuk golongan penghuni neraka.”

Disebutkan bahwa mulanya Quzman tidak mau ikut menghadang kedatangan pasukan kaum musyrik di bukit Uhud. Dia berangkat setelah diejek oleh kaum wanita Bani Zhafar, dan baru bergabung dengan pasukan kaum Muslim ketika Nabi saw. sedang merapikan barisan. Dan sebelum bunuh diri Quzman berujar: “Aku berjuang bukan karena Allah, aku berjuang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku (agar dianggap oleh kaumku). Kalau bukan karena itu, aku tidak akan berjuang.”

# Rasa sakit psikologis

Menangis atau merintih kesakitan merupakan kewajaran bagi manusia. Selama tidak berlebih-lebihan, apalagi jika sampai bunuh diri. Karenanya, Quzman yang dalam bertempur dikagumi ketangguhannya tapi justru tidak tangguh melawan sakitnya luka, ini adalah sebuah isyarat bahwa yang tak mampu dia tanggung sebenarnya bukan hanya rasa sakit dari lumuran darah. Namun ada rasa sakit psikologis yang sungguh tak tertahankan. “Rasa-sakit-psikologis-yang-tak-tertahankan dan dorongan/keinginan untuk menghentikan rasa sakit tsb adalah inti dari bunuh diri,” ungkap Edwin S. Shneidman, salah seorang pakar psikologi bunuh diri.

Rasa sakit psikologis merujuk kepada sakit, nyeri, perih, pedih, atau lara di hati, jiwa dan pikiran. Bisa berupa rasa bersalah, tidak berharga, malu, iri, dengki, benci, amarah, dendam, terhina, kegagalan, kehilangan, kesepian, kehampaan, ketakutan, kecemasan, takut menua, dlsb. Yang berasal dari frustrasi kebutuhan psikologis yang khas pada setiap orang, sehingga masing-masing orang memiliki batas kesanggupan yang berbeda terhadap suatu rasa sakit yang sama. Dalam arti sederhana dan bentuk tertentu, “rasa sakit psikologis” bisa disebut dengan istilah gaul Kayo mudo-mudo minin: “Galau”.

Seperti saat “la tadangea tale rindau, piyo kok sayauk/ la tarantang jaleang luhauh, piyo bukilok/ la kalang baro di hatai, apo ndok dikato/ tasasak di tangoh rimbo, mano aroh randok dituhauk/ rantaing tapijeak, ranggang tirabeang/ nitoh niang nasib kau badeang” (Monalisa, Saluko Anak Datung). Tapi rasa sakit yang begini mungkin agak jarang di masa sekarang. Karena, misalnya, anak datung yang sudah “anggok di muko kuliang ngato ideak” ternyata juga tidak lolos tes CPNS.

Khusus “rasa-sakit-psikologis-yang-tak-tertahankan”, mungkin bisa digambarkan dengan fenomena Air Panas (Gao) Semurup sebagai tempat populer bunuh diri di Kerinci (kabupaten Kerinci dan kota Sungai Penuh). Fenomena ini, menurut sebagian penduduk setempat, karena gao memiliki semacam ‘penunggu’ yang suka ‘menyeru’ tindakan bunuh diri di sana. Meski belum pernah bersua, keberadaan ‘penghuni’ gao yang nakal itu bisa saja benar. Yang jelas, kito memang harus percaya akan adanya makhluk-makhluk gaib seperti malaikat, jin, setan, iblis.

Akan tetapi, ada juga pendapat lain yang mungkin bisa menambah penjelasan. Misalnya, bila sedikit meminjam pendekatan psikoanalisis, salah satu mazhab dalam psikologi yang dipelopori Sigmund Freud, bisa ditemui beberapa kemungkinan. Di antaranya, mungkin di alam bawah sadar orang yang hendak bunuh diri berfantasi bahwa telaga gao adalah pintu masuk rahim ibu. Maksudnya, dia mendatangi gao karena ingin kembali menjadi bayi dalam kandungan emak, yang penuh kenyamanan dan ketenangan, tanpa potensi hadirnya persoalan, sekaligus masalah yang dihadapi sebelumnya pun sepenuhnya terlupakan. Menjauh sejauh-jauhnya dari kelelahan pikiran dan keperihan hati kehidupan dewasanya yang sesak dan pilu.

Di sisi lain, gao yang panasnya bisa merebus telur itik cuma 10-15 menit itu, mungkin dipandangnya sebagai alat yang ampuh untuk menghancurkan diri. Mungkin dalam fantasinya dia ingin menghukum dirinya karena merasa amat bersalah misalnya. Atau mungkin fantasi dendam, misalnya dia beranggapan dengan kematiannya di gao bisa membuat orang lain sangat menyesal. Atau fantasi lainnya.

Dan satu sisi lagi, kemungkinan sebuah narsis. Misalnya, mungkin karena kehilangan, kegagalan, atau malu, dia mencoba melawan rasa sakit dari ‘kekalahannya’ tsb dengan cara ‘swafoto’ (‘selfie’) di tengah gao yang menjadi salah satu simbol wisata Kerinci.

Jadi, Gao Semurup menjadi ‘menarik’ bagi para calon bunuh diri, selain karena lokasinya yang relatif mudah dijangkau dan faktor tunggu gao, mungkin ditambah pula tiga kemungkinan mengawur (basing) di alam bawah sadar atau yang biasanya tidak mereka sadari. Dan dengan tiga kemungkinan basing itu, yang boleh jadi salah satu di antaranya dialami oleh seseorang yang ‘berurusan dengan gao’, bisa sedikit dimengerti bagaimana “rasa-sakit-psikologis-yang-tak-tertahankan.” Akan lebih mudah lagi dimengerti oleh Kayo yang misalnya sudah “terlatih patah hati” (lagu The Rain). Yang mungkin sejak tadi membaca tulisan ini seraya diam-diam mengheningkan cipta mengenang barisan para mantan sakire.

Menurut Shneidman, “rasa-sakit-psikologis-yang-tak-tertahankan” memicu upaya penghentian kesadaran, dan memunculkan ide kematian; perasaannya diliputi putus asa dan tidak berdaya; terjadi penyempitan psikologis dan nalar, atau ‘pemfokusan’ pikiran, sehingga bunuh diri diputusnya sebagai satu-satunya solusi untuk lari dari rasa perih luar biasa waktu dia berpikiran sempit tsb; dll.

# Rasa sakit yang lebih mendalam

Dari sejumlah dugaan rasa sakit psikologis yang diderita Quzman, ada satu yang lebih mendalam. Yakni rasa sakit yang terlihat dalam ucapannya sebelum bunuh diri: “Aku berjuang bukan karena Allah, aku berjuang hanyalah untuk membela kehormatan kaumku (agar dianggap oleh kaumku). Kalau bukan karena itu, aku tidak akan berjuang.” Terbaca bahwa Quzman menyesal karena niatnya berjuang di medan tempur “bukan karena Allah.”

Mungkin sedikit mengganjal: Bila penyesalan merupakan bagian dari tobat, lalu mengapa Quzman yang telah menyesal masih juga bunuh diri? Dugaan kerasnya, rasa sesal salah niatnya tidaklah mendalam. Atau dia memang merasakan penyesalan yang sangat, tapi penyesalan utamanya bukan terhadap niatnya yang keliru. Yang sebenarnya dia sesali mungkin kondisi terluka yang didapatnya, kepergiannya bertempur, atau lainnya. Sebab, penyesalan sebagai tobat, kata Imam al-Ghazali, semata-mata bertujuan untuk mengagungkan kekuasaan Tuhan dan takut kepada-Nya, yang melekat di hati dan mendorong kepatuhan kepada-Nya. Dan perbuatan bunuh diri Quzman sudah amat terang sebagai penjelas atas ketidakpatuhannya.

Ketidaksanggupan Quzman memahat penyesalan atas salah niat di hatinya, boleh jadi karena “rasa-sakit-psikologis-yang-tak-tertahankan” telah mulai dideritanya sejak dia keliru berniat (bahkan mungkin sebelum itu). Dengan kata lain, keberingasannya dalam bertempur itu sendiri sebenarnya sudah merupakan bentuk dari keperihan batinnya yang luar biasa, dan tubuhnya yang terluka hanyalah penggenap pikiran baginya untuk memutus bunuh diri. Ringkasnya, sedari awal bersyahadat minimal hati Quzman masih ragu akan kerasulan Nabi Muhammad saw. Mungkin dia masuk Islam sekedar ikut-ikutan, atau agar tetap mendapat tempat di tengah kerabatnya yang sudah Muslim, atau bahkan dia memang bagian dari kaum munafik Madinah kala itu.

Boleh jadi tanpa dia sadari kebimbangan hatinya sejak bersyahadat semakin terasa, dan semakin berkecamuk dengan rasa sakit psikologis lainnya. Ketika dia berdiam di rumah tidak mau ikut ke bukit Uhud, diejek “seperti perempuan” oleh para ibu Bani Zafar, sampai akhirnya tergeletak berlumur darah di medan tempur. Dalam “rasa-sakit-psikologis-yang-tak-tertahankan” tsb mungkin Quzman merasa bahwa hidupnya dipenuhi penderitaan, tanpa tujuan dan makna yang jelas. Sehingga Quzman memutus dirinya sudah tidak punya alasan lagi untuk bertahan hidup, maupun berusaha menyambut jemputan ajalnya dengan cara yang baik dan benar. Tidak punya harapan tentang akhirat.

Ketidakbermaknaan hidup seperti yang dirasa Quzman, sedikit atau banyak, disadari dan diakui maupun tidak, boleh jadi juga dialami oleh masing-masing diri kito. Terutama di zaman Now yang serba canggih. Karena yang canggih-canggih itu mudah membuat lupa. Bahwa bagaimana pun kecanggihannya, tapi hingga saat ini ia masih belum sanggup menjawab pertanyaan: “Siapa sebenarnya manusia, sedang apa di dunia, dan sebenarnya kito ndak ke mano?”. Bahkan, kehadiran nyata robot Transformer dan Terminator nanti rasanya malah kian meragukan mampu memberi jawaban seterang penjelasan al-Qur’an. Tentu saja ini bukan berarti menolak ilmu pengetahuan dan teknologi. Melainkan berhati-hati agar tidak menyembahnya, alias terjerat oleh dunia yang sekadar tempat singgah.

Seperti cara memandang kehidupan orang-orang yang terdoktrin oleh kroni Dajjal. Contohnya (meminjam ceramah para buya): Mereka yang mengumpulkan dan menghitung-hitung hartanya di tepi jurang Huthamah (Qs. 104), atau yang berlomba-lomba dan berbangga-bangga tentang harta, anak, kedudukan, dll sehingga lengah dan tiba-tiba sudah tiba di alam barzakh (Qs. 102), juga yang enggan merenungi pertanyaan dalam surat ar-Rahman (Qs. 55). Arti “sukses” dan “bahagia” menurut para penggemar Fir’aun, Qarun, Hamman, atau Abu Jahal itu, pasti berbeda dengan definisi yang dipegang oleh orang-orang yang meneladani Nabi Muhammad saw.

Pandangan hidup orang-orang yang menebeng Nabi saw. tidak asing dengan, misalnya, syair Gurindam 12 gubahan Raja Ali Haji: “Barang siapa mengenal dunia, tahulah ia barang yang teperdaya/ barang siapa yang mengenal akhirat, tahulah ia dunia mudarat/ …. ingat akan dirinya mati, itulah asal berbuat bakti/ akhirat itu terlalu nyata, kepada hati yang tidak buta.” (Sebabnya pula diperlukan kehati-hatian mendefinisikan “Kincai maju” dalam upaya-upaya pembangunannya. Misalnya, ada perbedaan tajam antara “maju” dalam arti peningkatan dari kekurangan dan kebodohan menuju ilmu, iman, kebaikan, kebermaknaan dan kesejahteraan, serta “maju” yang berarti meningkat kepada materialistik, sekuler, hedonis, ketidakbermaknaan dan ketimpangan).

Kebalikan Quzman, ada banyak nama yang bisa disebut pada Perang Uhud. Salah seorang yang ternama adalah Thalhah bin Ubaidillah ra. Dia bersama delapan sahabat menjadi pagar hidup bagi Nabi Muhammad saw. di saat terkepung. Setelah pasukan Muslim mendadak diserang balik oleh amukan ganas pasukan musyrik. Thalhah pahlawan di situ. Julukannya: “Burung Elang Hari Uhud.”

Thalhah berlari dan melompat ke tempat Nabi saw. terpojok. Dia tidak mau ketinggalan melindungi Nabi dari kilat sadis senjata kaum musyrik. Walau nyaris semua sahabat yang menjadi tameng Nabi satu demi satu sudah terbunuh, Thalhah tetap teguh. Dia berputar-putar di sekeliling Nabi hingga sebagian urat dan dua jemari tangannya putus, serta puluhan luka lain di sekujur tubuh juga kepalanya. “Wahai Rasulullah, aku tebus engkau dengan ayah dan ibuku,” ujarnya. Dengan sisa tenaganya, bersama sejumlah sahabat yang datang kemudian, Thalhah memapah Nabi yang juga cedera parah menuju dinding bukit. Lalu dia membungkukkan badannya sebagai tumpuan Nabi untuk naik ke atas bebatuan. Dan dia masih berupaya kembali bertempur sebelum akhirnya pingsan berselimut darah.

Tidak seperti Quzman, Thalhah bersyahadat dengan mendalam sejak awal. Tanpa ragu-ragu, Thalhah termasuk delapan sahabat yang pertama-tama memeluk Islam. Pada mulanya itu pula dia diancam dan disiksa oleh keluarga dan kerabatnya supaya menjauhi Nabi saw. Tapi hatinya tidak kecut. Namanya pun disebut Nabi di antara sepuluh nama sahabat yang diberi jaminan surga. Begitu di Perang Uhud. Sejak awal Thalhah sudah turut menjadi salah seorang yang menebas para pemegang panji kaum musyrik. Bahkan Thalhah justru semakin berani dan tangguh saat diterjang ganasnya serangan balik. Sehingga Nabi bersabda: “Siapa yang ingin melihat seorang syahid berjalan di muka bumi maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah.”

Himpitan puluhan luka tidak membuat Thalhah berpikir untuk bunuh diri. Setelah terjaga dari pingsan yang dia tanyakan adalah keadaan Nabi saw. Kisah serupa Thalhah, pada situasi yang sama di bukit Uhud tsb, pun telah mengharumkan nama Nusaibah binti Ka’ab. Saat mengetahui Nabi terpojok dengan hanya sejumlah sahabat yang melindungi, Nusaibah atau Ummu ‘Imarah ini langsung ikut terjun menghadang senjata-senjata kaum musyrik. Kecintaan Nusaibah kepada Nabi membuat belasan luka yang dia dapat menjadi tidak ada artinya. Layaknya seorang wanita Bani Dinar yang menanti kepulangan pasukan kaum Muslim dari Perang Uhud. Ketika diberi tahu tentang suami, ayah, dan saudaranya termasuk di antara yang gugur, dia pun tidak peduli. Yang dia khawatirkan adalah Nabi. Dan saat melihat langsung bahwa, berkat lindungan Allah, Nabi masih hidup, lalu dia berkata: “Semua musibah setelah [melihat] engkau adalah kecil, wahai Rasulullah.”

Betapa sabar dan tabah hati mereka dalam mencintai Nabi Muhammad saw. Cinta dan kepatuhan mereka kepada Yang Maha Benar. Tentu kesabaran, ketabahan, cinta dan kepatuhan itu mereka teladani dari Nabi. “Akhlak Nabi adalah al-Quran,” kata Siti Aisyah ra. Bermacam bentuk ujian sudah dilalui Nabi sejak masa kecil beliau. “Dilipatgandakan cobaan bagi kami, kelompok para nabi,” ucap Nabi saw. sewaktu penyakit beliau bertambah parah di hari-hari menjelang wafat. Singkatnya, adakah misalnya di antara penulis dan Kayo yang berani mengaku-aku menjadi nabi? Yakni merasa cobaan hidup kito yang paling berat.

Oleh sebab itu, sebagaimana sering disampaikan para buya, saat berbuat salah atau merasa bersalah, segeralah ingat kepada Yang Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Minta maaf kepada (bila ada) orang yang tersakiti. Mohonlah ampunan kepada Yang Maha Suci. Yakin dan pasrah kepada Yang Maha Penerima Tobat. Berdoalah seperti doa nabi Adam as. dan siti Hawa (Qs. 7: 23). Atau bagai syair I’tirof Abu Nawas: “…ya Tuhanku, hamba-Mu yang sering berbuat dosa telah datang kepada-Mu dengan mengakui seluruh dosa, dan sungguh telah memohon kepada-Mu. Jika Engkau beri ampunan, maka memang Engkau-lah yang berhak mengampuni. Dan jika Engkau tinggalkan, maka siapa lagi yang hendak kami harapkan selain Engkau.”

Kata buya-buya: Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri (Qs. 2: 222). Lihat juga Qs. 4: 110 dan 39: 53. Dan, …Jika engkau terkena sesuatu musibah, jangan berkata “seandainya aku mengerjakan begini, tentu akan menjadi begini dan begitu.” Namun katakanlah, “ini adalah takdir Allah. Dan siapa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan apa saja yang dikehendaki-Nya pasti terjadi.” Karena sesungguhnya ucapan “seandainya” membuka pintu masuknya godaan setan (Hr. Muslim). Rasa sesal jangan diabai maupun dipendam, tapi segera dibawa bertobat. Terima apa yang telah terjadi, ambil hikmahnya, dan lanjutkan bergerak menjalani hidup dengan lebih baik.

Begitu bila disakiti atau dianiaya. Bukan dendam, tapi ingatlah Yang Maha Sabar, Maha Pemaaf dan Maha Pengampun. Upayakan memaafkan, introspeksi diri dan bertobat. Yakin dan patuh kepada Yang Maha Menyaksikan, Maha Adil, dan Maha Bijaksana sambil mengurus urusannya (jika ada dan harus, dan dengan cara yang baik). Atau, pasrahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Pembuat Perhitungan di Hari Akhir. Dan bersabarlah dan tidaklah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah dan janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka (Qs. 16: 127).

Rasa sakit dianiaya sealur dengan rasa sakit karena kegagalan, kehilangan, dll. Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu (Qs. 31: 17). Ingatlah Yang Maha Lembut, Maha Menutupi, Maha Terpuji, Maha Mulia, dan Maha Besar. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Milik-Nya kerajaan langit dan bumi. Dan hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam. Dan Dia Maha Mengetahui segala isi hati (Qs. 57: 4-6).

Ucapkan dari hati: Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali (Qs. 2: 156). Sandarkan hati yang lara kepada Yang Maha Pemberi Cahaya, Maha Pemberi Petunjuk, dan Maha Membimbing. Kira-kira seperti lirik Sandaran Hati (Letto): “Inikah yang Kau mau, benarkah ini jalan-Mu, hanyalah Engkau yang kutuju/ pegang erat tanganku, bimbing langkah kakiku, aku hilang arah tanpa hadir-Mu, dalam gelapnya malam hariku/ teringat ku teringat pada janji-Mu ku terikat, hanya sekejap kuberdiri, kulakukan sepenuh hati/ peduli ku peduli siang dan malam yang berganti, sedihku ini tak ada arti, jika Kau-lah Sandaran hati.”

Sebentuk rasa sakit dapat berjalinan dengan rasa sakit lainnya, walau biasanya ada satu yang dominan. Serta tiap rasa sakit itu bisa menggulung ke perasaan putus asa dan tidak berdaya. Bila mulai ke sana, nasehat para buya, ingatlah: Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus-menerus mengurus [makhluk-Nya], tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahaagung (Qs. 2: 255). Laa haula wa laa quwwata illa billaah. “Insya Allah ada jalan,” kata Maher Zain.

Hindari membangun pikiran sempit, hadapkan hati kepada Yang Maha Luas dan Maha Kaya. Jangan ngimak ke telaga gao di Semurup, tapi pandanglah telaga Nabi Muhammad saw. di akhirat. Yakinkan hati, karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (Qs. 94: 5-6). Hayati doa nabi Ayub as. (Qs. 38: 41), dan curhatlah kepada Yang Maha Mendengar dan Maha Penolong. Berdoalah dari hati yang terdalam seperti doa yang sering dimohonkan Nabi saw. (Qs. 2: 201).

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku (Qs. 2: 186). Pastinya seraya bertakwa dan bertawakal kepada al-Wakiil. Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu (Qs. 65: 2-3).

Seandai ada di antara Kayo yang membaca tulisan ini yang memerlukan penjelasan asmaul husna, kalbu, doa, zikir, dan dalil yang lebih tepat dan rinci, tolong niang (gayulah) Kayo tuwek langsung buya-buya terdekat. Sebab penulis bukan buya, dan di sini cuma sekilas gambaran dari yang pernah penulis dengar (banyak kemungkinan keliru). Dan sebagai uhang ngan baagamo sudah menjadi kewajiban kito untuk terus mengaji sekaligus berupaya meresapi dan mengamalkannya, tanpa mengenal usia.

Dua poin yang juga jangan lupa digenggam pada bagian ini: Satu, fisik (lahiriah; materi) sering menjadi alasan atau motif bunuh diri, namun pemicu atau persoalan mendasarnya tetap psikologis (batin; hati). Quzman yang telah mengucap syahadat dan ikut berjuang di medan perang, tapi hatinya belum begitu yakin kepada Yang Maha Benar. Quzman yang disangka bakal meraih surga dengan kepahlawanannya membantai banyak orang musyrik, ternyata malah memilih bunuh diri yang tegas dilarang oleh Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.

 

Fisik yang bagus tidak otomatis berarti punya psikis yang sehat. Fisik yang cacat belum tentu psikisnya juga lumpuh. Kaya dan miskin, terkenal dan terkucil, direktur atau tukang sapu, jenderal atau hansip, presiden maupun pengangguran, semuanya itu sama-sama bukan jaminan untuk terbebas dari rasa sakit psikologis. Selayaknya ekspresi orang yang hendak bunuh diri bisa beragam (menangis, berteriak, diam, tenang, dll), tapi tidak dengan hatinya.

 

Dua, mengikuti sejumlah pendapat, dari bermacam rasa sakit psikologis ada satu rasa sakit yang lebih mendalam dan mendasari rasa sakit lainnya, sekaligus yang bisa membuatnya tak tertahankan. Yakni hampa/terasing dari arti dan tujuan hidup sebenarnya. Atau belum mengenal dan mencintai Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan tidak merindukan perjumpaan dengan-Nya di akhirat nanti. Meminjam istilah Letto dalam lagu Permintaan Hati, mungkin boleh disingkat dengan “teraniaya sunyi”.

 

Dalam bahasa para buya: “Lemah iman” (Qs. 2: 165, 3: 31, dan 18: 110). Sebagaimana kata Imam al-Ghazali, bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya hanyalah dengan mengenal Allah swt., Yang Maha Mendamaikan. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram (Qs. 13: 28).

 

 

# Sebuah pengantar

 

Dari segi keilmuan, apa yang telah dicubo diparago di muko tentang bunuh diri hanya sebagian kecil pandangan dalam psikologi. Yang sedikit itu masih umum dan kasar. Dan tulisan yang panjangnya tidak sentau palahah ini pun tak luput dari kesalahan atau kekurangan disebabkan berbagai kelemahan penulis (mohon dimaklumi). Sementara topik bunuh diri juga menjadi kupasan panjang dalam bermacam disiplin ilmu lainnya, serta pada tiap bidang ilmu itu terdapat pula beragam teori. Singkatnya, banyak ilmuwan bersepakat bahwa bunuh diri merupakan suatu hal yang kompleks, bahkan misteri, dan mirip penyakit kanker yang sering tak terduga akan menyerang siapa (termasuk penulis dan Kayo).

 

Yang pasti, Islam tegas melarang bunuh diri. Ajal masing-masing manusia telah ditentukan sejak dalam kandungan, dan bila jadwal ‘mudik’ itu tiba maka tidak bisa diganggu gugat. Soal kapan dan di mana maut akan menghampiri merupakan rahasia Yang Maha Menetapkan, dan seperti kata para ilmuwan tadi, adalah misteri bagi manusia (kecuali bagi para hamba pilihan-Nya). Sebab itu, yang harus diusahakan adalah kesiapan dan keadaan diri dalam menyambut kedatangan ajal yang bisa kapan saja (kemungkinan kematian manusia selalu ada setiap saat sejak sebelum ia dilahirkan). Terus berupaya mendekat kepada Yang Maha Mengenal, Maha Baik, dan Maha Menentukan. Pasrah memohon keridhaan-Nya. Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu (Qs. 4: 29).

 

Serta, setelah membaca tulisan ini, kata “mengintip” di depan tolong jangan Kayo artikan dengan menggosipkan para saudara kito yang pernah mencoba bunuh diri, atau pun yang selama ini sudah almarhum/almarhumah di Kerinci. Kanti kito yang pernah mencoba, dan keluarga para mendiang, sudah memiliki rasa sakit tersendiri yang mestinya justru dibantu meringankan. Arti dan maksud ‘mengintip’ pada judul tulisan ini adalah ngimak ke dalam diri sendiri (introspeksi). Semoga dihindarkan oleh Yang Maha Melindungi dari berbagai ketidaksiapan, termasuk ‘posisi’ yang diambil Quzman, saat waktunya tiba mendah malaikat maut.

 

“Bila Izrail datang memanggil, jasad terbujur di pembaringan/ seluruh tubuh akan menggigil, sekujur badan kan kedinginan/ tak ada lagi gunanya harta, kawan karib sanak saudara/ jikalau ada amal di dunia, itulah hanya pembela kita” (qasidah Selimut Putih yang dinyanyikan ulang Fadly Padi). Usaha busamo ‘memagari’ diri, keluarga dan masyarakat harus lebih kokoh di samping memagari gao.

 

Tak ubahnya sabda Nabi Muhammad saw. sekembali dari Perang Badar (13 Maret 624 M). Kala itu, menurut sebagian ulama, Nabi saw. mengungkap tentang pertempuran yang lebih besar, yakni “pertempuran melawan hawa nafsu di dalam diri masing-masing.” Atau, dalam hadis yang lain: “Jihad yang paling utama adalah seseorang berjuang melawan diri dan hawa nafsunya.” Masing-masing kito setiap hari harus terus ‘bertempur’ untuk mengendalikan diri beserta keinginan dan hasrat sendiri.

 

Bagi Kayo yang sudah pernah mengalami (menyadari) bagaimana rasanya keperihan hati, mungkin bisa lebih mengerti betapa sulit dan beratnya mengendalikan diri. Karenanya, niat lillaahita’ala mesti diupayakan menjadi kunci setiap gerak/upaya. Seperti kata Shneidman di depan, rasa sakit psikologis bersumber dari frustrasi “kebutuhan psikologis” yang khas pada masing-masing orang. Dan, bunuh diri mungkin boleh dibilang salah satu bentuk “kanker kalbu”. (Tentang tindak bunuh diri sebagai misalnya strategi dalam peperangan, tolong lihat fatwa MUI). Wallahu a’lam.

***

 

“Siapa gerangan yang membantuku mengendalikan diri dari kesalahan, sebagaimana liarnya kuda dapat terkendali dengan tali kekang …. aku mohon ampun kepada Allah dari berkata tanpa berbuat” (al-Bushiri, Shalawat Burdah). Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal maula wa ni’man nashiir.

 

 

 

Abdullah Umar

There are no comments yet

    ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful