Perkembangan Seni Tari dan Seni Musik Kerinci Oleh: Eri Sasmita,S.Hum dan BJ.Rio Temenggung Tuo

Untuk mengenal lebih dekat seni dan Kebudayaan masyarakat Suku Kerinci yang mendiami lembah alam Kerinci ( Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci, Penulis Bj Rio Temenggung Tuo dan Eri Sasmita,S.Hum selama 5 hari mengamati kegiatan penampilan atraksi seni dan dan Kebudayaa Suku Kerinci di Lokasi Festival Masyarakat Peduli Danau Kerincike 14 di kawasan wisata Danau Kerinci, hasil pengamatan, wawancara dengan sejumlah tokoh seniman dan catatan literatur di rangkum dalam artikel ini

1.Seni Tari di lingkungan Masyarakat Suku Kerinci: > Menurut asalnya pertumbuhan seni tari yang terdapat di daerah Kerinci merupakan tarian tradisional, tarian ini sebagai warisan budaya nenek moyang dilandasi oleh corak–corak tradisi yang hidup dan berkembang sesuai dengan semangat zamannya.

Tarian tradisional daerah Kerinci pada pokoknya berasal dari tarian primitif yang berkaitan dengan upacara pemujaan dari suatu tradisi megalitik. Bentuk tari umumnya sederhana memiliki kesatuan gerak dengan sifat kejiwaan, pada klimaks tertentu membuat penari kesurupan (trance).

Gerakan yang terkandung dalam tarian Kerinci meniru gerakan Harimau, elang, monyet, dan sebagainya. Ada juga bentuk gerakan meniru aktivitas manusia seperti bercocok tanam, rumah tangga dan persembahan (pemujaan). Tarian tradisional daerah Kerinci merupakan tari rakyat, milik masyarakat itu sendiri yang tidak diketahui siapa penciptanya.

Satu ciri khas tari daerah Kerinci terletak pada gerakan kaki dengan gerak berkeliling, yang mana langgam ini disebut rentak purba.Tari–tari tradisional daerah Kerinci sesuai menurut fungsinya masing– masing sebagai berikut, adalah : Tari Asyeak, Tari Iyo–Iyo, Tari Tauh, Tari Tolak Bala, Tari Mandi Balimau, Tari Ngagah Harimau.Seni Tari Kreasi, Punawo Satai, Bahumo,Palaho Janem ,Leik nue, Sike, Tari Penyambutan, Yadahdan, Canang, Nyadap Enau,Puti Dayang Indah,Tari Minta Hujan,Tari Ayak,Tari Keris ,Mandi Balimau, Sekapur Sirih, Serengkuh Dayung,Tari negak umah,Tari Turun Kesawah,tari Pukat, Tari sayak.

Asal usul perkembangan seni tari (wawancara: Azhar,Mj ,Azrefli Nurdin,S.Pd dan Harun Nahri:2013) yang terdapat di alam Kerinci berakar dari tarian tradisional yang dilakukan oleh masyarakat suku Kerinci purba atau disebut dengan tarian klasik yang merupakan warisan budaya masa lampau

Kesenian tari tersebut pada pokoknya berakar dari tarian purba yang berkaitan dengan ritual pemujaan terhadap roh roh pada tradisi megalitik pada masa lampau. Bentuk tarian pada umumnya sangat sederhana dan bersahaja memiliki kesatuan gerak dengan sifat kejiwaan, pada puncak klimak tertentu membuat para penari berada dibawah alam sadar/ kesurupan (trance)

Pada dasarnya tarian asli masyarakat suku Kerinci berasal dari tarian masa purba dan merupakan tari rakyat alam Kerinci yang dilakukan secara turun temurun,tarian itu memiliki langgam ciri khas khusus yang terletak pada gerakan kaki.

Tarian tersebut mencerminkan corak tradisi masa purba yang meniru pola gerakkan fauna seperti harimau,elang, siaman,ular sawa.dll.

Tarian asli masyarakat suku Kerinci yang sudah ada pada zaman purba sebagian diantaranya saat ini masih bertahan dan sebagian besar telah mengalami penyesuaian dengan tanpa mengurangi nilai nilai mistik dan supra natural. Tarian purba yang masih bertahan pada era modern tersebut antara lain adalah:

1.Tari Marcok merupakan sebuah tarian yang berkembang di Alam Kerinci bagian tengah,tarian ini merupakan puncak dari rangakaian acara ritual Asyek(Asyik)

2.Tari Tauh,tarian ini dilaksanakan pada acara kenduri Sko atau pada acara kenduri sudah tuai,tarian ini masih bertahan di wilayah Kecamatan Gunung Raya

3.Tari iyo iyo, tarian ini dipertunjukkan pada saat rangkaian acara kenduri sko,penobatan pemangku adat dan ninik mamak

4.Tari ngagah harimau, tarian ngagah harimau merupakan sebuah tarian supranatural yang melakukan kontak dengan satwa Harimau (disebut juga dengan panggilan Ninek tunggou matang) kontak dengan harimau dilakukan secara ghaib melalui pemanggilan terhadap roh

5.Tari Tolak bala,sebuah tarian yang berhubungan dengan ritual tolak bala.

Penampilan tarian ini bernuansa mistik dan supra natural.sehingga pementasannya dilakukan hanya pada waktu acara tertentu,disamping tarian yang tersebut diatas di alam Kerinci masih terdapat puluhan tarian tradisi yang diwaris secara turun temurun dari zaman purba, tarian tersebut antara lain ialah tari rentak purba seperti tari minta lamat,tari mandi di taman.dll.

Tarian yang berkarakter gembira juga terdapat pada tari rangguk, tari rangguk ayak, tari ya dahdan dan tari rentak kudo.Dewasa ini dialam kerinci juga berkembang tarian bernafaskan agama islam antara lain sikea rebana,marhabban dan kasidah, seni ini merupakan perpaduan gerak local Kerinci yang dipengaruhi tradisi kebudayaan arab (Islam).

2.Tarian Tradisi suku Kerinci

Masyarakat suku Kerinci memiliki beragam tarian tradisi megalitik yang menganut kepercayaan purba animisme dan dinamisme dan mengandung nilai nilai ritual yang bersifat magis dan masih menganut kepercayaan kepada roh roh nenek moyang

Para peneliti kebudayaan menyebutkan bahwa suku Kerinci merupakan salah satu suku terkecil di dunia yang memiliki peninggalan tarian tradisi yang telah lahir dan tumbuh sejak zaman purba, diantara tarian tradisi tersebut ialah tari asyek

Masyarakat daerah Kerinci menyebutnya dengan tari Asyek, Asik atau Asaik. Kata Asyek berasal dari kata asik. Jenis tari Asyek ini adalah salah satu tari tradisi yang dulunya digunakan sebagai tari dalam upacara yang berkaitan dengan pemujaan roh-roh nenek moyang dan memiliki unsur magis.

Tari Asyek memiliki bermacam-macam jenisnya sesuai dengan tujuan upacara yang dilakukan. Jenis tari Asyek yang masih berkembang saat ini adalah tari Niti Naik Mahligai, Mahligai Kaco, Tolak Bala, Gagah Harimau, Mandi Taman, Mintak Lamat,  Mandi malimau dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di desa Siulak Mukai Tengah hingga saat ini masih dapat disaksikan tarian tradisi “Tari Niti Naik Mahligai” sebuah tarian purba yang berfungsi sebagai media untuk penyampaian hajat dan maksud dan bersifat magis

Menurut Eva Bram (2006) saat ini yang menjadi seorang pawang tari Niti Naik Mahligai, menjelaskan bahwa tarian ini berasal dari kata niti artinya berjalan di atas suatu benda, naik artinya menuju sesuatu yang tertinggi dan mahligai adalah tahta atau istana.

Tari Niti Naik mahligai menurut Eva Bramantika memiliki makna tarian yang dilakukan secara khusuk untuk mencapai sebuah tujuan yaitu memperoleh tahta atau istana dan tarian ini dimasa lalu digunakan dalam upacara pemujaan yaitu upacara adat penobatan gelar adat bilan salih.

Bilan salih adalah gelar adat yang di sandang oleh anak batino (kaum perempuan) yang bertugas untuk mendampingi tugas pemangku adat yang menyandang gelar sko, yang terdiri dari: Depati, Ninik Mamak, dan Anak Jantan yang disandang oleh kaum laki-laki

Upacara penobatan bilan salih, merupakan upacara yang dilakukan oleh masyarakat Siulak Mukai Tengah secara turun-temurun yang disebut dengan upacara Naik Mahligai.

Pada zaman dahulu tarian ini memiliki fungsi sebagai : (1) sarana komunikasi kepada roh nenek moyang; (2) sarana komunikasi kepada masyarakat; (3)sarana penyembuhan; (4)sarana pengungkapan rasa syukur; dan (5) sebagai sarana pengikat solidaritas masyarakat setempat khususnya antar penyandang gelar adat.

Perlahan sesuai dengan perkembangan zaman dan masuknya agama Islam dan meningkatnya tingkat pendidikan di alam Kerinci yang berdampak pada pemahaman dan perubahan pola pikir, upacara ini mulai ditingkalkan oleh masyarakat adat di alam Kerinci

Dampak dari penyebaran agama Islam dan kemajuan pendidikan masyarakat di alam Kerinci tradisi tarian ini mengalami perubahan fungsi dan penyajiannya .

Para seniman dan budayawan menyebutkan bahwa pada hakekatnya karya seni itu harus berkembang sejalan dengan arus perubahan zaman.

Perubahan bentuk dan penyajian tari Niti Naik Mahligai di lakukan oleh masyarakat pendukung tari ini, mereka menata tari ini sedikit demi sedikit.

Secara keseluruhan tari Niti Naik Mahligai, masih memiliki bentuk penyajian yang sederhana, seperti gerak, musik, pola lantai, property, tata rias dan tata busana.Kesederhanaan bentuk penyajian tari ini merupakan ciri khas yang dimiliki tari tradisional kerakyatan pada umumnya.

Selain itu, tari ini memiliki keunikan dari tari-tarian yang berkembang di Indonesia saat ini, yaitu adanya atraksi yang menantang dan berbahaya. Pada saat dimulai atraksi, saat inilah para penari mulai dirasuki roh-roh nenek moyang yang mereka percayai mendatangkan kekuatan yang melebihi kekuatan manusia. Sehingga, para penari tidak sadarkan diri atau trance, selama atraksi berlangsung.

Selama ritual tarian ini berlansung dilakukan berbagai atraksi yang menegangkan dan mencekam yang mengundang decak kagum, diantara atraksi yang dilakukan oleh para penari yang lemah gemulai itu ialah, Penari melakukan atraksi Niti Gunung Kaco yaitu penari menari diatas pecahan kaca, Atraksi Niti Gunung Tlo(telur) beberapa orang penari berjalan diatas mangkuk mangkuk kecil yang berisikan telur dan telur yang di injak oleh kaki kaki sang penari tidak retak dan tidak pecah disamping itu penari berjalan diatas pohon pisang yang direbahkan dan diatas pohon pisang rebah diletakkan telur telur dan telur yang di pijak oleh kaki kaki penari pun tidak pecah

Atraksi berikutnya Niti Gunung Tajam, para penari dengan gemulai berjalan sambil meliuk liuk kan tubuh menari diatas bambu bambu yang telah di runcing tajam dan menari nari diatas paku paku tajam yang telah di tata

Sebuah atraksi yang membuat jantung berdetak kencang ialah atraksi Niti Gunung Pedam,dalam atraksi ini penari berjalan meniti pedang yang runcing dan tajam selanjutnya atraksi Niti Gunung Daun yakni penari menari diatas daun kelor atau seorang penari sambil menari diangkat dengan sehelai kertas karton dan kertas tersebut tidak robek.

Sebuah atraksi terakhir yang sangat menegangkan ialah Niti Laut Api pada atraksi tarian ini para penari penari menari nari   diatas bara api yang membara ,dan kaki kaki para penari tak satu orang pun yang mengalami luka bakar

Keseluruhan atraksi tersebut menurut sang pawang memiliki maksud dan makna tersendiri. Selain itu, sebelum melaksanakan pertunjukan para penari diwajibkan untuk melakukan ritual yaitu berupa persembahan terhadap nenek moyang dengan harapan agar para penari penari mendapat perlindungan dan diharapkan pertunjukan dapat berjalan dengan lancar

Di samping, atraksi yang unik, para penari tari Niti Naik Mahligai menggunakan kostum tari yang unik juga yaitu pakaian adat suku Kerinci yang berwarna hitam dengan hiasan sulaman benang warna kuning pada dada

Sedangkan untuk hiasan kepalanya menggunakan kuluk atau sungkun yang berwarna hitam dan dihiasi dengan manik-manik dan bunga sebagai penghias. Para penari menggunakan kain sebagai bawahan yang biasa di sebut dengan tahhap, kain yang digunakan adalah kain songket yang berwarna merah. Tentunya kostum yang digukan semuanya memiliki makna simbolis.

A.Tari Asyeik dan Tolak Bala

Tari asyeik dan tolak bala merupakan sebuah tarian purba yang telah tumbuh sejak zaman purba, tarian ini telah ada saat nenek moyang suku Kerinci menganut kepercayaan animism, dinamisme dan tarian ini merupakan sebuah tradisi megalitik yang masih menganut kepercayaan kepada roh roh nenek moyang masyarakat pada masa prasejarah.

Perlengkapan tarian ini sesajian berupa nasi putih, lepat,nasi kuning,nasi hitam,lemang,bunga tujuh warna, warna sembilan,limau tujuh macam, telur ayam rebus, benang tiga warna, sedangkan peralatan yang digunakan antara lain arai pinang,keris, kain tenunan kerinci,cembung putih,piring putih,dalam sesajian harus disedikan satu ekor ayam hitam atau ayam putih, ayam panggang dan kelapa tumbuh.

Acara tari Asyek dilakukan pada malam hari mulai pukul 20.00 Wib hingga dini hari (pukul 04.30) dengan ritual yang dilakukan beberapa episode yakni acara nyerau atau nyaho, masouk bumoi,mujoi gureu, naek tango,mintoak berkeh dan mageih sajin.

Ritual Asyek pada masa lampau berlansung selama satu minggu,berbagai persiapan dilakukanoleh dukun atau bilan salih ,orang yang berobat (keluarganya).

Upacara selama satu minggu disebut”Marcok”pada tingkatan proses akhir roh roh nenek moyang akan memasuki sukma pengunjung atau orang yang berobat,saat roh roh nenek moyang memasuki jiwa tubuh mereka menjadi ringan mereka dapat memanjat batang bambu,menari diatas pecahan kaca.

Tradisi upacara tari asyek di daerah Kecamatan Siulak ,menurut budayawan Azhar,Mj dilengkapi dengan sarana alat alat musik tradisional seperti rebana,gong,seruling bambu,dan di daerah Kecamatan Siulak Kabupaten Kerinci tari asyek memiliki keberagaman, antara lain asyeik niti mahligai, asyeik mandi di taman, asyek ngayun luci, asyeik baparang,asyeik mahligai kaco dan asyeik nyabung,walau memiliki berbagai pola dan perbedaan akan tetapi kebudayaan ini berasal dari satu akar rumpun kebudayaan tradisional megalitik.

Penyebaran tarian asyek ini berkembang di kawasan masyarakat adat Tigo Luhah Tanah Sekudung Kecamatan Siulak, Masyarakat Tigo Luhah Semurup, masyarakat persekutuan adat Kubang dan wilayah Desa Semerah dan Pondok Beringin Kecamatan Sitinjau Laut Kabupaten Kerinci termasuk di dusun dusun di Kota Sungai Penuh

Tolak Bala pada masa silam dilakukan saat terjadi wabah penyakit yang menyerang sebuah neghoi (negeri) yang mengakibatkan banyaknya korban yang meninggal dunia, ternak dan tanaman padi banyak yang mati. Penyebaran upacara tolak bala tersebar diwilayah Tanah Sekudung Kecamatan Siulak Wilayah Tigo luhah Semurup dan di wilayah Cupak Kecamatan Danau Kerinci

Dimasa lalu upacara ini disesuaikan dengan ico pakai namun tujuan upacara ini tetap sama.Saat ini acara asyeik tidak lagi dijadikan sebagai acara pemujaan atau persembahan terhadap roh roh nenek moyang,akan tetapi telah dikreasikan menjadi seni tari pertunjukan untuk memperkaya khasanah kebudayaan Alam Kerinci.

B.Tari Iyo-Iyo

Tarian ini merupakan tarian missal yang dilaksanakan pada saat kenduri Sko (pusaka) pengangkatan /pemberian gelar adat (Rio, Depati, Mangku, Datuk, dan sebagainya) kepada anak jantan yang dipilih oleh anak batino dari suatu suku/pintu/luhah.

Disamping itu, tarian ini juga dipertunjukkan pada saat setelah panen raya padi di sawah atau penyambutan tamu agung negeri yang berkunjung ke alam Kerinci.

Tari iyo-iyo dibawakan oleh anak batino (perempuan) dengan gerakan yang sangat gemulai diiringi dengan tale (lagu) dan bunyi gong.

Pembukaan tari Iyo-iyo diawali dengan atraksi pencak silat yang disaksikan oleh sesepuh/tetua adat serta para undangan lainnya.

Tarian ini dilaksanakan anak negeri sebagai ucapan kegembiraan atas pengangkatan pemimpin adat mereka. alat musik yang digunakan pada tari iyo-iyo ini, antara lain :Gumbe/Gembe ( Gendang Bambu) dibuar dari bahan baku seruas bambu  yang sudah tua dan sudah kering.

Kulitnya kira-kira selebar dua jari dikupas dan dilubangi sebelah ujungnya, sedang yang sudah dikupas itu di buang kiri dan kanannya sedikit, sehingga bisa di pukul dan berbunyi nyaring.

Disamping dibuat senarnya dari kulit bambu itu juga, yang di cukil kira-kira sebesar setengah kelingking, sebanyak dua buah. Senar ini di pasak dengan kayu kecil, sehingga senar itu terangkat ke atas.

Alat pemukul senar ini adalah jari telunjuk dan jari tengah, sedangkan pemukul lidah yang telah di kupas tadi menggunakan ibu jari,cara memakainya di letakkan di atas paha sambil duduk.

Alat ini sekarang sudah punah, namun kemudian telah di gali kembali dan telah berfungsi kembali. Alat ini gunanya hanya untuk ritme, bukan untuk melodi. Bunyi senarnya mendengung dan bunyi lidahnya agak lembab.

Alat musik lain yang di gunakan ialah gong dan gendang melayu, gong merupakan salah satu alat musik yang di gunakan saat tari iyo – iyo . Gong  terbuari dari tembaga,cara memainkan gong ini adalah di pukul.

Gendang Melayu juga termasuk salah satu alat musik dari tari iyo-iyo.  Gendang melayu terbuat dari kayu dan kulit. Pada sat tari iyo-iyo gendang kayu ini diperlukan dua buah, yaitu disatukan dalam bentuk berdampingan, cara memainkan nya adalah dipukul. Sedangkan Syair lagu/nyannyiannya ialah:

Iyo-iyo rilok tarai kayo sadou rinai iyo-iyo-iyo

Iyo-iyo rayun jaroilah saludeang jateuh iyo-iyo-iyo

Iyo-iyo rantok kakai kudea dibularoi iyo-iyo-iyo

Iyo-iyo semauk tapijeak rideak ralah matai iyo-iyo-iyo

Tari iyo-iyo dibawakan oleh kaum wanita dengan cara berpasangan bisa berjumlah 6 orang bisa juga lebih sesuai dengan kebutuhan. Jumlah pemusik 3 orang terdiri dari 2 orang memainkan gendang dan 1 orang memainkan gong.    Kostum yang di gunakan, pada mulanya masyarakat memakai baju biasal, yaitu baju kurung, sarung, dan tapu. Tetapi sesuai dengan perkembangan zaman, mereka sudah memakai baju adat kerinci.

C.Pencak Silat

Pencak Silat meruapakan salah satu seni olah raga bela diri yang dilakkukan oleh 2-3 orang hulubalang, pada umumnya Pencak silat dilakukan oleh dua orang pria tangguh yang menggunakan sebilah pedang.

Para pesilat mengadu ketrampilan dalam mempermainkan pedang (senjata tajam), biasanya dilaksanakan pada saat penobatan para calon Pemangku Adat yang terdiri Depati dan Permenti di lakukan oleh tetua adat yang di tunjuk. Depati yakni orang yang memenggal putus, memakan habis dan membunuh mati. Keputusan Kaum adat (Depati) adalah keputusan yang tertinggi dan tidak dapat diganggu gugat.

D.Tari Tauh

Tarian ini merupakan tarian khas daerah Lekuk 50 Tumbi Lempur Kecamatan Gunung Raya,biasanya dilaksanakan pada saat ada perayaan perayaan Kenduri Sko dan penyambutan tamu.

Tarian ini dibawakan laki laki dan perempuan (berpasang pasangan)sering dilakukan sambil berdiri dan diiringi dengan musik rebana, gong dan nyanyian klasik yang disebut mantun yang mengisahkan kehidupan masyarakat   desa, percintaan, adat istiadat dan lain lain.

Para penari memakai busana khas Lempur berwarna hitam atau coklat serta memakai tutup hiasan perak.Tari tauh sering kali dipertunjukan dilapangan terbuka namun ada juga di dalam ruangan hal itu sesuai dengan waktu dan ruangan acara.

Pemakaian kostum dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat acara yang sedang berlansung, dan pada saat acara acara yang berhubungan dengan acara adat lazimnya menggunakan kostum adat atau bagi perempuan dapat menggunakan baju kurung,bagi pria dapat menggunakan kostum pencak silat, semuanya tergantung pada situasi yang tengah terjadi, dan secara umum para penari dapat menggunakan kostum sehari hari dan tidak terikat, akan tetapi semestinya di sesuaikan dengan situasi dan kondisi

Pada acara kenduri adat atau pada saat kedatangan tamu kehormatan,lazimnya para penari menggunakan kostum khusus yakni memakai baju beludru hitam atau coklat dengan hiasan kepala Kuluk, tisu (agar mudah di pasang), kecipung (biasa dipakai istri raja), peribut (untuk dayang-dayang raja).

Selain itu juga menggunakan selendang merah yang bermakna keberanian,rok penari wanita dinamakan tanjung beremas. Makna dari kostum tersebut : berjiwa luhur, berlapang dada.

Kesimpulan dialog bersama maestro Tari Tauh Lempur Kecamatan Gunung Raya disimpulkan bahwa kata Tauh dalam tarian ini bermakna ‘ta’ berarti tarap dan ‘uh’ berarti jauh. Jadi, tauh adalah singkatan dari tarap jauh.

Tarap artinya memanggil, mengajak atau meminta seseorang untuk ikut bersamanya. Apabila dalam suatu keramaian di sebuah acara di desa, maka tauh itu berarti mengajak seseorang untuk ikut bernari.
Menari disini bukanlah menari secara berdekatan, tapi menari dengan jarak kira-kira 3 atau 4 langkah secara berpasangan. Mulai saat itulah tauh berarti menarap dari jauh dan mengajak menari secara berjauhan.

Pengertian yang lebih luas lagi tauh adalah mengajak orang lain untuk menari bersama-sama dengan menggunakan jarak, sehingga diantara penari itu tidak saling bersentuhan.

Jadi, arti tauh di desa itu adalah menari bersama-sama atau berpasangan. mari bertauh maksudnya mari menari. Tari tauh hanya ada di kecamatan Gunung Raya, desa Lempur khususnya. Selain di desa ini di desa lainpun juga sudah berkembang, namun asal tari ini konon berkembang di desa Lempur.

Tari tauh termasuk tari pergaulan, tidak saja dipertunjukkan oleh muda-mudi, tetapi juga yang tua-tua, misalnya dalam acara keramaian kenduri sko, maka yang menari adalah tua-muda, laki-laki perempuan, bahkan kaum manula juga ikut menari berpasangan membawakan tari tauh ini. Pasangannnya tidak terikat muda-mudi saja, tetapi boleh juga lelaki saja atau wanita saja.

Dalam tradisi tari Tauh sang Maestro menyenandungkan Mantau, lazimnya Mantau digunakan untuk penyambutan tamu kehormatan.Mantau merupakan pantun pantun/syair syair berima yang di lantunkan pada saat melakukan tarian tauh.

Tarian ini lazimnya di gelar pada saat acara kenduri adat/kenduri pusaka , atau di pertunjukkan pada saat adanya keramaian kunjungan pejabat dan dapat di pertunjukkan pada saat gotong royong beselang/dan atau menuai padi dan tari tradisional Tauh merupakan sarana hiburan masyarakat dan dapat dimanfaatkan sebagai wahana untuk menjalin kasih diantara dua hati yang berpadu

Sebagai pengiring tari ini adalah berupa alat tabuhan dan vokal. Alat tabuhannya adalah dua buah rebana besar yang disebut dap dan sebuah gong. Yang menabuh dap adalah laki-laki, dan yang menabuh gong biasanya seorang perempuan.

Vokal disebut mantau, artinya memanggil dengan suara yang lengking dan lantang oleh seorag wanita atau juga saling bersahutan antara laki-laki dan perempuan. Vokal yang juga disebut seni suara atau nyanyi berisikan pantun-pantun. Ada pantun muda-mudi, pantun nasib dan lain-lain. Irama dari pada mantau tersebut adalah :

Pemuda :

Cubo-cubo klasik julai

Mak tantu padi dengan gento

Cubo-cuo usik dengan kami

Mak tantu budi dengan baso

Pemudi :

Apo di arap padi jerami

Padi idak gento idak ado

Kacang remang jauh sekali

Apo di arap pada kami

Budi idak basi idak ado

Padoman jauh sekali

 

 

E.Tari Naik Mahligai

Naik mahligai adalah suatu acara puncak penobatan secara gaib. Pada seseorang yang memiliki ilmu kesaktian atau kesaktian yang tinggi dan telah memenuhi syarat dan untuk mencapai sangkak tujuh.

Dalam penobatan ini akan dilaksanakan upacara menurut tokoh dan jenjang selama tujuh hari dan tujuh malam,dimana orang tersebut terlebih dahulu diuji kesaktiannya seperti meniti mangkuk diatas telur,meniti diatas duri atau paku dan lain-lain.Setelah ujian ini terlewati, maka pemimpin tersebut diperkenankan untuk menaiki mahligai.

F.Tari Tolak Bala

Tari asyik ini merupakan puncak dari rangkaian acara ritual tolak bala,sebelum acara ritual ini dilaksanakan terlebih dahulu dilaksanakan beberapa rangkaian kegiatan antara lain melaksanakan kegiatan membersihkan lingkungan di dusun

Puncak aktifitas kegiatan ini dengan melakukan kegiatan pengasapan rumah dengan asap api kemenyan dan ritual membuang alat alat ritual upacara dengan cara menghanyutkan di sungai terdekat.

Upacara ini dipimpin oleh 6 (enam) orang belian (pawang), keenam belian ini mempunyai fungsi dan tugas masing-masing, namun demikian ada salah satu pawang yaitu belian tua laki-laki yang ditunjuk sebagai pemimpin dari keenam belian ini, sesuai dengan tingkat kekuatan supranaturalnya.

G.Tari Ngagah Harimau

Tarian ini telah berkembamg sejak paruh abad ke 18,Tarian ini bertujuan untuk menghormati harimau tetapi menurut kepercayaan orang Pulau Tengah harimau tersebut dinamai “nenek”. Pada waktu lampau ketika seekor harimau mati di ladang oleh masyarakat hal ini dipercaya membawa keberuntungan, jadi dibuatlah suatu upacara untuk mengagah harimau yang maksudnya agar jiwa atau roh harimau tadi kembali dan hidup ke dunia lain

Selama menarikan tarian ini yang biasanya ditarikan oleh wanita muda yang mengenakan kostum menyerupai harimau dan setiap gerakan tari ini tangannya membuka seakan-akan ingin menerkam mangsa.

Selama tarian ini berlangsung selalu diiringi dengan lagu untuk memanggil harimau dan diasapi dengan kemenyan. Pada tarian ini juga para penontonnya secara spontan bergerak dan bergabung dengan penari layaknya seekor harimau yang memperebutkan mangsa.

H.Lukah dan Ambung Gilo

Tradisi tua suku Kerinci tidak bisa dilepaskan dari kepercayaan animisme yang dulu tumbuh dan berkembang di seantero alam Kerinci termasuk Lukah dan ambung Gilo.

Lukah dan ambung Gilo merupakan sebuah boneka yang dibuat dari rotan yang dihiasi menyerupai manusia. Masyarakat di desa desa menggunakan lukah sebagai sarana untuk menangkap ikan sedangkan ambung merupakan alat (wadah)alat mengangkut barang yang dihiasi dengan pakaian yang menyerupai boneka manusia yang dapat bergerak sendiri dan dimasa lalu digunakan sebagai media untuk berkomunikasi dengan sang pencipta dan roh para leluhur

Lukah gilo akan semakin menggila dan-bergerak tak beraturan kekiri dan kekanan mengikuti sang pawang dan gerak semakin lama semakin cepat

Seiring dengan perjalanan waktu lukah gilo sebagai kesenian nyentrik dan merupakan sarana hiburan rakyat yang ditampilkan pada acara kenduri sko dan pada acara acara budaya yang di balut untus magis

dalam kontek seni dan kebudayaan lukah gilo merupakan sebuh pertunjukan yang unik dan merupakan bagian dari ragam budaya masyarakat suku Kerinci

Lukah gilo merupakan permainan/kesenian tradisional masyarakat Kerinci yang dilakukan oleh beberapa orang dalam suasana gembira.

Lukah gilo merupakan permainan yang amat menarik untuk diikuti, karena permainan-ini mengandung unsur magic, dimana lukah (sejenis alat penangkap ikan) dapat memberikan kekuatan yang luar biasa sehingga orang yang melakukan kegiatan ini seolah-olah tidak sanggup meng-hentikan gerakan lukah tersebut.

Dalam permainan ini penonton dilibatkan langsung untuk mencoba mengendalikan Lukah tersebut.

I.Tari Persembahan

Gerak gerik tari tradisi Kerinci tergambar dalam tari ini seperti tari iyo-iyo, tari tauh, tari asyiek, tari mandi taman dan lain-lain.

Dengan penuh rasa hormat dan dengan keramahan para penari dan segenap anak jantan dan anak batino yang ada di dalam luhah dengan suka cita menyambut kedatangan tamu.

Pepatah, petitih dari para depati serta persembahan sirih nan sekapur, rokok nan sebatang yang menyatakan keikhlasan dan ketulusan masyarakat Kerinci menerima tamu dalam arti kata putih kapas dapat dilihat putih hati berkenyataan

Para penari dengan gemulai dan riang hati menari nari, dan sepasang remaja secara perlahan dengan carano di tangan berjalan kedepan menghadap tamu agung seraya mempersilahkan tamu agung untuk mengambil sirih yang sekapur yang ada di dalam carano

 

J.Kesenian Seruling Bambu

Kesenian suling bambu tergolong alat musik masyarakat yang ada di alam Kerinci, sarana /media alat-alat musiknya masih tradisional yaitu berupa suling, tambur, gendang dan gong.

Pengamatan di wilayah adat nenek limo dan nenek empat Hiang, wilayah adat tanah sekudung Siulak da di wilayah adat Depati Nan Bertujuh terlihat beberapa orang pengembala memainkan seruling bambu sambil mengawasi hewan ternak yang di gembalakan.

Beberapa tahun terakhir jumlah pengembala yang memanfaatkan waktu di padang pengembalaan dengan meniup seruling semain jauh berkurang.

Biasanya dimainkan oleh sekelompok orang dan memainkan lagu-lagu kerinci. Belum diketahui secarapasti asal usul music seruling bamboo,kesenian seruling bambumemili kesamaan dengan alat music seruling yang berada di tanah Batak-Sumatera Utara

  1. Maduamo tarian tradisi suku Kerinci

Tari tradisi suku Kerinci yang popoler di sebut tari Maduamo merupakan sebuah tarian purba sisa peninggalan zaman megalitic yang saat itu nenek moyang suku Kerinci masih menganut kepercayaan dinamisme dan animisme

Sebelum ritual tari maduamo ini dilaksanakan para penari harus melakukan upacara ritual nyaho untuk menyeru (memanggil) roh roh arwah nenek moyang dengan sebuah pengharapan agar kegiatan tradisi yang dipertunjukkan ini dapat berjalan lancar dan para penari dapat menghadapi tantangan tantangan yang membahayakan

Setelah ritual nyaho dilaksanakan, maka roh roh (arwah) nenek moyang akan memasuki jiwa /sukma para penari termasuk mereka yang memiliki hajat pada acara ritual ini, pada umumnya upacara ritual maduamo ini dilaksanakan sebagai sebuah rangkaian pengobatan secara tradisional

Manakala roh roh nenek moyang telah memasuki sukma, tubuh para penari akan menjadi ringan dan mereka para penari dengan gemulai menari diatas pecahan kaca piring,keramik dan dapat menghadapi benda benda tajam yang berada di hadapan para penari

Tradisi Madu amo hingga saat masih tumbuh dan berkembang di dusun dusun(desa) tradisional di alam Kerinci

L.Tari Asyek Ngayun Luci

Tari Asyiek Ayun Luci merupakan sebuah tarian mengandung unsur magic. Tarian ini menunjukkan rasa syukur atas rahmat yang diberikan oleh Sang pencipta atas mulai keluarnya isi padi yang ditanam disawah.

Selain itu tarian ini bertujuan pula untuk menolak bala terhadap serangan hama penyakit seperti serangan hama tikus, burung dan hama babi yang mengganggu tanaman kecil-kecil yang berisi sesajian yang digantungkan ke Luci besar yang juga berisi sesajian. Pawang membacakan mantera sambil mengayunkan luci-luci yang bergantungan.

Para penari, menari-nari mengelilingi Luci sambil sesekali memercikkan air bunga cina, semakin lama gerakannya semakin kencang sesuai dengan tempo musik.

Seiring dengan itu penari akan mengalami trance (tidak sadarkan diri), kemudian para penari akan diobati oleh pawang begitulah sampai seterusnya sampai pawang menyatakan bahwa hajat sudah tersampaikan.

M.Tari Bigea Rbeah

Sebagai bagian dari masyarakat Suku Kerinci yang mendiami puncak Andalas Sumatera, masyarakat Kota Sungai Penuh memiliki beradam seni musik dan tarian daerah. Diantara tarian yang berkembang di wilayah Kota Sungai Penuh adalah tari Bigea Rbeah.

Bigea atau Bigau adalah sejenis tumbuhan semak yang hidup di dalam air terutama di daerah rawa rawa/areal persawahan yang tidak di garap.

Tanaman ini secara turun temurun telah dimanfaatkan oleh masyarakat suku Kerinci sebagai bahan utama anyaman.Tanaman ini tingginya sekitar 1,5 sampai 2 meter, Jika dihembus angin tanaman bigau ini meliuk liuk menurut irama hembusan angin.

Liuk kan tanaman ini ibarat seorang gadis yang sedang menari. Dari gerakkan bigau (bigea) inilah seniman mendapatkan inspirasi untuk menciptakan tari Bigea Rbeah.

Pada awalnya tarian ini dibawakan oleh wanita wanita yang telah memasuki manula dan tarian ini dilakukan petani di sawah pada saat beristirahat setelah melaksanakan aktifitas menyiangi atau saat panen ,akan tetapi belakangan ini tari Bigea Rbeah dibawakan oleh anak anak gadis dan perempuan dewasa ,dan tak jarang tarian ini juga digelar pada acara kenduri pusaka atau pada saat acara penyambutan tamu.

N.Tari Ntak Kudo

Tarian ini ini berasal dari Hamparan Besar Tanah Rawang yang pada zaman dahulu hanya ditampilkan pada acara-acara kebesaran tertentu saja dan berbau magic yang gerak langkahnya berasal dari gerak silat dibawakan secara beramai-ramai, serta diiringi oleh musik perkusi (gendang) bertujuan untuk menghidupkan gerakan tari sehingga lebih asyik.

Daya tarik tari ini mampu memikat penonton untuk ikut serta menari dan berdendang, tarian ini mulai berkembang diperkirakan pada tahun 1970. Sejak beberapa tahun terakhir tari rentak kudo semakin populer hingga menembus batas alam Kerinci

3.Seni tari kreasi baru

Seperti daerah lainnya di nusantara, alam Kerinci memiliki berbagai atraksi seni dan kebudayaan baik yang dilakukan secara turun temurun maupun kesenian kreasi baru yang diciptakan dan dikreasikan oleh para seniman

Penciptaan tarian kreasi baru ini telah dimulai sejak decade tahun 1960 an yang dipelopori oleh seniman dan budayawan yang aktif padazamannya, tercatat beberapa tokoh seniman pencipta tari kreasi baru alam Kerinci masing masing H.Norewan.BA. H.Furisyah,Iskandar Zakaria, Fahmi Efendi,Harun Nahri,Rohati dan pada era tahun 1990 an alam Kerinci memiliki koreografer/penata tari kreasi yakni Azrefli Nurdin,S.Pd, Cik Buyuang, Adra Nimires,S.Sn,M.Si

Tarian alam Kerinci yang telah di kreasi barukan itu telah dipertunjukkan pada beberapa kali pagelaran di dalam dan di luar negeri, catatan yang telah dapat dihimpun saat ini terdapat puluhan tari kreasi baru

Sejumlah tinggalan seni dan kebudayaan suku Kerinci yakni seni tari tradisional yang masih tumbuh dan berkembang diantaranya adalah tari rangguk, tari tauh, tari asyik, tari asyik ayun luci, tari asyik naik niti mahligai, tari asyik nyabung, asyik nyambai,asyik ngurak anata, asyik mandi taman, asyik tulak bala,asyik mahligai kaco, Iyo Yo,tari sembah, tari ngagah harimau,tari Yadahdan, Ratib Seman

Sedangkan upacara tradisional yang masih dapat dijumpai hingga saat ini antara lain ialah ,kenduri sko,ngasap neghi,tulak bla,ayun luci,naik mahligai,andin,turun Ke sawah, kenduri ulu taun,kenduri padi,kenduri sudah tuai,kenduri kepalo air,kenduri gembalo padang,ajun arah, nyubeuk,batandang,ngapak siheih,Llek muntain,tuhaun Kaaye, sunat Rasul,tegeak umah,naik umah,naik haji,mandi balimo,ziarah,kematian,dendo,asyik,mintak hujan,umban Talai,pencak silat,ladang-ladangan,lukah gilo,linung,Perang-perangan

4.Perkembangan seni musik di alam Kerinci

Sebuah dokumen kumpulan 17 Lagu daerah Kerinci yang berjudul Maai Batalea merupakan buku perdana kumpulan lagu lagu Kerinci yang disusun oleh 3 maestro seni musik (talea) Kerinci Semat,Senin Iljas dan Riva”i Haris.

Ketiga orang tokoh musisi tersebut adalah pelopor yang menulis kumpulan lagu lagu Kerinci yang pada periode sebelumya nada dan irama belum pernah di tulis dan di bukukan.

Buku tersebut dicetak untuk pertama kali satu tahun setelah Kabupaten Kerinci menjadi daerah otonum terpisah dari Kabupaten PSK-Propinsi Sumatera barat dan buku tersebut dapat di terbitkan dengan bantuan dan dukungan sepenuhnya dari A.P.R.I,Komandan Sektor I Bn, Inf : B” TT-II Sriwijaya, Pemerintah Daswati II Kerinci,Perwakilan P.P&K Propinsi Djambi untuk Kerintji

Buku perdana tentang lagu Kerinci yang berjudul Maai Batalea mendapat apresiasi dan penghargaan dari Mohd.Noeh Ketua Dewan Pemerintah Daerah Peralihan Daswati II Kerinci, dan buku tersebut mendapat sambutan pengantar R.Sukotjo Martowidjojo selaku perantara Perwakilan Kementerian P.P.&K Propinsi Jambi Kabupaten Kerinci.

Perlahan namun pasti pasca terbentuknya daerah Otonum Kabupaten Kerinci,perkembangan seni musik Kerinci semakin mendapat perhatian yang sungguh sungguh dari Pemerintah, Pada tahun 1962 Kabupaten Kerinci di undang oleh Presiden Republik Indonesia Ir.H.Soekarno ke Jakarta dalam rangka pembukaan ASEAN GAMES.

Pada acara tersebut dipersembahkan Tari Rangguk di hapadan ribuan pengunjung di Istora Senayan, pertunjukkan berikutnya dilaksanakan di Gedung Kesenian pasar baru, dan untuk pertama kali sejak Indonesia Merdeka tim kesenian Kerinci di undang untuk menampilkan kesenian Kerinci di Istana Negara.

Rombongan di pimpin oleh Senin Ilyas,Semat dan Zukri Nawas,diantara seniman muda yang ikut mentas saat itu antara lain ialah Sa’adunir dan Zurhaida Madjid.

Pada tahun 1969 tim Kesenian Kerinci kembali di undang dalam rangka memeriahkan Jakarta fair,tim ini di pimpin oleh Rivai Aris ,tim ini tergabung dengan tim pemerintah Propinsi Jambi.

Tampilnya Kerinci ke pentas nasional telah mengharumkan nama baik Kabupaten Kerinci, keberhasilan ini pula yang mendorong dibentuknya kantor Kebudayaan Kerinci di awal tahun 1960 an,lembaga ini di pimpin oleh Senin Ilyas dan pada saat itu direkrut beberapa orang seniman untuk menjadi pegawai kantor Kebudayaan seperti Rivai Aris,Amiruddin Gusti, Nurisma Soelot dan Iskandar Zakaria

Pada Dekade tahun 70 an dan 80 an (Zurhatmi Ismail:Tanjong Bajure: 2007) merupakan puncak perkembangan musik tradisional di alam Kerinci,hal ini disebabkan pemerintah Kabupaten Kerinci pada masa itu memberikan perhatian yang sungguh sungguh dalam mengangkat dan mengembangkan kesenian rakyat,berbagai lomba,festifal dan pagelaran seni pada saat itu memiliki intensitas kegiatan yang sangat menggemberikan.

Iklim dan perhatian yang diberikan oleh Pemerintah Daerah mendorong dan memotivasi para seniman untuk terus berkreasi dalam mengolah kesenian masyarakat di alam Kerinci

Pada dekade tersebut bermunculan berbagai bentuk musik tradisional yang menggunakan instrumen yang telah ada dan sebagian dari para seniman melakukan musik kreasi dengan mengangkat kembali alat musik tradisional yang telah nyaris punah.

Azhar,Mj seorang seniman /musisi alam Kerinci mengangkat musik Mindulahin dari Siulak dengan mengggali dan mentradisikan kembali musik traisional Kerinci dengan memanfaatkan kembali alat musik gendang buluh dan ketuk kayu sebagai alat musik, dan pada tahun tahun berikutnya tumbuh dan berkembang pula kelompok Zikir rebana, dan grup grup seruling bambu di sejumlah dusun dusun di alam Kerinci..

Sesuai dengan perkembangan zaman instrumen musik yang luwes seperti akordeon dan Biola beradaptasi dengan musik tradisional, perkembangan ini merupakan sebuah fenomena tersendiri dalam perkembangan musik di alam Kerinci, pada masa itu sejumlah orkes orkes berkembang di alam Kerinci, para musisi memadukan alat musik modren seperti biola dan akordeon dengan alat musik perkusi seperti gong, drum set,rapano,ketipung

Di Penghujung tahun 1970 an geliat musik di alam Kerinci semakin semarak, beberapa lagu Kerinci masuk dapur rekaman dengan diawali sang pionir Mahasiswa Kerinci di Bandung Propinsi Jawa Barat, Pada tahun 1977 Ikatan Mahasiswa Kerinci (IMK)-Bandung meluncurkan kaset lagu Kerinci dengan produksi terbatas.

Keberanian Mahasiwa Kerinci di Bandung yang di dukung sejumlah tokoh tokoh HKK di Propinsi Jawa Barat mendorong Pemerintah Kabupaten Kerinci melalui organisasi Dharma Wanita Kabupaten Kerinci untuk kembali merekam lagu lagu Kerinci, Pada tahun 1978 lagu lagu Kerinci kembali masuk dapur rekaman.

Ibarat kata berjawab-gayung bersambut, seorang seniman Kerinci Atmajar Idris memproduksi albun lagu Kerinci dengan judul album Kanti Batandang Lagu Kerinci kali ini di rekam dengan sponsor Tanama Record.

Sederetan artis artis penyanyi Kerinci yang menyanyikan lagu lagu (Talea) Kerinci pada masa itu hingga saat ini masih dikenang oleh sebagian besar masyarakat di alam Kerinci khususnya di kalangan para seniman dan budayawan di alam Kerinci, beberapa orang penyanyi legendaris yang mempelopori perkembangan musik alam Kerinci diantaranya ialah Atmajar Idris,Muchtar Hadist,Edi Sinir, Nasrul Jas, Sobrina,Itmawati,Ermasni Rais,dan Jalidar.

Semangat untuk merekam lagu lagu (talea) Kerinci hingga saat ini menjadi dorongan bagi bagi para artis dan pencipta lagu untuk melakukan rekaman lagu ,saat ini hampir di setiap Kecamatan di alam Kerinci berlomba lomba merekan lagu lagu tradisional Kerinci, dan lagu lagu kreasi baru yang diciptakan para musisi musik dan sejumlah artis penyanyi.

Catatan yang dihimpun menyebutkan daerah Kerinci tengah( Kota Sungai Penuh) dan Kerinci Mudik (Siulak,Air Hangat) merupakan kelompok masyarakat yang rajin melakukan rekaman lagu lagu Kerinci.

Kehadiran para musisi dan artis dalam menggali,menciptakan dan mengangkat seni musik tempo dulu dan seni musik kreasi memperkaya khasanah lagu Kerinci, secara tidak lansung mendorong masyarakat untuk terus berpartispasi dalam melestarikan nilai nilai lagu tradisi masyarakat di alam Kerinci

Pada awal tahun 1980 an sejumlah lagu lagu khas masyarakat di alam Kerinci semakin melejit dan populer dikalangan masyarakat di alam Kerinci dan di luar alam Kerinci, sejumlah lagu lagu seperti lagu Hujan Rintek,Tung Gayut, Mandiki, Kasih Idak Putuih,Kamai Bujaleang, Dalideu dan Uhang Jauh

Sejumlah penyanyi pendatang baru pada dekade tahun 1980 an banyak bermumculan dalam blantika musik lagu daerah, diantara para artis penyanyi itu tercatat nama Azizah dari Keluru,Elly Muis dari Semurup, Asril Koto dari Sungai Penuh,Marjuta,Wardanis,Ermilawati, dan Lis Helma dari daerah Siulak.

Seiring dengan perkembangan musik alam Kerinci pada masa itu telah lahir gurup Band milik pribadi untuk menyalurkan bakat seni dan lahan bisnis baru, grup grup band ini ikut membidani lahirnya para musisi dan artis artis lagu daerah , diantara Band yang popoler dan memiliki fans yang besar ialah Conserto band milik Mantri Zainal,Andrea Band,Dasira Band Sungai Penuh, Mario Band di Semurup, Kanti Band dan Family Band di Siulak

Sedangkan di daerah Kubang dan sekitarnya berkembang musik gitar akustik tunggal, mereka menamakan jenis musik ini”Musik Klasik Kerinci” dengan gaya paralel antara penyanyi dan musik pengiring.

Pada berikutnya bermunculan lagu lagu Kerinci kreasi baru dalam berbagai warna dan bentuk,Komposi lagu yang di ciptakan tidak terpaku pada pengulangan tema saja seperti bentuk lagu tradisional akan tetapi para musisi telah berani membuat kontras lagu

Demikian juga dengan komposisi syair syair lagu,para musisi dan pencipta lagu sudah banyak yang menulis syair lagu dalam bentuk yang lebih bebas,dan beberapa diantaranya masih cenderung terikat dengan bentuk pantun.

Dusun dusun(desa) yang paling menonjol dalam usaha merekam lagu diantaranya ialah sejumlah desa desa di daerah Siulak,Kubang dan sekitarya, Koto Majidi dan sekitarnya,Sungai Penuh,Keluru dan sekitarnya.

Para penggiat dan musisi lagu daerah yang giat dalam menciptakan dan merekam lagu lagu daerah alam Kerinci tercatat nama Muchtar Hadist,Atmajar, Oesul, Amrie,Rapudin, Sa’adunir, dan Irmansyah,para musisi tersebut pada umumnya saat itu menggunakan aranger studio.dapur rekaman di Kota Padang-Sumatera Barat.

Selain penggiat/musisi tersebut terdapat nama Nurbaity, Zurhatmi Ismail,Suparman Harun, Azhar,Mj, Syafui Manaf,Rustam Syukur yang aktif berkarya sepanjang hidupnya.

Sedangkan musisi muda potensial yang telah mengabdikan diri untuk dunia seni musik tercatat ,Mayri Hardi, Ir.Jamsol Mesra(alm) Zulyendri Soeloet(alm)Syaiful,H.Otma Rosya,SE, Dasni Yatim, dan generasi berikutnya Tony Syahminan,Monalisa,Yuli Zainal, Ujang Perancis,Andy Krinchie, Madala, Popy Susanti,Onex Arel,Fendi,MD,Juanda Albe

Dan pada paruh tahun 2000 an munculnya artis musik dan produk rekaman VCD Lagu lagu Kerinci tidak lepas dari peran dapur rekaman Solfegio Studi Sungai Penuh dan peran musisi Antoni Pasaribu.

Khusus untuk lagu lagu yang di produksi oleh Pemerintah Kabupaten Kerinci musik pengiringnya di kerjakan oleh Riva’i Aris atau Irmansyah,. Hinggar Binggar Band di alam Kerinci mulai redup seiring dengan masuknya jenis instrumen baru yang akrab disebut Phenomena Organ Tunggal yang tidak membutuhkan personil yang banyak dan lebih praktis dalam mengiringi penyanyi,penyesuaian tangga nada dan memudahkan dalam mengaransir lagu.

Pada tahun 2007 Zurhatmi Ismail Seniman dan musisi alam Kerinci di Jambi dengan dukungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jambi melakukan upaya menyusun buku kumpulan lagu tradisional Kerinci dengan judul buku Tanjon Bajure

Zurhatmi Ismail dengan dukungan sejumlah seniman dan musisi telah mengumpulkan menelaah, menyusun dan menerbitkan buku kumpulan lagu tradisional Kerinci”Tanjon Bajure” yang berisikan 50 lagu lagu tradisional Kerinci.( Erni Sasmita & Bj Rio Temenggung Tuo)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful