Mana Janji Mu Pak Bupati Adirozal?

Berita Kerinci, Kerincitime.co.id – Mana janji mu Pak Bupati Adirozal? Kalimat ini adalah yang paling pas untuk diungkapkan kepada Bupati Kerinci Adirozal saat ini, sebab sangat banyak janji yang diucapnya saat kampanye mau jadi bupati dulu tidak terbukti.

“mana janji mu pak Bupati Kerinci Adirozal? Ini pertanyaan yang lebih pas saat ini, saya mungkin adalah salah satu dari puluhan warga kerinci yang mempertanyakan hal ini” ungkap tokoh pemuda kerinci Maulana kepada kerincitime.co.id.

Dijelaskannya semua kita dan masyarakat kerinci tahu apa saja janji yang pernah diucapkan adirozal saat kampanye dulu, 229.495  Masyarakat Kerinci menunggu Janji Adzan, Setelah Mahkamah Konstitusi (MK) menetapkan pasangan Adirozal-Zainal Abidin (ADZAN) sebagai kandidat yang memperoleh suara terbanyak dalam Pemilukada Kerinci setelah sebelumnya dilakukan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di dua kecamatan, Siulak Mukai dan Sitinjau Laut Kamis, 23 Januari 2014.

Adirozal-Zainal terbukti mendapat dukungan paling besar dalam pilkada kerinci, dan adzan wajar meraih mandat dari rakyat sebagai Bupati Kerinci dan Wakil Bupati Kerinci untuk memimpin 5 tahun ke depan.

Namun paling terpenting adalah bagaimana adzan mampu membuktikan janjinya kepada ratusan ribu masyarakat kerinci, sebab mampu bmenang dalam pilkada kerinci bukan akhir dari permainan politiknya.

Berbagai persoalan besar telah menunggu sang pemimpin pilihan rakyat Kerinci itu untuk segera ditangani dan diselesaikan dengan baik. Rakyat Kerinci tentunya berharap akan ada perubahan yang signifikan yang dilakukan oleh pemimpin yang lahir dari proses demokrasi itu. Melalui janji-janji politiknya yang diorasikan selama masa kampanye, yang semuanya terdengar indah dan menjanjikan, Adirozal mampu meraih simpati dan dukungan publik secara signifikan, dengan total suara 47.934. Janji-janji politik Adzan yang terdengar merdu di telinga rakyat, telah memberikan inspirasi dan motivasi bagi rakyat Kerinci untuk berbenah dan segera bangkit dari keterpurukan.

Masyarakat sepertinya tak sabar melihat perubahan-perubahan yang dijanjikan Adzan dalam kampanye politiknya. Dengan ekspektasi yang besar, masyarakat Kerinci menunggu janji-janji politik itu segera dilunasi oleh mantan Wakil Walikota Padang Panjang, Sumatera Barat itu. Masyarakat Kerinci tak ingin janji manis kampanye hanya sebatas pemanis bibir (lips service) atau janji kosong untuk meraih simpati dan dukungan politik saja.

Saat ini, sebagai pemimpin pilihan rakyat, Adzan (Adirozal-Zainal) bukan lagi milik golongan tertentu saja. Sekarang ia telah menjadi milik masyarakat Kerinci secara keseluruhan. Adzan bukan milik Siulak dan juga bukan milik Koto Iman. Mereka juga bukan milik partai-partai pengusung. Sebuah kata bijak dari Abraham Lincoln, ketika ia terpilih menjadi Presiden ke-16 Amerika Serikat dari Partai Republik pada tahun 1860, kiranya masih relevan untuk kita jadikan renungan dan inspirasi saat ini.

Abraham Lincoln mengatakan, “My loyalty to my party ends, where my loyalty to my country begins.”(terjemahan bebasnya: kesetiaanku pada negeriku melebihi kesetiaanku kepada partaiku). Dalam bahasa sederhana, ketika seseorang telah mendapat amanah untuk menjadi pemimpin, ia harus menghilangkan segala atribut yang dapat menjadi sekat baginya dalam memimpin rakyat banyak yang terdiri dari berbagai lapisan dan kelas sosial, seperti atribut partai, kedaerahan, sukuisme, dan lain sebagainya.
Dan, yang lebih penting lagi untuk dipahami, Adzan bukan lagi milik tim sukses atau tim pemenangannya sendiri. Sekarang, Adzan adalah milik seluruh rakyat Kerinci secara keseluruhan. Mereka tidak boleh mengutamakan kepentingan golongan tertentu saja. Saat ini, mereka berkewajiban memperhatikan kepentingan masyarakat Kerinci secara keseluruhan. Dengan kata lain, mereka harus mampu mengatasi segala golongan, segala daerah, dan segala kepentingan.

Pepatah Belanda mengatakan, “Memimpin adalah jalan menderita.” Ia bukan jalan pintas mencari kaya. Pemimpin itu adalah orang yang kesepian. “Kesepian”, artinya tidak punya “teman”, tidak punya “anak”, tidak punya “istri”, tidak punya “saudara”, tidak punya “keponakan”, tidak punya “konco”, dan sebagainya. Oleh karenanya, alangkah aneh yang terjadi di banyak tempat di negara kita, ketika seseorang diberi amanah untuk memimpin, anak, istri, dan keluarga-keluarganya ikut-ikutan memimpin dan “ngatur-ngatur proyek” dan ikut “mengobok-obok” jabatan orang lain, yang saat ini dikenal dengan istilah “nepotisme”. Padahal, kepemimpinan itu diperoleh dari amanah yang diberikan oleh masyarakat luas. Ia harus dipertanggungjawabkan di hadapan publik sebagai pemberi mandat dan kepada Sang Khalik di akhirat kelak. Oleh karena itu, haruslah dipahami oleh publik, menjadi pemimpin bukanlah jalan pintas untuk medapatkan segala fasilitas dan berleha-leha di dalam istana megah dengan penuh kemewahan. Bukan juga sebatas lalu-lalang dengan arogan menggunakan mobil bersirene dan berplat merah milik negara di tengah masyarakat yang sedang kesusahan. Pemimpin itu harus mampu mendengar keluhan dan denyut nadi rakyatnya. Ia harus turun langsung ke tengah-tengah masyarakat untuk melihat, mendengar, dan mengetahui jerit kesusahan dan keluh-kesah rakyatnya.

Masyarakat berharap, pasangan Adzan tidak menjadi pemimpin bagi daerahnya sendiri dan tidak menjadi pemimpin yang lupa akan janjinya. Masyarakat juga berharap pasangan Adzan tidak menjadi pemimpin yang berjiwa “daerahisme” dan “sukuisme”. Karena, pemimpin yang berjiwa sukuisme tidak akan pernah membuat kebijakan yang bermanfaat untuk masyarakat secara luas. Ia lebih memilih memajukan daerahnya saja. Ia tidak bisa berdiri di atas semua daerah, semua golongan, dan semua suku yang ada di Kabupaten Kerinci. Ikatan persaudaraan masyarakat Kerinci yang terjalin erat selama ini bisa tercabik-cabik jika unsur-unsur “daerahisme”, “sukuisme” dan “tim suksesisme” yang ditonjolkan. Masyarakat akan menjadi terkotak-kotak. Tentu, masyarakat Kerinci tak berharap hal seperti itu.
Oleh karena itu, kontrol sosial (social control) dari masyarakat luas juga tetap dibutuhkan dalam mengawal kepemimpinan Adzan ke depan. Karena, secara filosofis, seseorang itu tidak mungkin selalu benar. Ia butuh kritikan, masukan, dan sekaligus juga solusi untuk mengatasi berbagai persoalan. Jika dalam kepemimpinannya, Adzan tidak mampu melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, sebagaimana yang ia janjikan, maka mimpi untuk membuat Kerinci lebih baik akan menjadi sebatas mimpi indah dan angan-angan kosong belaka. Sebaliknya, jika Adzan mampu melunasi “janji-janji politik”-nya, kita yakin mereka akan tetap mendapat simpati dan dukungan politik dari masyarakat luas. Mampukah Adzan melunasi janji-janji politiknya? Kita tunggu saja. (ang)

 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Apa Komentar Anda Tentang Artikel Ini?

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful