Antara Asa dan Realita Perpolitikan Oleh : Indra Mustika
Monuver Politik sudah semakin Terasa di Kota Sungai Penuh, berbagai aksi dan reaksi menjadi Respon Kongkrit kaum elite politik, namun yang menarik untuk dipertanyakan adalah, apakah rakyat mampu menyaring informasi mana kebenaran dan kemunafikan?
Politik memang sangat menarik untuk diperbincangkan, bagi politisi politik menjadi sebuah candu, jika moment sudah datang wacana politikpun menerjang, berbagai tempat politik menjadi tema diskusi terutama pada malam ditempat warung kopi jajanan. Subtansi politik dalam buku Prof. Faisal Ismail Komunikasi Politik, bahwa politik merupakan arus perebutan kekuasaan dan Prof. Faisal juga mengatakan bahwa Politik seperti teater yang menutupi ketokohannya sendiri demi bermain peran yang bisa menarik perhatian.
Keteateran perpolitikan di kota Sungai Penuh semakin menampakan aktor yang akan bermain, berbagai topeng dipasang dan berbagai kesan dimunculkan demi sebuah pencitraan diantara kepastian dengan kesamaran, diantara kebenaran dengan kemunafikan, masyarakat yang menjadi sasaran mobilitas dalam mendogkrak elaktabitas calon walikota, bagi masyarakat informasi politik tidak sering membuat kebingungan, bingung melihat dinamika politik yang masih dalam kesamaran, samar melihat siapa kandidat yang memang benar-benar ingin mensejahterakan rakyatnya, contohnya peran media cetak dalam mensosialisasikan kandidat cawalko, demi memberikan kepastian, media dituntut untuk lebih profesional dan proporsional dalam menginformasikan berita agar masyarakat mendapat berita yang benar tampa memberi ruang unsur diskriminatif dalam pemberitaan, namun media juga sarat akan kepentingan seyogyanya bisa memposisikan dalam zona kenetralan agar media memang betul-betul menjadi instrumen informasi yang mencerdaskan dan aktual, seperti hal yang dikatakan Oleh Derry ef Greyy Seorang Jurnalis Amerika Serikat megatakan media informasi haruslah menyajikan berita yang sebenarnya dan aktual pemberitaannya.
Direvasi dalam arus perpolitikan mulai saat transisi kekuasaan diperbincangkan bahkan sebelum kekuasaan itu diperebutkan dalam kontek wacana sampai aksi nyata dalam Perwujudan yang diinginkan, berbagai isu politik dimainkan demi membangun pandangan masyarakat, namun tidak sedikit orang yang terpengaruh oleh isu pencitraan tampa melakukan pendekatan kritis sehingga terjadi pergeseran oreantasi.
Isu politik sangat penting dalam membangun pandangan masyarakat, tidak sedikit isu menjadi faktor polemik dan bahkan pergesekan antar masyarakat, salah satu contoh ketika pilkada kabupaten kerinci 2014, karena ada yang tidak terima dengan keputusan MK pada waktu itu akhirnya terjadi bentrok antar tem sukses hal ini berlanjut antar warga, rumah warga ada yang dibakar dan ditambah aksi premanisme politik yang membuat buram wajah politik waktu itu, tentu kejadian seperti ini tidak kita inginkan terjadi lagi, karenanya pemahaman politik harus diluruskan, seharusnya oreantasi politik untuk melindungi dan mensejahterakan rakyat bukan mengorbankan rakyat, kekuasaan harus diletakan dalam kontek wahana membangun masyarakat dan keperpihakan terhadap rakyat, namun itulah kekuasaan yang sarat akan perpecahan dan gesekan, sensitifitas kekuasaan bisa melibatkan siapa saja yang punya kepentingan dan bahkan mengorbankan kepentingan lainnya.
Dalam dinamika politik di kota Sungai penuh berbagai Strategi dalam mengkompayekan kandidat yang ingin dimenangkan dilakukan, baik oleh team Sukses dan tidak ketinggalan masyarakat umum yang punya loyalitas terhadap calon yang ingin diusung, ada yang mengkompanyekan dengan selebaran berisi biografi agar orang mengetahui latar belakang baik jenjang pendidikan, prestasi perjalanan hidupnya dan jabatan serta kekeluargaannya yang diharapkan agar masyarakat menilai dan menaruh simpatinya terhadap calon, kemudian ada juga yang melakukan dengan mengintensifkan sosialisasi didunia maya dan media yang di anggap tepat untuk menyentuh dikalangan atas dan juga kalangan masyarakat lainnya, spanduk dipasang berjejeran dan itulah cara politik diera kekinian, terutama peran media dalam penginformasian, media harus menjadi lembaga yang independen tampa ada pengkondisian dan domestikasi media dari kandidat tertentu.
Dalam percaturan politik berbagai trik dilakukan, ada yang ingin menjatuhkan lawan dengan cara membongkar kejelekan kandidat lain dan ada juga yang melakukan pencitraan di atas buram sejarah kehidupannya kemudian tidak sedikit yang terjebak pada kemunafikan, Jargon-jargon dikumandankan ada yang mengatakan “lanjutkan” ada yang mengatakan “selanjutya”, tentunya dua kata yang memiliki makna yang berbeda Lanjutkan artinya melanjutkan sesuatu yang telah ada untuk terus diadakan, boleh jadi melanjutkan orangnya dan juga bisa melanjutkan pembangunannya. Jika orang yang akan memimpin berbeda dari sebelumnya maka kata ”lanjutkan” Juga tepat, tepatnya melanjutkan pembangunan yang telah ada walaupun orang selanjutnya yang akan memimpin Kota Sungai Penuh, namun kata ‘’Selanjutnya” perspektif Penulis, Untuk pemimpin yang mendatang dalam fase transisi ada orang baru yang memimpin, jika angka 1 maka ada angka 2, jika 1 sudah dihitung maka angka selanjutnya lagi diperhitungkan itulah analoginya. Namun apapun Jargon yang dikumandangkan dan pencitraan yang dilakukan yang terpenting Manusia yang akan memimpin Kota Sungai Penuh adalah orang yang lepas dari simbolis dan jauh dari pencitraan namun dekat dengan nilai kemanusiaan seperti kemanusiaannya sendiri.
Masalah kemanusiaan memang kompleks apalagi 2015 akan ada gerbong besar yang akan terbuka dalam menyalurkan arus Globalisasi terutama Masyarakat Ekonomi Asean bentar lagi akan kita hadapi, Tentunya Pemerintah harus mampu membangun sumber daya manusia selain sumber daya alamnya, ekonomi pasar bebas sudah dimulai, jika pemerintah absen dalam memproteksi dan menjaga entitas kedaerahannya baik aspek ekonomi maupun kultural maka jangan salahkan masyarakat yang mengambil caranya sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya namun hal ini tidak kita inginkan, prosfektif masyarakat walikota yang akan datang harus mampu menyelesaikan masalah sosio-ekonomi.
Prof. Din Syamsudin mengatakan Oreantasi Politik yang sesungguhnya adalah mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Dikota Sungai Penuh masih banyak penggangguran yang sangat amat perlu perhatian pemerintah, kesulitan ekonomi semakin terasa dengan tingginya harga bahan Pokok, inilah peran politik dimana pemimpin harus mampu menangani masalah Sosial saat ini dan mampu menjawab tantangan zaman yang akan datang demi melindungi rakyatnya. Prof. Amean Rais mengatakan dalam buku agenda mendesak Indonesia bahwa Pembangunan daerah akan ada jika pemimpinnya punya tiga Indikator, 1. Komitmen 2. Beretika 3. Sifat Kaderisasian. Walikota Sungai Penuh yang kita harapkan Punya Komitmen Pembangunan, bermoral dan beretika dan punya nilai mangayomi serta bisa dijadikan contoh bagi rakyatnya maka akan terwujud pembangunan yang mampu menyelesaikan berbagai masalah masyarakat.
Potret teateran politik dikota Sungai Penuh harus bisa dipahami oleh rakyat yang akan memilih, Sebuah tearter tentu kita Tahu bagaimana peran yang dimainkan tidak sedikit peran yang dimainkan jauh dari karakter pemain yang sesungguhnya, maka alangkah baik kita mencerdasi Pilihan kita dengan melihat wajah belakang dan wajah depan kandidat yang akan maju di Pilwako, biar kita Tahu mana Pemimpin yang baik dan mana pemimpin yang pura-pura baik.
Pilihan walikota harus cerdas, cerdas melihat orang yang dipilih, cerdas dalam pilihan dan cerdas dalam proses pemilihannya, masyarakat juga harus menjaga kehormatan dan Istiqomah tampa bisa digeser oleh uang, kehormatan bukan saja jabatan yang dibanggakan tapi sesungguhnya prinsip kebenaran yang harus dipertahankan serta kejujuran yang mesti dijalankan, alangkah indah jika pilwako dengan niat baik dilakukan dengan cara yang baik dan Insya Allah pemimpin yang dilahirkan dari Pilwako juga baik, Pilwako Cerdas, Rakyat Berkelas dan Pemimpin Berkualitas untuk kota sungai penuh berkemajuan.
Wassalam.