Masyarakat Alam Kerinci Masih Merindukan Sosok HBA Menjadi Gubernur
Berita Kerinci, Kericitime.co.id – Pesta Demokrasi Pemilihan Gubernur Jambi Periode 2016-2021 sejak beberapa bulan terakhir telah menggema,hingga saat ini ada dua Paslon memastikan untuk berlaga dalam memperebutkan hati rakyat pada Pilgub mendatang Drs.H.Hasan Basri Agus,MM Mantan Gubernur Jambi VS Mantan Bupati Tanjung Jabung Timur H.Zumi Zolla Zulkifli Nurdin,STP,MA.
Secara peta kekuataan politik Drs.H.Hasan Basri Agus,MM merupakan sosok tokoh yang mewakili masyarakat Jambi Wilayah Barat, sementara H.Zumi Zolla berasal dari wilayah timur Propinsi Jambi, secara geopoltik kedua daerah ini sama sama memiliki potensi sumber daya alam dan potensi Sumber daya manusia yang nyaris tidak jauh berbeda, hanya saja Kandidat Incumben Drs.H.Hasan Basri Agus,MM memiliki pengalaman dan jam terbang sebagai aparat birokrat yang jauh lebih tinggi dan telah memiliki pengalaman sebagai Bupati Sarolangun dan saat ini masih menjabat Gubernur Jambi untuk periode pertama,sementara ketokohan Zumi Zolla dikenal sebagai sosok figur yang populer terutama di kalangan anak anak muda.
Penulis,BJ.Rio Temenggung Penerima PIN Emas dan Anugerah Kebudayaan Tingkat Nasional dan penggiat NGO di Propinsi Jambi melalui tulisan ini mencoba untuk menelusuri rekam jejak Bapak Drs.H.Hasan Basri Agus,MM yang dipastikan akan kembali bertarung pada Pemilihan Gubernur Jambi yang Insya Allah akan digelar 9 Desember tahun 2015,hasil wawancara dan pengamatan di lapangan dirangkum dalam tulisan ini.
Sosok Pribadi Drs.H.Hasan Basri Agus,MM yang akrab dipanggil bang HBA ini merupakan pribadi yang memiliki multi Talenta, sebagai seorang anak dusun beliau sangat menghargai nilai nilai kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang ditengah tengah masyarakat desa.
Sebagai muslim HBA merupakan”anak santri “yang mampu menjadi seorang pemimpin bagi masyarakatnya,dan HBA satu satunya Gubernur di Indonesia yang memulai karir Pegawai Negeri Sipil dari golongan paling rendah dalam sistim kepangkatan PNS di Indonesia, dan Beliau adalah anak dusun atau anak petani dusun yang mampu menjadi orang nomor I di Propinsi Jambi.
Sebagai seorang Pemimpin dengan latar belakang pendidikan agama, HBA sangat peduli dengan kegiatan kehidupan umat beragama terutama agama islam yang beliau yakini, dan sejak Propinsi Jambi terbentuk hingga saat ini HBA merupakan sosok yang memiliki kepedulian yang besar terhadap masyarakat suku terasing/Komunitas Adat Terpencil-Suku Anak Dalam yang hidup mengelana di hutan Jambi yang kini kian tak rimbun lagi.
HBA adalah Bupati Pertama dan Gubernur Pertama yang mempelopori pendidikan Khusus bagi suku terasing (KAT) di Indonesia dengan membuat seksi khusus pada Dinas Pendidikan Kabupaten Sarolangun yang khusus menangani masalah pendidikan suku anak dalam, Pada masa HBA lah dua orang tokoh pemimpin tertinggi Suku Anak Dalam dari kawasan TNB 12 di berangkatkan ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji,kedua Tokoh Suku Anak Dalam tersebut masing masing adalah Temenggung birin alias Helmi dan Temenggung Tarib alias Mohd.Jailani.
Selain itu dimasa HBA beberapa bocah-bocah Suku Anak Dalam di kirim magang pe Pondok Pesantren dan mengagkat 1 orang pembina SAD Mu’alaf yang khusus di datangkan dari Pondok Pesantren Tuban Jawa Timur.
Memang masalah suku anak dalam adalah masalah yang spesifik, dan penanganannya juga perlu dilakukan spesifik, terlepas dari pro dan kontra HBA merupakan pemimpin Jambi yang mau peduli dengan nasib dan persoalan masyarakat di kelas akar rumput
Di Sarolangun saat menjadi Bupati, HBA mencanangkan gerakkan Gerunwah, hasilnya masyarakat sudah mulai rajin turun kesawah, di bidang Perkebunan HBA mampu mewujdukan program Replanting Karet, untuk bidang sejarah dan kebudayaan HBA telah mewujudkan keseriusan dalam melakukan upaya mentradisikan kembali budaya yang terdistorsi dan telah berupaya untuk memperkenalkan dan mempromsikan aset sejarah,seni , kebudayaan dan Pariwisata di Propinsi Jambi ke dunia luar.
Gubernur Jambi Drs.H.Hasan Basri Agus,MM dalam pengantarnya pada Buku Senarai Sejarah dan Kebudayaan Suku Kerinci yang telah penulis terbitkan beberapa waktu yang lalu mengemukakan bahwa berdasarkan fakta sejarah kebudayaan Jambi menunjukkan kawasan Bukit Barisan dimana Kerinci terletak merupakan kawasan yang membentang dengan berbagai tinggalan masa prasejarah dalam bentuk dolmen, umpak batu, batu selendrik dan sebagainya.
Tinggalan budaya tersebut menggariskan masa atau zaman batu dikawasan Provinsi Jambi, kendati belum terangkai pertaliannya dengan tinggalan zaman batu di Gua Tiangko Kabupaten Merangin, tapi dua daerah bagian dataran tinggi Provinsi Jambi tersebut terindikasi sebagai kawasan manusia pernah bermukim (sementara karena masih mengembara) atau sudah menetap dalam komunitas yang sangat sederhana.
Menjadi catatan sejarah pula bahwa ditepi Danau Kerinci, ditemukan bejana perunggu yang bentuknya seperti periuk, tetapi langsing dan gepeng. Hiasan ukirannya berupa gambar-gambar geometri dan pilin-pilin yang mirip hurup “J”. Bejana seperti ini ditemukan pula di Hindia Belakang. Masih dari daerah Danau Kerinci, ditemukan pula bagian selubung lengan dari perunggu.Beberapa ahli beranggapan tidak mustahil benda tersebut berhubungan dan dipergunakan sebagai perisai dalam peperangan.
Temuan-temuan diatas telah menggoreskan sejarah kebudayaan Kerinci sudah berada dimasa zaman batu dan zaman logam. Paduan ini terlihat jelas dari goresan dan ukiran di batu-batu selendrik baik berupa lingkaran seperti gong atau bentuk-bentuk manusia kangkang. Kebudayaan perunggu Asia Tenggara dinamakan kebudayaan Dongson yang menurut Vonheine Geldan paling muda berasal dari 300 tahun sebelum masehi.
Rangkaian Senarai sejarah kebudayaan yang juga sejarah manusia Kerinci Jambi merupakan suatu kesatuan yang erat. Secara alamiah, manusia punya batasan usia maka sudah dapat dipastikan kelangsungan kebudayaan itu mengalir kepada orang-orang disekitarnya, kepada anak cucu serta keturunannya, sampailah dimasa kini. Hakekat kebudayaan memang tidaklah statis. Kebudayaan itu berkembang dan bisa mengalami perubahan oleh beberapa faktor baik yang bersifat interen maupun exteren. Bisa terjadi pemudaran oleh faktor alam atau interfensi budaya lain yang kemudian memilin dalam proses interaksi kreatif.
Menurut HBA putra terbaik masyarakat Jambi Wilayah Barat itu Tulisan/aksara incung Kerinci ada kesamaan akar dengan Aksara Batak, Rejang, Bugis dan Jawa kuno yang merupakan interaksi kreatif dari Aksara Palawa India. Naskah Tanjung Tanah Kerinci sebagai naskah melayu tertua ada kaitannya dengan adityawarman keturunan melayu dari Kerajaan Melayu walau dalam naskah tersebut belum terasa pengaruh Islam diabad ke 14 tersebut.
Dengan demikian dari kesejarahan, saya secara pribadi sangat apresiatif sekali atas tulisan dan atau hasil-hasil penelitian dari para peneliti sejak masa kolonial maupun pada saat sekarang ini.Hasil tulisan dan penelitian-penelitian seperti itu merupakan hal yang sangat berharga dalam merangkai sejarah kebudayaan dan peradaban Kerinci maupun Melayu Jambi.
Dalam kontek ini, HBA sangat menghargai buku “Senarai Sejarah Kebudayaan Suku Kerinci” yang disusun penulis Budhi Vrihaspathi Jauhari -ini karena erat kaitannya dengan Program Pemerintah dalam pengembangan Kepariwisataan dan Kebudayaan di Provinsi Jambi yang merupakan salah satu Program Prioritas dari Visi Jambi EMAS 2015.
Menurut Hasan Basri Agus. Kita masih sangat membutuhkan berbagai media informasi dan komunikasi dalam menggali dan memperkenalkan sejarah dan kebudayaan kita secara luas. Setidak-tidaknya dari buku yang di ditulis dan di terbitkan oleh penulis ini, kita dapat memahami keberadaan dan rangkaian kearifan lokal dan sejarah kebudayaan yang kita miliki terutama terhadap kebudayaan yang hidup dan berkembang di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.
HBA itu sangat konsisten dengan apa yang telah beliau katakan, dan HBA sangat mengapresiasi gagasan dan tindakan generasi muda yang mau peduli dengan masalah adat dan kebudayaan masyarakat di Propinsi Jambi,HBA selalu mendorong dan memberi semangat kepada anak anak negerinya untuk mewujudkan karya nyata.
Secara khusus pada saat Penulis menerim PIN Emas/Anugerah kebudayaan tingkat Nasional, HBA memberikan apresiasi yang besar, ditengah tengah kesibukan dinas di Jakarta beliau menyempatkan diri untuk menerima Penulis di Vip Room Mess Pemerintah Propinsi Jambi di Cikini Jakarta,secara pribadi saya menilai Bang HBA pandai menyentuh “hati rakyat” beliau sangat menghargai dan memberikan apresiasi yang sungguh sungguh kepada putra-putri Jambi yang berhasil menorehkan tinta emas dan membawa PIN Emas Pulang ke Jambi, HBA sangat mencintai rakyatnya,rasa cinta dan kasih sayangnya kepada anak anak Jambi yang berpendidikan dan modren juga dilimpahkannya dalam porsi yang sama kepada anak anak pedalaman yang nota bene hidup dalam kondisi tertinggal.
Tulisan diatas bukan bermaksud untuk menyanjung sosok HBA atau mengkultus individukan beliau , akan tetapi dalam konteks kekinian penulis menceritakan dari perspektif pandangan penulis yang pernah membantu beliau dalam memberdayakan masyarakat beliau dari pedalaman TNB 12 Propinsi Jambi termasuk dalam melakukakan upaya untuk membumikan nilai nilai budaya dan mentradisikan kembali tradisi yang telah mengalami distorsi. (Bud)