Perkebunan dan Pabrik Teh Peninggalan Belanda di alam Kerinci
kerincitime.co.id –sungai penuh,Pada masa penjajahan Belanda di bumi alam Kerinci,penderitaan rakyat alam Kerinci sungguh sangat berat, disamping memungut pajak yang mencekik rakyat,Penjajah Belanda diluar batas perikemanusiaan dengan cara paksa memerintahkan rakyat alam Kerinci untuk melakukan kerja paksa, beberapa catatan yang berhasil dihimpun menyebutkan bahwa Belanda dengan kekuasaannya yang besar memerintahkan rakyat untuk kerja paksa dalam membangun sarana transportasi jalan yang menghubungkan Kerinci dengan Padang dan Kerinci dengan Jambi,serta memaksa rakyat untuk membangun sejumlah ruas jalan dialam Kerinci sendiri.
Belanda juga secara paksa memerintahkan rakyat untuk kerja paksa dalam memnggali dan membangun kanal( Sungai Buatan) sepanjang 2 Km untuk menyalurkan air Danau Kerinci ke Batang Merangin, Belanda dengan kekuasaannya memerintahkan seorang Pejuang H Bakri untuk memimpin rakyatr membangun kanaldi danau Kerinci,sedangkan Belanda dengan keras dan kejam mengontrol rakyat bekerja paksa membangun banjir kanal,pekerjaan itu sendiri dilakukan pada tahun 1908,berpuluh puluh orang rakyat Kerinci tewas dalam kerja paksa yang diprakarsai Belanda,penderitaan yang dirasakan sangat berat selain kerja paksa juga pemungutan Pajak yang sangat mencekik dan menciderai nilai nilai manusia dan kemanusiaan rakyat. Sebagai Pejuang Kerinci H.Bakri gelar Depati Simpan Negeri harus turun tangan menghadapi Belanda, dengan tangannya sendiri H.Bakri berhasil menewaskan serdadu serdadu Belanda dan seorang Opsir Belanda, ia pun harus tewas ditembak Belanda dalam kongtak senjata yang tidak seimbang.  Pihak Pemerintah juga merintis Pembangunan Perkenbunan the di alam Kerinci , dan secara Historis awalnya perkebunan Teh yang dikembangkan oleh perusahaan Belanda yaitu NV.HVA( Namlodse Venotchhhaaf Handle Veriniging Amsterdam ) pada tahun1925.Seelumnya usaha pembukaan lahan perkebunan teh dilaksanakan dikawasan kawasan yang sekarang disebut Desa Kebun Baru Kecamatan Gunung Raya. Kebun ini dihentikan penanamannya karena ketersediaan lahan yang kurang memadai,dilain pihak dikawasan ini pada zaman enjajahan Belanda  merupakan kawasan hutan lebat yang merupakan hulu sungai air Lempur yang dimanfaatkan penduduk untuk kebutuhan hidup dan untuk mengairi lahan lahan persawahan masyarakat.
Catatan tulisan (Gema Balitbang :7-1-2012 :7) menyebutkan pada saat itu para pemimpin Adat di Lekuk 50 Tumbi Gunung Raya melarang keras pihak perusahaan Belanda untuk membuka lahan perkebunan di kawasan itu.Dengan pertimbangan yang matang akhirnya pihak Belanda memindahkan area perkebunan teh  dikaki gunung Kerinci yang saat itu disebut dengan wilayah Kayu Aro yang memiliki iklim sejuk /dingin dengan ketinggian 1.400 s/d 1.700 mdpl.
Untuk mengolah   lahan perkebunan teh tersebut, pihak  Belanda mendatangkan para pekerja ( Koeli ) kontrak dari para pekerja pekerbunan yang berada di Pulau Jawa,sebagian besar didatangkan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah..Pada masa selanjutnya setelah kemerdekan Indonesia diraih dan perusahaan Perkebunan di ambil alih oleh Indonesia para pekerja perkebunan dari Pulau Jawa itu tetap menetap di Kayu Aro dan melanjutkan pekerjaan sebagai pekerja di areal perkebunan dan pabrik teh Kayu Aro.
Generasi ke 3 dan ke 4 warga Kerinci ex pekerja yang bekerja di perkebunan ex milik perusahaan Belanda saat ini mereka   secara  emosional  telah menyatu  dengan masyarakat setempat, saat ini  tidak terdapat  perbedaan yang mencolok antara komunitas masyarakat asal  pulau  Jawa dengan orang orang suku Kerinci.
Beberapa  puluh tahun terakhir  telah  terjadi perkawinan  antara keturunan  etnis suku Jawa dengan suku Kerinci, mereka telah beradaptasi dengan penduduk asli alam Kerinci,walaupun demikian secara budaya dan bahasa telah terjadi percampuran kebudayaan termasuk bahasa.dikalangan generasi muda dan terpelajar anak anak Kerinci keturunan Jawa telah hidup menyatu,orang Jawa di Kayu Aro mahir berbahasa Kerinci dan mereka mengerti dengan kebudayaan asli masyarakat suku Kerinci,kehidupan dan suasana tatanan masyarakat di wilayah Kecamatan  Kayu Aro ,Kecamatan Gunung Tujuhi  yang umumnya di dominasi suku Jawa dan penduduk suku Kerinci (asal Siulak ) dan masyarakat Kerinci keturunan Minangkabau ,Batak dan suku suku daerah lain di Nusantara  itu berjalan selaras dan harmonis,dan secara ekonomi masyarakat yang bermukim di wilayah ini jauh lebih baik dibandingkan dengan wilayah wilayah lain.Hal ini mengingat di kawasan ini merupakan kawasan satelit Agro bisnis terdepan di alam Kerinci.
Catatan yang dikutip dari Mededeelingen van het Bureu voor de Besteur van het Buitenbeziitingan Encylopaedea Bureu ( Batavia: NV “Papyrus “, 1915,hlm 67. Mengemukan menurut data pada tahun 1915 jumlah penduduk di alam Kerinci baru berjumlah 59.886 jiwa dengan rincian 16.489 jiwa
Laki laki dan 18.626 jiwa wanita. Dan 24.772 jiwa anak anak.pada waktu itu dusun yang terpadat penduduknya di alam Kernci adalah dusun Semurup 11.719 jiwa.diikuti Sandaran Agung 7.326 jiwa dan dusun Sungai Penuh 6.479 jiwa..
Pada tahun 1912 penduduk alam Kerinci mengalami peningkatan,hal ini disebabkan pada tahun itu Pemerintahan Belanda yang berkuasa di Indonesia mendatangkan orang orang suku Jawa untuk dipekerjakan pada perkebunan teh kayu aro dan perkebunan kopi di Batang Merangin –Tamiai sebagai pekerja /kuli  kontrak.Pada tahun yang sama dan 2 tahun setelah itu jumlah Penduduk di alam Kerinci semakin meningkat,Kerajaan Belanda menempatkan Pegawai pegawainya,pada tahun 1915 tercatat beberapa orang kulit putih dan sekitar 80 orang keturunan Cina,pada tahun 1930 jumlah penduduk terus meningkat,terdapat 161 orang Eropah,974 orang Cina dan 55v orang timur asing lainnya,dan Total jumlah penduduk di alam Kerinci pada tahun 1930 telah mencapai 91.759.jiwa.
Pada era kemerdekaan hingga saat ini antara penduduk Kerinci asal jawa dengan penduduk Kerinci asli dan penduduk penduduk pendatang dari Minangkabau,Sumatera Utara,Sumatera Selatan,Sunda.dll berjalan harmonis,nyaris tidak pernah terjadi gejolak sosial,masyarakat di daerah ini yang heterogen telah melakukan proses  adaptasi yang cukup lama dan didorong oleh sosial kultural mereka melakukan pernikahan eksogami.
Ir.H.Zainal Prayitno pejabat Pusat PTP.N.6 Nusantara ( Mantan Manager PTP.N.6 Kebun Kayu Aro) dan Sulistyo Manager PTP.N.6 Kebun Kayu Aro dalam kesempatan wawaancaranya dengan penulis Budhi Vrihaspathi Jauhari ( November 2011 dan Februari 2012) mengemukakan.secara historis usaha perkebunan Teh Kayu Aro mulai di buka tahun 1925 sampai dengan tahun 1928.pekerja dan dilaksanakan oleh NV. H V A. Bibit tanaman teh mulai ditanah tahun 1929 dan mengingat tanaman teh mulai menghasilkan pucuk pucuk yang berkhawalitas maka pada tahun 1932 Perusahaan NV. H V A ( Namlodse Venotchhaaf Handle Veriniging Amsterdam) mendirikan Pabrik,dan sejak mulai berproduksi kebun teh Kayu Aro menghasilkan jenis Teh hitam ( Orthodoks )
Senada dengan Ir. Zainal Prayitno ,Menejer PTP.N.6 unit usaha kebun Teh Kayu Aro Sulistyo mengemukakan  berdasarkan PP.No.19 tahun 1959 perkebunan Teh milik Belanda dilakukan Nasionalisasi dan diambil alih oleh Pemerintah  Republik Indonesia.Status organisasi manajemen usaha perkebunan The  Kayu Aro telah mengalami beberapa kali perubahan sesuai dengan keadaan yang berlaku saat itu. Pada tahun 1959- 1962 unit produksi dikelola  PN.Aneka Tanaman VI.Tahun 1963-1973 kebun Kayu Aro bagian dari PNP Wilayah I Sumatera Utara. Dan mulai 1 Agustus 1974 menjadi salah satu kebun dari PTP VIII yang berkedudukan di Medan Sumatera Utara.Pada tahun 1996 Seluruh PTP yang ada di Indonesia diadakan Konsolidasi,bekas PTP.VIII dan PTP Lainnya yang ada di Jambi dan Sumatera barat menjadi PTP,Nusantara 6 (Persero).
Saat ini HGU kebun teh Kayu Aro yang berada dikawasan Bedeng VIII memiliki sertifikat HGU nomor 2 tanggal 08 Mei2002  memiliki total luas lahan tanaman produktif seluas 2.624,69 Hektar dan luas lahan yang belum dan tidak ditanami seluas 389.91Hektar meliputi areal pembibitan 6,85 Hektar,hutan,jurang dan kuburan 220 Hektar,Emplasment/bngunan 106,13 Hektar,Jalan dan Jembatan 56,93 Hektar. Dengan demikian total luas Hak Guna Usaha yang dikelola PTP.N.6 Kebun Kayu Aro seluas 3.014,60 Hektar..
Sampai  dengan  tahun  2011 – 2012  hasil Produksi the kebun kayu aro mencapai 6.087.940 Kg teh kering pada tahun 2011, dan saat ini mengingat tanaman teh yang telah tua tengah dilakukan replating ( Peremajaan)  total  nilai  Produksi  mengalami  penururan ,  dan tahun 2011  total nilai produksi mencapai 5.703.625  Kg   teh  kering    jenis  orthodox dipasarkan di Negara Eropa Barat dan Eropa Timur, Negara Rusia dan Negara –negara pecahan Rusia serta Negara Timur Tengah.
Sulistyo menyebutkan, sampai Januari 2012 PTP.N.6 Kebun Kayu telah memproduksikan the kering CTC disamping mempertahankan  teh kering/jadi orthodox The hasil proksi kebun Kayu aro di eksport melalui Pelabuhan eksport Via Pelabuhan Belawan,sedangkan Pelabuhan Teluk Bayur-Sumatera Barat adalah gudang Transit dan Pelabuhan eksport via Tanjung Periuk.Untuk penjualan Exsport dan Lokal lansung ditangani oleh Kantor Direksi PTP Nusantara 6 melalui kantor pemasaran bersama (KPB) Jakarta dengan menggunakan Sistim Lelang contoh (auction).    Sebagian besar tanaman teh yang ada di kebun kayu aro rata rata telah berusia cukup tua dan secara bertahap mulai tahun 2011 hingga tahun 2015 dilakukan peremajaan (Replating) dengan melakukan penanaman baru disetiap afedeling dilingkungan PTP.Nusantara 6 Kebun Kayu Aro. Selama 5 tahun telah diprogramkan untuk melakukan Replating seluas 1.707,66 Hektar.
Usaha perkebunan Teh yang dikelola oleh PTP.Nusantara 6 unit usaha Kayu Aro secara nasinal telah memnyumbang Devisa bgi Negara, akan tetapi dilain pihak pihak perusahaan PTP.N6 juga telah memberikan konstribusi berupa dana segar kepa dan da Pemerintah Propinsi Jambi dan Pemerintah ait,PKB dan asuransi,Pajak pertambahan nilai (PPN) dan PPH badan sesuai dengan keuntungn Perusahaan.
Untuk menunjang program Pembangunan sub sektor Pariwisata di Propinsi Jambi khususnya pengembangan industry wisata di alam Kerinci,pihak perusahaan ikut berperan dengan menjadikan perkebunan dan pabrik pengolahan teh yang ada di dalam kawasan unit usaha Kayu aro sebagai kawasan agro wisata dan wisata sejarah. Khusus untuk peminat wisata sejarah dapat secara lansung mengunjungi Pabrik yang beraksitektur peninggalan Belanda dan industry pengolahan the Kayu Aro.
PTP.Nusantara 6 Kebun Kayu Aro telah membangun fasilitas rekreasi bernuansa alami “Aroma Peo “ditengah tengah lokasi perkebunan the dengan melengkapi sarana prasarana wisata alam,dan dari kawasan wisata ini pengunjung dapat menyaksikan indahnya panorama alam Gunung Kerinci(3.805.mdpl ) yang menjulang tinggi dengan awan awan putih yang berarak rapi,jika cuaca baik pengunjung dapat menyaksikan Gunung Kerinci secara utuh pada pukul 9.00 pagi hingga siang hari,akan tetapi jika cuaca mendung dan hujan Gunung Kerinci ditutupi awan.Gunung Kerinci merupakan salah satu Gunung tertinggi di Pulau Sumatera yang belum pernah marah,sejak zaman Sejarah hingga saat ini Gunung Kerinci masih terlihat bersahabat dengan lingkungannya,sayangnya beberapa oknum perambah hutan dan oknum petani dengan nekat merambah kaki gunung hingga beberapa meter ke arah pinggang Gunung Kerinci.
Gunung Kerinci beberapa kali sempat demam,dan bila ia batuk gunung  menimbulkan Gempa Vulkanik  mengeluarkan percikkan api dan hembusan debu vulkanik yang dapat merusak tanaman sayur mayur milik petani.Keindahan alam di kawasan Gunung Kerinci memang indah dan sungguh menawan,para wisatawan yang mengunjungi kawasan ini selain dapat menyaksikan hamparan daun the bak permadani Hijau terhampar luas sasayup mata memandang dan mulai dari Siulak Deras hingga ke kawasan wisata Telun Berasap perbatasan dengan Sumatera Barat dapat menyaksikan pepohonan casiavera yang berbaaris rapi dan kemilauan pucuk pucuk casiavera yang memerah saga
Oleh:Budhi Vrihaspathi Jauhari