Perkembangan Islam di Alam Kerinci

Perkembangan Islam di Alam Kerinci
Oleh:Budhi Vrihaspathi Jauhari
A.Pulau Tengah Pusat Dakwah Islam
Pada akhir abad ke 17 atau awal abad ke 18 di kawasan Pulau Tengah (Kerinci Hilir) terkenal seorang ulama terkemuka Syech Kuat ( Syekh Qulhu), beliau merupakan salah satu diantara tokoh ulama pertama di Alam Kerinci bahagian hilir yang melakukan dakwah penyempurnaan ajaran agama Islam dan meluruskan aqidah umat Islam yang belum sempurna di daerah Keliling Danau dan alam Kerinci pada umumnya.
Pulau Tengah Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci pada awal perkembangan Islam telah menunjukkan perkembangan yang sangat pesat, dan pada para abad ke 16 Dusun Pulau Tengah merupakan salah satu pusat perkembangan agama Islam di alam Kerinci.
Perkembangan pesat itu dimulai ketika seorang ulama kelahiran Pulau Tengah yang di kenal dengan “Syekh Qulhu” pada akhir abad ke 16 ( tahun 1697) kembali ke Dusun Pulau Tengah dari Pulau Jawa ( Mataram).
Syekh yang biasa dipanggil Syekh Qulhu beberapa tahun mendalami agama Islam di tanah Jawa (Mataram), dan untuk mengembangkan ajaran agama Islam di alam Kerinci khususnya di Pulau Tengah beliau dengan bijaksana menyempurnakan ajaran Islam yang saat itu telah dianut oleh masyarakat di dusun Pulau Tengah
Pada awal abad ke 17 hingga akhir abad ke 18 setelah Masjid Keramat Pulau Tengah dibangun untuk menggantikan Masjid Pulau Tengah yang telah lapuk dimakan usia, perkembangan Islam berkembang pesat dengan ditandai semakin banyak orang orang Kerinci yang mendalami ilmu agama Islam pada Syekh.
Perkembangan berikutnya sejumlah santri santri dari daerah tetangga seperti Sungai Manau, Serampas – Sungai Tenang, Muara Panco, Muara Bungo, Ngaol -Tabir Ulu, dan santri santri dari daerah Minangkabau (Pesisir Selatan) dan sekitarnya belajar mengaji, mendalami agama Islam dan para santri pada masa itu mondok di Pulau Tengah.
Pada periode berikutnya pasca Syekh Kuat (Syekh Qulhu) lahir beberapa orang tokoh tokoh ulama terkenal, diantara para ulama ulama besar itu tercatat, H. Raha, H. Rateh, H. Kali Rajei, Tengku Beruke, beliau beliau tersebut merupakan Putra Syekh Qulhu, para ulama tersebut merupakan orang orang Suku Kerinci pertama asal Pulau Tengah yang pertama kali menunaikan rukun Islam di tanah Suci Makkah..
Pada abad ke 19 hingga abad ke 20 Pulau Tengah juga telah melahirkan banyak tokoh tokoh ulama terkemuka di alam Kerinci seperti H.Ismail, H.Saleh dan H.Rauf, disamping ulama ulama tersebut Pulau Tengah juga memiliki ulama ulama kharismatik seperti H.Ahmad Fakir. H.Abdul Muti, H.Abdul Aziz, H. Saud, H. Leman, H.Abdul Rahman. H.Ahmad, dan H.Mukhtar.
Para ulama ulama terkemuka di Pulau Tengah sebagian besar mendalami ilmu ilmu agama di tanah suci Makkah dan di negeri tetangga Kedah-Malaya. Para ulama ulama terkemuka tersebut masing masing memiliki pusat pengajian dan dakwah di surau surau yang ada di dusun pulau tengah.
Catatan Sejarah (Masjid Keramat Pulau Tengah : Thahar Ramli: halaman 13) mengemukakan pada paruh abad ke 20 sejumlah tokoh tokoh agama terkemuka di alam Kerinci pernah berguru pada H.Ahmad (Koto Dian), Pada masanya tokoh tokoh tersebut menjadi ulama terpandang di alam Kerinci bahkan sampai ke Minangkabau.
Diantara tokoh tersebut tercatat nama ulama terkenal H.Mohd. Yunus dari Minangkabau ( Penulis Tafsir Al-Quranul Karim ), KH.AR.Dayah (Sungai Penuh) dan H. Nahri ( Koto Iman), beliau beliau tersebut mendalami ilmu agama Islam pada saat H.Ahmad bermukim di Sungai Penuh dengan Istri beliau yang pertama
Pada tahun 1776 Syech Kuat (Syekh Qulhu) (wawancara H. Abdur Rahman Dahlan-70 tahun) mengirimkan putra beliau H. Kali Rajei dan Tengku Baruke (Tengku Beruke-anak dari istri Syekh Kuat yang bernama Aloei ) untuk menimba ilmu agama Islam di Kerajaan Demak sekaligus mempelajari arsitektur Masjid Demak, dengan pertimbangan Kerajaan Demak merupakan Kerajaan Islam Pertama di Jawa yang berdiri tahun (1500 – 1518 ) didirikan oleh Raden Patah, seorang bangsawan Kerajaan Majapahit yang menjabat adipati kerajaan besar Hindu di Bintoro-Demak.
Di Demak terdapat sebuah Masjid tertua di Indonesia yang dikenal dengan nama Masjid Agung Demak yang merupakan Masjid Agung Kerajaan Islam pertama di Jawa, terletak di alun alun kota Demak, sekitar 22 km di sebelah timur laut Semarang, Jawa Tengah.
Menurut legenda Masjid ini didirikan oleh Wali Songo secara bersama sama dalam tempo satu malam. Babad Demak menunjukkan bahwa Masjid ini didirikan pada tahun Saka 1300 (1477) yang ditandai oleh Candrasengkala Lawang Trus Gunaningjammni , Sedang pada gambar bulus yang berada di mihrab masjid ini terdapat lambang tahun saka 1401, yang menunjukkan masjid ini di bangun tahun 1479.
Bangunan Masjid Agung Demak terbuat dari kayu jati ini memiliki ukuran 31 meter x 31 meter dengan serambi berukuran 15 meter x 15 meter. Atap tengahnya di topang oleh 4 buah tiang tiang kayu ukuran raksasa (saka guru), yang dibuat oleh empat wali, salah satunya ialah Wali Songo.Saka sebelah tenggara adalah buatan Sunan Ampel,disebelah barat daya buatan Sunan Gunung Jati, sebelah barat laut buatan Sunan Bonang, sedangkan di sebelah timur laut yang tidak terbuat dari satu kayu utuh melainkan disusun dari beberapa potong balok yang diikat menjadi satu (saka tatal) merupakan sumbangan dari sunan Kalijaga. Serambinya dengan delapan buah tiang boyongan merupakan bangunan tambahan pada zaman Adipati Yunus (Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor).
Dalam Proses pembangunan Sunan Kalijaga memegang peranan penting, wali inilah yang berjasa membetulkan arah Kiblat. Menurut sebuah riwayat, Sunan Kalijaga juga memperoleh wasiat ”antakusuma”, yaitu sebuah bungkusan yang berisi baju”hadiah” dari Nabi Muhammad SAW, yang jatuh dari langit dihadapan para wali yang sedang bermusyawarah di dalam Masjid itu.
Syekh Kuat mengirimkan putranya H.Kali Rajei dan Tengku Baruke untuk menuntut Ilmu agama Islam di Demak dilatar belakangi karena Demak merupakan Kerajaan Islam yang memiliki Mesjid Kerajaan Islam pertama di Jawa, dan Tengku Baruke disamping memahami ilmu ilmu agama Islam juga memiliki bakat menjadi arsitektur, Tengku Baruke di lingkungan masyarakat dikenal sebagai ahli (tukang) bangunan.
Di Demak Tengku Baruke dan H.Kali Rajei mendalami ilmu agama Islam dengan ulama ulama terkemuka yang ada di Demak, disamping mempelajari ilmu ilmu yang berkaitan dengan Islam, ia juga mempelajari ilmu arsitektur Islam selama 3 bulan
Bangunan Masjid Agung Demak mengandung unsur Kebudayaan Hindu- Jawa yang bentuk bangunannya cenderung mirip candi yang runcing ke atas seperti nasi tumpeng, atapnya yang bersusun tiga tingkat, melambangkan Islam, Iman dan Ihsan.
Setelah memperdalam ilmu agama Islam dan mempelajari arsitektur Mesjid di Demak selama beberapa bulan, pada tahun 1780 Tengku Baruke dan saudaranya H. Kali Rajei kembali kealam Kerinci dengan membawa miniatur arsitektur Mesjid Agung Demak yang ia buat dari tanaman tumbuhan mping mping (sejenis tumbuhan mirip tebu ukuran kecil yang dapat dipotong potong/diraut)
Bersama Syekh kuat dan putra putranya H.Ratih, H.Raha, Kali Rajei, para pemangku – pemangku adat serta masyarakat di dusun Pulau Tengah pada tahun 1780 menggagas pembangunan sarana ibadah (Mesjid) pertama dengan arsitektur yang di ilhami dari arsitektur Mesjid Demak. Untuk desain gambar terinspirasi dari miniatur Mesjid Agung Demak yang dibawa Tengku Baruke dan Kali Rajei
Pada tahun 1785 pembangunan yang di arsiteki oleh Tengku Baruke mulai dibangun, dan secara bersamaan pada waktu itu dua orang saudaranya yakni H.Ratih dan H.Raha kembali dari Makkah setelah beberapa tahun mendalami ilmu agama, kedua orang Putra Syekh Kuat ini adalah murid Syekh Muhamad Saman di Arab.
H. Ratih dan H. Raha merupakan pemuda Kerinci yang pertama yang memperdalam ilmu ilmu agama Islam di Tanah Suci Makkah, pada periode selanjutnya, seorang ulama asal Tanah Kampung, Syekh. H. Mohd. Sekin memperdalam ilmu agama Islam di Makkah, ketika berada di Makkah inilah Syekh H.Mohd. Sekin mengenal seorang wanita HJ. Rijah, dan beberapa waktu kemudian Syekh. H. Mohd. Sekin menikah dengan Hj.Rijah.
HJ.Rijah adalah cucu Tengku Baruke, bersama saudara saudara sepupunya H.Ahmad. H. Dahlan dan H.Ahmad Fakir pada periode berikutnya dikenal sebagai tokoh ulama yang melakukan dakwah Islam dan menyempurnakan aqidah umat Islam di alam Kerinci khususnya di daerah Pulau Tengah-Keliling Danau.
Islam di Dusun Pulau Tengah dan sekitarnya, pada masa itu seorang pemuda dari Dusun Ambai H.Muchtar, dan H.Khalik Sebukar mendalami ilmu agama Islam di Mekah, dan beliau beliau inilah termasuk ulama ulama pertama yang mengembangkan dakwah dan pendidikan Islam di alam Kerinci dan untuk meningkatkan kualitas umat dan sebagai tempat penyelenggaraan Ibadah dilaksanakan pembangunan sarana ibadah.
Pembangunan Masjid Pulau Tengah dimulai pada tahun 1780 dan telah dapat dimanfaatkan pada tahun 1785, beberapa desain dan ornamen masjid ini diilhami oleh bangunan “ Masjid Demak” Tiang tiang kayu menggunakan kayu kayu balok ukuran raksasa, desain atap bersusun tiga tingkat dengan aneka ukiran bermotifkan fatma (flora) yang ada di sekitar pemukiman masyarakat, atap dan lantai Masjid pada saat itu menggunakan bahan material yang sangat sederhana yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya
Masjid Pulau Tengah memiliki 1 tiang utama (Saka Guru) dan 4 tiang penopang utama yang melambangkan 4 orang para sahabat Rasulullah. 4 tiang penopang ditambah 1 tiang tuo (Tiang Utama) melambangkan Rukun Islam, Masjid ini memiliki 20 tiang tepi. 1 tiang utama (Soko Guru) 4 tiang penopang dan jika dijumlahkan berjumlah 25 buah tiang. kedua puluh lima tiang tiang yang menopang bangunan masjid secara keseluruhan melambangkan 25 orang Nabi / Rasul utusan Allah, Jarak masing masing tiang tepi adalah 5 meter dan dipucuk masjid terdapat mustaka yang terbuat dari batu andesit
Masjid Pulau Tengah berukuran 28 meter X 28 Meter, dibangun diatas lahan seluas 59,2 Meter X 44,3 Meter. Sebelum memasuki ruang masjid terdapat tangga dihias dengan tempelan tegel keramik. Pintunya sendiri berjumlah 2 buah, berdaun ganda berukir motif geometris dan tempelan tegel keramik.
Memasuki ke ruang dalam, secara umum kontruksi masjid ditopang oleh 25 buah tiang kayu yang berbentuk segi delapan dan berhias ukiran motif tumpal. Satu buah tiang soko guru yang dikelilingi oleh 2 kelompok tiang yang masing – masing berjumlah 4 tiang dan 20 buah tiang.
Karena mulai lapuk dimakan usia, tiang soko guru tersebut pada tahun 1927 – 1928 mulai mengalami perubahan, diberi lapisan semen setinggi 4,5 m dan dihias dengan keramik bermotif flora dan geometris. Hasil pengamatan bersama Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kerinci Drs.Suardin Muhammad (Pulau Tengah: 5_2013) tiang soko guru Masjid Pulau Tengah merupakan tiang yang memiliki diameter terbesar dibandingkan dengan tiang tiang masjid masjid kuno lainnya yang ada di alam Kerinci
Meski tiang saka guru telah mengalami renovasi akan tetapi tempat adzan yang berada di atas tiang utama tetap dipertahankan, tempat muadzinnya sendiri mirip sebuah panggung kecil, bagian tepi terdapat pagar keliling yang berhiaskan ukiran motif sulur-suluran.
Sebagai pelengkap ruang Masjid, yaitu terdapat sebuah mihrab dan mimbar. Mimbar masjid berukuran 2,24 x 1,48 m dilengkapi tangga berhias motif sulur – suluran. Mimbar ini mempunyai 4 buah tiang berbentuk segi delapan semakin ke atas makin kecil dan berhias ukiran motif sulur-suluran. Pada bagian mihrab berdenah segi lima dan dihias dengan ukiran motif sulur-suluran, tempelan tegel keramik, dan pada sisi luar atapnya berbentuk kubah berpuncak mustaka.
Seniman dan budayawan alam Kerinci kelahiran Pulau Tengah Harun Pasir (70 tahun) mengemukakan bahwa pada awalnya Masjid ini beratap ijuk, dinding dan lantai merupakan lantai tebal dari kayu yang berkualitas, sedangkan pada puncak kubah terbuat dari batu. Pada tahun 1907 atap diganti dengan atap seng dan dan pada tahun 1927 atap kembali diganti dengan atap seng, pada tahun 1928 lantai mesjid diganti dengan lantai semen, mengingat usia masjid yang tua dan banyaknya papan papan dinding yang telah lapuk maka pada tahun 1930 an dinding bagian bawah diganti dengan dinding semen yang kokoh, pada tahun 1948 beberapa tiang yang keropos diganti dengan tiang tiang yang lebih kokoh, namun puncak qubah telah diganti dengan qubah dari seng, penggantian ini disebabkan qubah tersebut terjatuh dari atas puncak qubah.
Pemberian nama “ Mesjid Keramat ” dilatar belakangi oleh sejarah perjuangan rakyat Pulau Tengah dalam menentang kolonial Belanda yang dimulai tahun 1903, Masjid ini pada masa pertempuran melawan kolonial Belanda dijadikan sebagai benteng pertahanan dan tempat berlindung bagi masyarakat terutama wanita, anak anak dan orang tua tua.
Mesjid ini menjadi saksi bisu semangat heroik para hulubalang dan masyarakat Pulau Tengah dalam menentang Kolonial Belanda dan pada tahun 1939. Mesjid ini dan sebuah bangunan surau kecil selamat dari peristiwa kebakaran yang meluluh lantakkan pemukiman masyarakat yang ada di sekitar bangunan mesjid.

Syekh H. Mohd Sekin Ulama dari Tanah Kampung
Pada abad ke 19–20 di wilayah bekas Kemendapoan Tanah Kampung Kota Sungai Penuh dikenal tokoh dan ulama kharismatik Syekh.H.Mohd. Sekin. ( Wafat tahun 1954). Dan Syekh H.Mukhtar Bin Abdul Karim dan lebih populer dipangggil Syekh H.Mukhtar Ambai (Wafat 1977)
Syekh H.Mohd. Sekin, pada zamannya adalah tokoh ulama alam Kerinci kelahiran dusun Koto Pudung bekas Kemendapoan Tanah Kampung dikenal sebagai sahabat dekat Syekh Haji. Mukhtar Ambai, kedua ulama kharismatik asal alam Kerinci selama bertahun tahun menjalin hubungan kekeluargaan, beliau berdua bersama sama mempelajari dan mendalami ilmu agama Islam di Kota Suci Makkah, di Makkah Syekh Haji. Mohd Sekin menikahi Hajjah. Rijah seorang perempuan Kerinci asal Dusun Pulau Tengah, kembali dari mengaji dan mempelajari Ilmu agama Islam kedua tokoh Ulama ini kembali ke kampung halaman untuk mensyiarkan agama Islam di daerah masing masing, Syekh.Haji. Mukhtar Ambai hingga akhir hayatnya menetap dan wafat di dusun Ambai, sedangkan Syekh Haji.Mohd Sekin lebih fokus berdakwah di wilayah Kerinci tengah dan sekitarnya, Syekh Haji.Mohd Sekin wafat tahun 1954, sementara Syekh H.Mukhtar Ambai wafat 1977
Seperti yang telah di uraikan diatas, Pada saat Syekh Haji.Mohd. Sekin mendalami ilmu agama Islam di Makkah beliau menikah dengan Hajjah.Rijah yang tengah menimba ilmu agama Islam di Makkah. Hajjah. Rijah adalah cucu Tengku Beruke. sedangkan Tengku Beruke adalah Putra Syech Kuat dari istri yang kedua, Tengku Beruke memiliki 3 orang saudara seayah yakni H. Ratih.H.Raha dan Kali Rajo, Pada periode berikutnya beliau beliau inilah yang giat melakukan dakwah Islam ditengah tengah masyarakat dusun Pulau Tengah dan sekitarnya.
Kembali dari tanah suci Makkah- Syekh H.Mohd. Sekin bersama istrinya Hajjah. Rijah menetap di Dusun Koto Pudung Kemendapoan Tanah Kampung, Sampai akhir hayatnya Syekh. H. Mohd. Sekin melakukan kegiatan dakwah dan membina umat melalui kegiatan pengajian di surau kayu di Dusun Koto Pudung Tanah Kampung.
Kegiatan pengajian yang dilakukan oleh Syekh.Haji. Mohd. Sekin dipusatkan di surau, para santri tidak hanya berasal dari Tanah Kampung, ratusan santri yang mondok di sekitar surau berasal dari daerah daerah tetangga.
Diantara santri berasal dari kawasan Tabir Ulu, Pangkalan Jambu Sungai Manau, Serampas dan Sungai Tenang (Kabupaten Merangin,Pen) dan dari daerah Tanah Tumbuh Bungo, Batang Asai Sarolangun dan sekitarnya.
Sampai di penghujung usia nya, Syekh. Haji.Mohd Sekin berada di dusun kelahirannya hingga menutup mata untuk selama lamanya, kepergian Syekh.H.Mohd Sekin ke pangkuan Illahi- tidak hanya di tangisi sanak keluarga saja, ratusan santri anak didik dan umat muslim di alam Kerinci merasa sangat berduka karena ditingggalkan pergi sang panutan dan ulama besar yang selama puluhan tahun membina mental dan aqidah umat Islam.
Masyarakat alam Kerinci saat itu sangat berduka atas wafatnya Syekh Haji. Mohd. Sekin, akan tetapi kesedihan tak berlansung lama, para jemaah anggota pengajian melanjutkan pengajian menimba ilmu pada Syekh Haji.Mukhtar Ambai, dan beberapa orang santri sanstri murid Syekh Haji. Mod.Sekin yang melanjutkan pendidikan ke Minangkabau
Tokoh ulama seangkatan dengan almarhum Syekh. Haji. Mohd.Sekin diantaraya ialah Syekh Haji.Mukhtar Ambai, Haji. Mahmud Rasyid Seleman, H. Nahri di Koto Iman, H.Yakub Kari Tanjung Pauh, KH. Abdullah Ahmad, Tengku Yamin Semurup, KH. Djanan Thaib Bakri, H.Usman Talang Kemulun, H.Tengku Arif Talang Kemulun, M. Zen Yatim Sandaran Agung.
Selain itu terdapat tokoh ulama lainnya yang memiliki peran penting dalam usaha dakwah dan pemulian agama Islam di alam Kerinci, tokoh kharismatik tersebut ialah KH. Adnan Thaib, KH.Abdullah Ahmad, KH.AR. Dayah, KH. Djanan Thaib Bakri H. Abdul Kadir Djamil (Majelis Kerapatan Adat Alam Kerinci) KH. Saleh Djamil Murabby ( Pulau Tengah) Buya H.Nalim Hiang Tinggi.H.Khatib Nurdin dan Syarif Husin
KH. Syekh H.Mohd Sekin (Wawancara Drs.Alamrus,M.PdI : 20:7:2013) pada masanya memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah pendidikan khususnya dalam bidang pendidikan agama Islam, beberapa orang murid murid Syekh H.Mohd Sekin dan para pemuda di Kota Sungai Penuh melanjutkan pendidikan sekolah ” Parabek- Bukittinggi, Thawalib Padang Panjang, Lampasi, Payakumbuh dan ke Padang Pariaman.
Sebagai seorang ulama besar yang hidup pada zamannya Syekh.H.Mohd.Sekin merupakan tokoh panutan umat, ratusan santri dari daerah daerah tetangga berguru ilmu agama pada beliau, dan dikalangan umat Islam beliau dikenal memiliki ’Karomah”, Konon diantara Karomah yang beliau memiliki ialah beliau memiliki satu buah tongkat, dan binatang berbisa yang menyerang beliau menjadi tidak berdaya manakala beliau mengangkat tongkat tersebut, pernah suatu hari ketika beliau mengambil wudhu di tepian sungai yang membelah dusun Tanah Kampung, tanpa setahu beliau tongkat beliau hanyut terbawa arus, anehnya pada saat beliau selesai shalat magrib tongkat beliau sudah berada di mimbar tempat beliau memberikan dakwah / pengajian kepada murid murid beliau
Pada awal abad ke 20, seluruh masyarakat suku Kerinci termasuk masyarakat suku Kerinci di Kemendapoan Tanah Kampung dan di daerah daerah lain di alam Kerinci telah memeluk agama Islam, akan tetapi sisa sisa kepercayaan dan peradaban masa lampau masih melekat dan tumbuh dalam kehidupan masyarakat, melalui dakwah dakwah yang beliau lakukan, secara perlahan lahan kepercayaan kepercayaan masyarakat terhadap roh roh nenek moyang, bid’ah dan khurafat berangsur hilang.
Didalam Al’Qur’an Allah Swt, telah menurunkan begitu banyak perintah kepada umat manusia yang harus ditaati dengan sepenuh hati, akan tetapi di dalam Al-Qur’an itu sendiri tidak diterangkan mengenai tata cara menjalankan perintah perintah tersebut, Oleh karena itu, di utuslah Rasulullah saw, Nabi terakhir, tugas Rasulullah saw adalah memberi contoh dan menuntun manusia kearah jalan yang sesuai dengan perintah perintah Allah Swt.
Dengan demikian sudah jelas bagi kita bahwa sebagai umat Rasullah kita di wajibkan mengikuti sunnah sunnah yang telah di contohkan oleh Nabi Muhammad,Saw, karena beliau adalah sebaik baiknya suri tauladan bagi kita.
Syekh. Haji. Mohd Sekin tidak hanya mengajar santri santri untuk mendalami Al’Qur’an, akan tetapi beliau juga memperkenalkan dan mengajarkan santri santri dan masyarakat untuk menghidupkan Sunnah Rasullullah Saw
Pada masa Syekh Haji.Mohd .Sekin, di alam Kerinci terdapat sejumlah ulama terkemuka, diantara ulama ulama itu ialah: H.Adnan Thaib, H.Abdurahman Dayah.Buya.AR.Karim,dan H.Djanan Thaib. Pada periode berikutnya sejumlah pemuda alam Kerinci lainnya banyak yang melanjutkan pendidikan Islam ke alam Minangkabau
Di antara para pemuda yang melanjutkan pendidikan ialah Buya Jasrial Zakir, Sandaran Agung, Buya Samad Tebing Tinggi, Dari Koto Pudung Tanah Kampung tercatat H.Bakri Buya H. Rusli, Tengku H. Hasan dan H. Rasul, Buya H. M. Arkam.
Para murid murid Syekh H.Mohd Sekin terutama yang berasal dari wilayah bekas Kemendapoan Tanah Kampung pada gilirannya melanjutkan perjuangan Syekh H. Mohd .Sekin dalam melakukan dakwah pemurnian ajaran Islam di alam Kerinci, dalam usia lebih 70 tahun Syekh H. Mohd Sekin wafat dan dimakamkan di halaman kediaman dan surau yang berada di Desa Koto Pudung – Tanah Kampung
Diantara santri / murid Syekh H.Mohd Sekin yang telah disebut diatas tercatat seorang ulama Buya H.Bakri Rasul bin Khatib Sapadat, lahir di Koto Tuo Tanah Kampung 22 April 1922. Sebagai sosok ulama yang memiliki pendirian yang teguh serta karena pengetahuan agama dan mengusai hukum hukum syariah beliau dipercayakan menjadi salah seorang anggota majelis Hakim Pengadilan Agama Sungai Penuh yang saat itu kekurangan tenaga hakim.
Sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Kantor Departemen Agama Kabupaten Kerinci pada masa itu beliau dipercaya menjadi salah seorang pengawas di Kantor Departemen Agama Kabupaten Kerinci sekaligus menjadi ulama yang giat melakukan dakwah dan memberikan pengajian pada kelompok kelompok pengajian di Tanah Kampung, Sungai Penuh dan alam Kerinci umumnya.
Beliau menikah dengan Hj. Syamsiah (alm), dan beliau dianugerahi delapan orang putra putri, salah seorang putra beliau ialah Prof. Dr.H.Asafri Jaya Bakri,MA, seorang ulama terkemuka di Propinsi Jambi dan selama dua Periode dipilih oleh Senat/Civitas Akademika Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Thaha Syaifuddin Jambi menjadi Rektor Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Propinsi Jambi. Dan pada Pilwako Sungai Penuh, H.Asafri Jaya Bakri, secara demokrasi dipilih oleh masyarakat Kota Sungai Penuh sebagai Walikota Sungai Penuh pertama yang depenitif
H. Bakri Rasul Bin Khatib Sapadat, Wafat tanggal 12-8-2012 dalam usia 90 tahun setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Mayjen. H.A. Thalib Sungai Penuh, almarhum dikebumikan di Pemakaman Umum Kayu Ajo Kota Panap Kecamatan Tanah Kampung Kota Sungai Penuh(Budhi Vrihaspathi Jauhari)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Apa Komentar Anda Tentang Artikel Ini?

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful