Puluhan TKI Asal Jambi Ditangkap Polisi Malaysia
Berita KERINCI, Kerincitime.co.id – Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, kembali mendapatkan masalah di negeri jiran, Malaysia. Informasi yang diperoleh, saat ini puluhan TKI asal Kerinci ditangkap oleh Polisi Diraja Malaysia (PDRM). Diduga persoalan ini dipicu akibat kesalahpahaman saat PDRM menggelar razia.
Nazirwan Yusur, yang keluarganya ikut ditangkap kepada Tribun, Jumat (24/4) menyatakan bahkan pihak kepolisian Malaysia masih memburu beberapa TKI yang belum tertangkap. Kondisi ini membuat para TKI tidak berani pergi bekerja, dan mencari tempat persembunyian yang aman, untuk menghindari petugas.
Informasi yang didapat Tribun, pemicu terjadinya penangkapan besar-besaran ini, berawal dari adanya kesalahpahaman antara TKI asal Kerinci dengan petugas kepolisian Malaysia, yang sedang bertugas melakukan operasi.
Di wilayah kejadian perkara, memang sedang marak terjadinya pencurian. Untuk menangkap pelaku, polisi akhirnya masuk ke kawasan tersebut. Namun saat akan menangkap pelaku pencurian, kakak pelaku teriak mengatakan ada maling.
Pasalnya saat melakukan operasi, petugas mengunakan sebo atau penutup muka, sehingga disangka perompak (Maling). Petugas pun langsung di keroyok masa, yang diduga kebanyakan adalah TKI asal Kabupaten Kerinci.
Petugas yang dikeroyok tersebut, mengalami luka serius dan menyebabkan koma, sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Akibat pengeroyokan ini, anggota PDRM pun emosi, dan kemudian melakukan perburuan terhadap TKI secara besar-besaran.
“Polisi yang marah, melakukan penangkapan terhadap TKI. Tidak peduli mereka punya dokumen atau pun TKI illegal, semuanya di buru dan dijebloskan kedalam penjara,” ungkap Nazirwan Yusur.
Penangkapan paling banyak dilakukan di wilayah Kampung Senjalo, Damansara.
“Informasi yang saya dapat, ada sekitar 30 TKI asal Pulau Tengah, Cupak, dan TKI asal Kerinci lainnya sudah berhasil mereka buru,” jelasnya.
Untuk menenangkan situasi, tiga orang pelaku yang diduga melakukan pengeroyokan sudah diserahkan ke polisi, sesuai dengan kesepakatan bersama.
“Namun itu ternyata tidak menghentikan amarah polisi Malaysia,” tambahnya.
Saat ini, aktivitas di kampung tersebut lumpuh total. Warga tidak ada yang berani beraktivitas diluar, bahkan pintu dan jendela juga ditutup.
“Kejadiannya sejak dua malam yang lalu, dan sampai sekarang suasana masih mencekam,” tegasnya.
Nazirwan berharap, adanya bantuan dari pemerintan Indonesia, terutama pemerintah daerah agar segera melakukan mediasi.
“Dulu pemerintah pernah menyelamatkan Riko dan Iwel. Kali ini, kami mengharapkan pemerintah melakukan hal yang sama,” harapnya.
Grek Alam, warga Kerinci yang saat ini berada di Malaysia, juga mengakui saat ini suasana sedang mencekam. Sejumlah tokoh masyarakat Kerinci di Malaysia, sedang mengupayakan perundingan dengan aparat disana.
“Ibu-ibu dan wanita untuk sementara kemungkinan besar akan dipulangkan ke Indonesia, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” sebut Grek Alam. Hanya saja, saat akan dikonfirmasi lebih lanjut, dia enggan berkomentar.
“Sekarang saya belum bisa memberikan penjelasan. Kami sedang sibuk mencari informasi keberadaan warga yang ditangkap. Kami juga sedang berkoordinasi dengan keluarga mereka di Kerinci,” pungkasnya.
Kepala Desa Koto Dian Pulau Tengah, Indra, mengaku setidaknya ada 40 TKI yang ditangkap. “Tadi saya sudah menghubungi polisi di Malaysia, mereka mengaku akan membebaskan yang tidak bersalah,” beber Indra, yang juga sempat menjadi petugas keamanan di Malaysia.
Semua upaya akan dilakukan untuk menyelamatkan para TKI tersebut, apalagi TKI yang tidak bersalah. “Pasca kejadian itu, semua TKI asal Kerinci ditangkap. Termasuk yang punya dokumen lengkap,” tambahnya lagi.
Sumber: tribunjambi.com