Pariwisata/BudayaSungai Penuh

Besudut suku anak dalam TNB12 bermimpi menjadi guru SAD

(Budayawan Jambi dan Direktur Kopsad Budhi VJ Rio Temenggung menyerahkan bantuan sarana belajar Note Book dan buku bacaan kepada Besudut Mahasiswa PGSD Unja)
(Budayawan Jambi dan Direktur Kopsad Budhi VJ Rio Temenggung menyerahkan bantuan sarana belajar Note Book dan buku bacaan kepada Besudut Mahasiswa PGSD Unja)

Kerinci time- Jambi ,Direktur Lembaga Bina Potensia dan Kopsad  Budhi VJ Rio Temenggung  Budayawan Nasional/Penerima Pin Emas dan Anugerah Kebudayaan dari Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan  Republik Indonesia, Jum’at  kemaren menyerahkan bantuan pribadi berupa  Note Book /Lap Top dan buku buku bacaan kepada Besudut alias Irman Djalil  Mahasiswa PGSD Universitas Negeri Jambi (UNJA)

Besudut adalah  putra pertama dari Komunitas Suku Anak Dalam  di kawasan Taman Nasional Bukit 12 Propinsi Jambi yang  melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi  negeri di bumi pucuk Jambi sembilan lurah.

Kepada media ini Besudut  mengemukakan, ia adalah  anak kedua dari 4 orang bersaudara hasil pernikahan  kedua orang tuanya  Pemikat dan Meranting Sanggul,ia lahir di hutan belantara di kawasan SP.A Tanah Garo Sungai Jernih Kecamatan Muara Tabir Kabupaten Tebo,ia kurang tahu pasti tanggal kelahirannya,namun ketika  menjadi mualaf dan masuk Sekolah Dasar Gurunya mencantumkan ia lahir 12-09-1992.

Sebagai  anak rimba,ia tidak merasakan kasih sayang dari kedua orang tuanya, Ayahandanya  bernama”Pemikat” meninggal dunia ketika ia baru berumur 1,5 tahun,dan beberapa bulan kemudian sang Ibundanya Meranting Sanggul  tempat ia berlindung dan tumpuan harapannya meninggal dunia  3bulan setelah kepergian ayahandanya,dan sejak  saat itu ia dan seorang kakaknya “Nyambol” dan kedua orang adik adiknya “Mella Batu “dan” Ngaretek menjadi yatim piatu.

Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia ia dan ketiga orang saudara saudaranya  selalu “Melangun” bersama dengan saudara saudaranya dibawa oleh sanak saudara berpindah dari satu kawasan  hutan ke kawasan hutan yang lain.

Dulu, seingat saya,hutan hutan dikawasan TNB 12 masih sangat rimbun,bahan makanan seperti  rusa,kancil,biawak,ikan bulan,tenuk dan umbut umbutan dengan mudah dapat ditemui dan ditangkap, tapi sekarang hutan kian tan rimbun lagi,hutan sudah menjadi kebun karet,kebun sawit dan masih tersisa sedikit untuk dilestarikan.

Suatu hari di awal tahun 2003, ketika itu  besudut kecil sedang berjalan di daerah Bernai tanah garo, di perjalanan ia bertemu dengan seseorang pria yang belakangan ia kenal dengan nama<Bbepak Rahman Kanyak” beliaulah yang mengajak saya keluar hutan  menuju ketempat kediaman beliau di Rantau Panjang.

Bepak Kanyak dan istri beliau sangat baik, saya diberi pakaian,dimandikan dan diperlakukan seperti anak sendiri, lama lama saya menjadi betah di rumah beliau di daerah  rantau panjang Kecamatan  Tabir, beberapa minggu saya dirawat dan diasuh seperti anak sendiri”Kata Besudut”

Suatu hari  saya diajak Bepak Rahman Kanyak kerumah Bepak Budhi,dan dirumah bepak budhi di Bangko,saya diperkenalkan,mula mula saya ragu ragu dan sedikit takut saat bertatap muka dengan Bepak budhi yang selalu serius.

Keraguan saya tak berlansung lama, dengan senyumnya yang khas,Bepak Budhi Menyapa saya, Hai sanak..! dari mana ? dan apa yang bisa saya bantu?tanya bepak Budhi kepada saya? Dengan nada perlahan saya sebut nama saya Besudut dari Tanah Garo,saya orang rimbo,saya ingin hidup sepeti bapak  ucap besudut dengan nada lirih.

Seminggu setelah pertemuan saya bersama Bepak Rahman Kanyak di kediaman Bepak Budhi di Bangko, saya di datangi oleh Bepak Budhi dan rombongan,kalau tidak salah rombongan itu berjumlah 17 orang yang terdiri dari laki laki dan perempuan,sebagian besar dari rombongan itu adalah mahasiswa STKIP YPM Bangko dan aktifis/ pengurus   HMI dan Kohati Cabang  Bangko.

Singkat cerita  hari itu saya dan sahabat saya dari rimbo bernama  Ejam  di sunat oleh dr.Mahmulsyah Munte kepala Puskesmas Rantau Panjang,dan seminggu kemudian di Masjid Agung Rantau Panjang dengan  disaksikan Bapak Drs.H.Ubai Ali Wakil Bupati Merangin dan sejumlah tokoh masyarakat,tokoh adat ,dan mahasiswa  saya mengucapkan dua kalimah syahadat sebagai wujud pengakuan saya menjadi seorang Muslim.

Dan alhamdulilah 10 Tahun Kemudian, pada tahun 2013 saya berhasil  menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri 14 Tebo,dan setelah melewati seleksi PMB saya berhasil lolos seleksi dan diterima menjadi mahasiswa PGSD Universitas Negeri Jambi campus Muara Bulian.

“Ake Kasion,nengok budak budah di halom/rimbo piado sokola,dan  “ake  ngajo sokola biak tukang segalo ( saya kasihan melihat anak anak di alam/rimba tidak bersekolah,dan saya sengaja sekolah agar saya bisa berbuat banyak.Pen)”Ujar Besudut dengan nama optimis”

Direktur Kopsad dan Budayawan Jambi Budhi VJ Rio Temenggung kepada media ini menyebutkan,Besudut adalah salah satu dari anak rimba (suku anak dalam) yang pernah disentuh perberdayaan, keterbatasan kemampuan membuat kita belum mampu berbuat banyak,akan tetapi saya merasa berhutang budi pada banyak pihak yang telah  membina dan mengarahkan besudut kearah masa depan yang lebih baik, salah satu orang yang memiliki peran dalam membentuk karakter  dan membawa besudut dalam mewujudkan impiannya adalah Bapak Edwar Keliad,S.Pd, Guru SMA Negeri 14 Tebo,Alumni Universitas Negeri Medan yang diangkat tahun 2011 sebagai CPNS di SMA Negeri 14 Tebo

Bepak Edwar Keliad,S.Pd, adalah guru olah raga yang selalu memberikan motivasi kepada saya untuk melanjutkan pendidikan di Universitas,dan beliau adalah guru yang selalu memberikan perhatian dan drongan termasuk memberikan jajan,makanan dan buku buku untuk saya.terus terang saja saya merasa berhutang budi kepada bapak edward”imbuh Besudut alias Irman Jalil( Bin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button