opini

MEMILAH SAMPAH DIMULAI DARI RUMAH TANGGA

Salah Satu Upaya Penanggulangan Sampah

Penulis: Ery Firmansyah – Sungai Penuh

Persoalan sampah yang masih menjadi pekerjaan rumah di Kota Sungai Penuh ternyata dapat diatasi dengan langkah paling sederhana, yaitu memilah sampah dimulai dari rumah tangga. Upaya kecil ini dinilai menjadi kunci utama dalam penanggulangan sampah secara berkelanjutan.

Pantauan di sejumlah permukiman di Sungai Penuh, Minggu (2/11), masih ditemukan sampah rumah tangga yang dibuang secara tercampur. Sisa makanan, plastik kresek, botol minuman, hingga popok bayi dimasukkan dalam satu kantong, sehingga menumpuk dan sulit diolah kembali serta menimbulkan bau tidak sedap.

“Selama ini kita terbiasa buang sampah campur aduk. Padahal kalau dipilah dari rumah, sampah itu punya nilai. Sisa dapur bisa jadi pupuk, botol plastik bisa dijual,” ujar seorang warga di Sungai Penuh.

Untuk itu, gerakan memilah sampah dari rumah mulai disosialisasikan dengan metode 3 tong yang mudah diterapkan di setiap rumah.

Tong hijau untuk sampah organik seperti sisa nasi, kulit buah, dan sisa sayuran yang bisa diolah menjadi pupuk kompos untuk kebun. Tong kuning untuk sampah anorganik seperti plastik, botol mineral, kardus dan kaleng yang dapat dikumpulkan dan dijual kembali ke Bank Sampah. Sementara tong merah untuk sampah berbahaya seperti baterai bekas, lampu dan popok sekali pakai yang harus dibungkus terpisah.

Gerakan memilah sampah dari rumah ini terbukti berhasil di sejumlah daerah. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, kini berhasil mengelola hampir 98 persen sampahnya hingga zero waste ke TPA karena warga wajib pilah dari rumah. Begitu juga di Rorotan, Jakarta Utara, yang sukses memilah sampah 100 persen dari rumah tangga dan menjadi percontohan nasional.

Dengan memilah sampah sejak dari rumah, volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir bisa berkurang hingga 60 persen. Selain itu, lingkungan menjadi lebih bersih, sehat, dan terhindar dari selokan mampet akibat tumpukan plastik.

Gerakan memilah sampah dari rumah tangga ini diharapkan dapat menjadi budaya baru bagi warga Sungai Penuh, sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan sampah yang tadinya dianggap masalah berubah menjadi berkah.**

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button