JambiMuara Bulianopini

Festival Sungai Batang Hari : Antara Dimensi Budaya, Ekonomi Dan Dimensi Ekologi

Festival Sungai Batang Hari

Antara Dimensi Budaya, Ekonomi Dan Dimensi Ekologi

Oleh Syamsul Bahri, SE dan Ridwan Yuswa, SH

(Conservationist di Jambi)

Festival Sungai Batang Hari : Antara Dimensi Budaya, Ekonomi Dan Dimensi EkologiFestival Sungai Batang Hari pada tanggal 22-25 November 2017, merupakan event wisata yang sudah teragendakan setiap tahun menjadi CoE (Calender of Event) di Kementerian Pariwisata bersama dengan Festival Kerinci, yang pada tahun 2018 masuk dalam 100 iven Wonderful Indonesia.

Kegiatan Festival di pusatkan di kawasan tango Rajo depan Rumdin Gubernur Jambi, yang dimeriahkan dengan kegiatan kegiatan terdiri dari pameran bazar, seni pertunjukkan, lomba tari dan lagu dari seluruh kabupaten kota, karnaval busana kreasi batik dari para desainer Jambi dan paguyuban.

Bahkan pada festival tahun ini juga dilaksanakan pelepasan 1.000 lampion, permainan sinar laser, tampilan musik dan puisi, permainan biola cilik, demo kopi khas dari 16 pelaku usaha, serta makan berawang bersama mengangkat seni budaya tradisi kearifan lokal.

Kegiatan Fesitival ini jika kita lihat dan kita maknai dimensi, sesungguhnya memiliki 2 dimensi utama dalam penyelengaraan yang ditumbuh kembangkan oleh kata “Peduli” yaitu dimensi pertama yaitu “kepedulian” masyarakat Jambi untuk melestarikan budaya Melayu Jambi yang sangat terkenal semenjak dahulu kala, dimasa modernisasi kecenderungan budaya melayu ditinggalkan oleh masyarakat yang sekaligus sebagai asset wisata, sedangkan dimensi kedua adalah kepedulian masyarakat  Jambi akan Sungai Batang Hari sebagai sebagai sebuah bentang ekologis Sungai terpanjang di Pulau Sumatera yang merupakan catchmen Area sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS) yang memiliki peran yang penting masa lalu, kini dan masa yang akan dating.

Memang di akui Sungai Batanghari sebuah nama yang sangat terkenal dan merupakan lokasi yang strategis berhadapan secara langsung dengan selat malaka sebagai wilayah perdagangan Internasional semenjak lebih ratusan tahun lalu sampai saat ini, faktanya terdapatnya banyak situs disekitar DAS Batang hari mulai dari Hulu di Bagian Barat sampai ke muara di timur ujung Jabung Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Batanghari yang membentang dari hulu Propinsi Sumatera Barat yang meliputi 4 kabupaten yaitu Solok, Solok Selatan, Damasraya, Sijunjung ke hilir di Wilayah Propinsi jambi yaitu meliputi 10 Kabupaten/kota yaitu Kerinci, Kota Sungai Penuh, Merangin, Bungo, Tebo, Sarolangun, Batanghari, Muaro Jambi, Kota Jambi dan Tanjung Jabung Timur yang bermuara dan menuju selat Berhala.

Sungai Batang Hari sebagai bagian sejarah dan sebagai potensi ekonomi baik dari aspek wisata maupun Perikanan, transportasi, dll bahkan sebagai sumber dan dasar dibangunnya beberpa proyek PLTA seperti Mega Proyek PLTA Kerinci Tirta yang tentunya membawa berkah ekonomi bagi masyarakat dan pemerintah.

Festival dikaitkan pemberdayaan ekonomi dan promosi wisata Jambi, diketahui bahwa beberapa Kabupatan/Kota merupakan surganya wisata Propinsi Jambi dan merupakan Daerah Tujuan Wisata atau Obyek dan daya Tarik Wisata Alam dan Budaya Utama (DTW/ODTWA/B) utama di Propinsi Jambi, tentunya dengan tujuan akhir adalah ekonomi kerakyatan dan perolehan Pendapatan Asli Daerah (PAD) ditengah kekurangan PAD.

DAS Batanghari sesungguhnya merupakan satu kesatuan ekosistem yang mendukung hidup dan kehidupan masyarakat baik budaya, ekonomi, politik yang berada disekitarnya baik yang dihulu, tengah maupun di muaranya/hilir sejak dahulu kala.

Sehingga peran DAS ini sangat vital dalam mendukung pembangunan ekonomi di Propinsi Jambi bahan beberapa Kabupaten di Wilayah Prop Sumatera Barat, bahkan dalam mendukung pengelolaan DAS berbasis ecobioregion saat ini sistim pengelolaan Taman Nasional di sekitar DAS ini terdapat 4 Taman Nasional yaitu untuk kawasan Hulu DAS Batanghari terdapat kawasan Konservasi Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), dibagaian tengah terdapat Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) dan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), dan hilir atau Muara terdapat Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS).

Kondisi DAS Batanghari saat ini adanya luasnya lahan kritis, perambahan, illegal logging, kebakaran hutan, PETI, Penambangan Galian C, pendangkalan sungai serta berbagai akibat dari kerusakan catchmen area dari DAS Batanghari, yang menimbulkan bahwa kekeringan dan banjir, kebakaran hutan dan asap serta dampak lingkungan lainnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari penurunan nilai penting dan nilai fungsi DAS Batanghari sebagai suatu kesatuan “ecobioregion management”.

Apalagi dikaitkan dengan pemanasan global yang membawa implikasi terjadinya perubahan keseimbangan alam terhadap perubahan permukaan air laut yang semakin naik, pergeseran iklim, dampak negatif secara langsung atau tidak langsung terhadap sub sektor pertanian, Sub sektor Kehutanan, Sub sektor Perternakan, Kesehatan, kalender musim yang susah diprediksi, dengan side efek negatif terhadap kemanusian dan sistem sumber daya alam terutama sumber air, pertanian, kehutanan, sistem ekologi, keanekaragaman hayati dan kesehatan.

DAS Batang Hari juga telah diklasifikasi sebagai satu dari 22 DAS dengan kategori sangat kritis (super critical). DAS ini merupakan DAS terbesar kedua di Sumatera dengan jumlah luas daerah tangkapan air (water catchment area) 4,9 juta hektar dan secara administratif meliputi propinsi Sumatera Barat dan Jambi.

Disamping bernilai penting untuk jalur transportasi, irigasi, perkebunan, rencana PLTA dan persawahan, secara ekologis DAS Batang Hari sangat penting karena meliputi berbagai type ekosistem alami (selain ekosistem sungainya sendiri) mulai dari ekosistem pesisir/muara, lahan basah, hutan hujan dataran rendah, hutan hujan dataran tinggi, hutan hujan pegunungan dengan vegetasi sub alpin dan alpin. Sebagian besar hulu sub DAS terdapat di dalam kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Saat ini DAS ini mengalami kondisi yang sangat kritis dengan banyak PETI dan beberapa bentuk kegiatan illegal lainnya yang berlangsung di beberapa daerah hulu dan hilir yang sangat mengancam akan kelestarian ekosistem DAS tersebut, bahkan telah memunculkan pencemaran air yang cukup berbahaya bagi mahluk hidup bahkan manusia yang mengkonsumsi air dari DAS tersebut. Tingkat pencemaran air DAS tersebut akan mengancam perekonmian para Nelayan dengan hasil tangkapan yang semakin sedikit.

DAS Batanghari sebagai ecobioregion management tidak dilihat sebagai aset ekonomi dan aset politik semata-mata, karena ecobioregion adalah batas darat dan perairan di mana batas tersebut ditentukan bukan oleh batas secara politik, melainkan harus dilihat dari batas geografis dari komunitas manusia dan sistim lingkungan.

Memang DAS sebagai satu kesatuan ecobioregion management yang memiliki keluasan yang luas ini harus cukup besar guna mempertahankan integritas komunitas biologi wilayah tersebut, habitat dan ekosistem; untuk menyokong proses-proses ekologi yang penting seperti siklus nutrien dan limbah, migrasi dan aliran arus; untuk menjaga habitat dari spesies-species penting; dan juga mencakup komunitas manusia yang terlibat di dalam pengelolaanm, penggunaan, dan memahami proses-proses biologi.

DAS Batanghari sebagai ecobioregion management yang terimplementasi dalam pemanfaatan daratan dan perairan di mana masing-masing wilayah menyediakan habitat dari berbagai macam species hidup dan berkembang dengan baik, dan masing-masing memiliki keterkaitan dengan populasi manusia pada wilayah tersebut. Semua elemen-elemen dalam mosaic tersebut berinterkasi secara aktif. Sebagai contoh pengelolaan terhadap daerah tangkapan air akan mempengaruhi habitat aliran sungai, perikanan dan terumbu karang.

Sehingga kegiatan Festival secara substansi pelaksanaan festival ditekankan pada upaya mempromosikan atau memperkenalkan segenap potensi wisata untuk menjadi daya tarik wisatawan, selain memperkenalkan industri ekonomi kreatif, budaya dan kearifan lokal lainnya, namun diharapkan festival ini juga lebih mengarah pada substansi Batang Hari sebagai Daerah Aliran Sungai secara ekologi, sehingga ada 3 substansi pelaksanaan festival yang perlu pengembangan adalah festival berdimensi pelestarian Budaya dan sejarah, berdimensi penguatan ekonomi melalui kegiatan kepariwisitaan, namun yang sangat tidak kalah pentingnya, pestival Sungai Batang Hari ini berdimensi Ekologis dengan melihat Sungai Batang Hari sebagai Daerah Aliran Sungai (DAS).

Melihat Sungai Batang Hari dari dimensi ekologi yaitu pengelolaan DAS Batanghari dalam ecobioregion management, hendaknya melihat DAS dalam kontek DAS sebagai (1) aset ekosistem adalah sumberdaya alam yang ada didalamnya sebagai aset ekosistim yang tak dapat diperbarui (non-renewable resources) atau dalam batas tertentu secara potensial dapat diperbarui (potentially renewable resources). Jika pemanfaatannya melebihi tingkat kelestarian maka berakibat degradasi lingkungan; Nilai kemanfaatan sumberdaya alam yang ada di DAS perlu diarahkan untuk mendapatkan manfaat nilai ekonomi tidak lagi mengarah pada maksimalisai tetapi optimalisasi; (2) Pemanfaan sumberdaya alam versus pertumbugan ekonomi adalah Kenaikan PAD atau PDRB sebagai hasil dari pertumbuhan ekonomi akan memberikan konsekuensi pada peningkatan konsumsi energi, konsumsi air, konsumsi lahan, ruang dan mobilitas; (3) Sumberdaya alam sebagai suatu aset yaitu pembangunan ekonomi hanya mengejar pertumbuan saja cenderung tidak mengindahkan kelestarian sumberdaya alam itu sendiri yang pada gilirannya akan memberikan akibat pada menurunnya mutu lingkungan hidup, mengoptimalisasi pemanfaatan berarti sumberdaya alam dalam DAS tidak hanya dilihat sebagai suatu aset produksi tetapi juga aset lingkungan, Interaksi antara aktivitas ekonomi dan sumberdaya alam dalam DAS sebagai bagian dari lingkungan; (4) pembangunan berkelanjutan adalah usaha dan upaya menghormati dan memelihara komunitas kehidupan, memperbaiki kualitas hidup manusia, melestarikan daya hidup dan biodiversity, optimalisasi pemanfaatan SDA yang tak terbarukan sesuai daya dukung, mengintegrasikan kerangka kerja untuk memadukan upaya pembangunan dan pelestarian, menciptakan kerjasama global sumber penyediaan bahan mentah; (5) aset sumberdaya alam yang berwawasan konservasi melalui pendekatan Pelestarian fungsi lingkungan hidup, keuntungan pengusaha atau perusahaan digeser pada keuntungan sosial, kelestarian produksi digeser pada kelestarian ekosistem; (6) aset dalam pembangunan pertanian berkelanjutan adalah eksplotasi sumberdaya alam erat kaitannya dengan proses bio produksi membawa dampak yang cukup signifikan dalam keberlangsungan kehidupan; pembangunan pertanian yang berkelanjutan (sustainable agriculture).

Tentunya dalam management ecobioregion ini, adalah integrasi pengelolaan baik fisik maupun non fisik hulu, tengah dan muara secara komprehensif yang mengarah pada keseteraan ekonomi, kesetaraan politik, kesetaraan lingkungan, kesetaraan sumber pendapatan, yang lepas dalam upaya pembangunan ekonomi berkelanjutan dengan melihat DAS dalam ecobioregion management, dalam pengelolaannya kontek utama sebagai aset ekonomi dan aset lingkungan untuk menghindari dan mengurangi faktor stress lingkungan dan upaya yang biasa dilakukan untuk memperbaikinya dilakukan dengan adaptasi dan modifikasi manusia dalam mengatasi faktor stress.

Upaya kearah ecobioregion management untuk DAS Batanghari yang terletak di Prop Jambi dan sebagian di Prop Sumatera Barat, merupakan langkah yang seharusnya dilakukan oleh Pemerintah Prop Jambi, bahkan seluruh Pemerintahan di Pulau Sumartera sebagaimana yang telah menjadi ”Kesepakatan Gubernur se Sumatera dalam dokumen Kesepakatan bersama seluruh Gubernur Sumatera untuk penyelamatan ekosistem Pulau Sumatera”, di Jakarta pada tanggal 18 September 2008 dalam upaya penyelamatan dan pelestarian ekosistem Sumatera.

Kesepakatan Gubernur se Sumatera dalam dokumen Kesepakatan, guna menyeimbangkan fungsi ekologis dengan pembangunan ekonomi masyarakat melalui antara lain Penataan tata ruang pulau sumatera berbasis ekosistem, restorasi kawasan krisis untuk perlindungan sistem kehidupan, melindungi kawasan yang memiliki nilai penting perlindungan sistem kehidupan, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim, kesepakatan tersebut disaksikan oleh Menteri Dalam Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Pekerjaan Umum dan Menteri Kehutanan.

Bahkan Wilayah Cachment area dari DAS Batang Hari ini, terutama daerah hilir sesuai data memiliki indikasi sebagai kawasan Rawan Kebakaran, terutama wilayah landscape Berbak yang berada di wilayah Muara Jambi dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, yang meliputi HL Gambut, Tahura dan Taman Nasional Berbak dan Sembilang.

Festival Sungai Batang Hari telah menjadi agenda Pariwisata Nasional, merupakan suatu pesta masyarakat Jambi dalam mewujudkan tingkat kepedulian masyarakat Jambi dalam melestarikan Budaya dan sejarah, penguatan ekonomi masyarakat dan bentuk kepedulian terhadap upaya pelestarian DAS batang Hari, yang saat ini cukup krisis, bahkan beberapa wilayah merupkan sebuah kawasan dengan tingkat ancaman kerusakan yang cukup tinggi, bentuk kepedulian tersebut dapat diwujudkan melalui upaya pemulihan ekosistem DAS Batanghari yang tercermin dalam RPJP masing-masing Kabupaten/kota dalam Propinsi Jambi

Festival Sungai Batang Hari diharapkan dapat mendukung beberapa Kabupaten/kota sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW), dimaknai minimal 2 makna penting yaitu sebagai ajang promosi wisata dan bentuk kepedulian masyarakat akan Sungai Batang hari dan Budaya Melayu Jambi, apakah dua makna tadi sudah tercapai dalam Festival ini, ini memerlukan kajian ilmiah secara independent untuk menentukan keberhasilan dari Festival ini, kita sangat menyadari bahwa promosi dan kepedulian itu memerlukan proses yang panjang, agar pestival selanjutnya lebih bermakna dan bermanfaat, sehinga memerlukan evaluasi melalui parameter yang terukur baik promosi, maupun bentuk kepedulian dalam kontek ekonomi dan kontek lingkungan, yang akan memberikan rekomendasi untuk Festival selanjutnya. Harapan kita Pestival ini harus meraih minimal 2 sukses, sukses pelaksanaan, dan sukses manfaat terutama manfaat ekonomi (multiflier efek) dari Festival

Pengelolaan wisata Wilayah Prop Jambi yang dikembangkan oleh masing-masing Wilayah Kabupaten/Kota harus terintegrasi dan dikelola dengan profesional agar bisa memberikan pengaruh positif terhadap PAD dan peningkatan pendapatan masyarakat, karena memang pengelolaan wisata saat ini lebih menitik beratkan pada pelibatan masyarakat secara aktif melalui Community based Tourism Development (CBTD), karena memasuki milenium ketiga ini ditandai dengan berkembangnya isu “4Ts” (transfortation, telecommunication, tourism and technologi) yang mendorong pariwisata berkembang menjadi salah satu industri yang tumbuh dengan dominan di berbagai belahan dunia.

Namun potensi dan kekayaan wisata alam tersebut tidak akan memberikan manfaat bagi PAD dan peningkatan Pendapatan masyarakat dan peluang lapangan kerja baru, apabila pengelolaan tidak berorientasi pada pengelolaan profesional, dan Prop Jambi sekedar bangga dengan Kekayaan Potensi Wisata Alam saja.

Festival Sungai Batang Hari, menjadi momen yang sangat penting dalam rangka menggerakan gerakan peduli pelestarian budaya, sejarah, Peduli dengan ekonomi yang diimplementasikan dalam pengelolaan wisata yang profisonal melalui multiflier effect terutama ekonomi, gerakan dan program kepedulian upaya pelestarian Sungai Batang Hari melalui gerakan Pemulihan ekosistem di beberapa wilayah stratgeis dan kegiatan peduli lainhya, bahkan festival ini menjadi puncak dari beberapa festival lainnya seperti Festifal Masyarakat Peduli Danau Kerinci, Festvila Muara Jambi, dll, yang memungkinkan untuk diadakan penilaian terhadap gerakan gerakan peduli tersebut secara berkala dan di lombakan pada Festival Sungai Batang Hari.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button