Muaro Jambi

Gawat! Proyek Rehab Kantor Bupati Dikerjakan Tanpa Konsultan Pengawas

Proyek rehab Kantor Bupati Muaro Jambi. Foto: Jambiseru.com
Proyek rehab Kantor Bupati Muaro Jambi. Foto: Jambiseru.com

Kerincitime.co.id, Berita Muaro Jambi – Proyek rehab Kantor Bupati Muaro Jambi senilai Rp 4,8 miliar sudah berjalan dua minggu. CV Citra Dwi Pratama selaku pelaksana kegiatan itu telah melaksanakan berbagai pekerjaan di lapangan.

Anehnya, kegiatan yang dilaksanakan CV Citra Dwi Pratama itu ternyata selama ini berjalan tanpa didampingi konsultan pengawas.

Kabid Cipta Karya Dinas PUPR Muaro Jambi, Anjar, ketika dikonfirmasi jambiseru.com media partner kerincitime.co.id mengakui kalau konsultan pengawas untuk kegiatan rehab kantor Bupati Muaro Jambi belum ada. Pekerjaan pengawasan untuk proyek rehab kantor bupati itu, saat ini baru selesai tender dan sedang diumumkan pemenangnya.

“Masih mau berkontrak, baru selesai lelang yang pengawasannya,” kata Anjar melalui via Whatsapp, Senin (29/7/2019).

Baca juga:  DPO Sargawi Tipu Warga Hingga Ratusan Juta Berhasil Ditangkap

Selain itu, Anjar sendiri menolak mengomentari kegiatan yang sudah berjalan tanpa adanya konsultan pengawas. Bahkan, Anjar tidak bersedia menjelaskan kapan waktu konsultan pengawas mulai bekerja.

“Jangan dijelaskan melalui WA, Pas ketemu saja dijelaskan,” cetus Anjar.

Dengan tidak adanya konsultan pengawas di lapangan dari dinas PUPR Muarojambi, menyebabkan pelaksa proyek rehab kantor Bupati leluasa berbuat salah. Dari pantauan di lapangan, pihak CV. Citra Dwi Pratama berani memulai pekerjaan tanpa melengkapi peralatan kerja seperti yang disyaratkan dalam proses lelang.

Dimana dalam persyaratan lelang pihak perusahaan harus memiliki mesin genset, namun pihak rekanan justru mencuri listrik dari kantor bupati. Pihak rekanan baru memasang genset setelah mendapat teguran.

Baca juga:  Jadi Tersangka Kasus Narkoba, Kabid Infokom Muaro Jambi Terancam 5 Tahun Penjara

Kali ini, dalam pengerjaan pengecoran, CV. Citra Dwi Pratama mengaduk semen dan batu secara manual. Padahal dalam syarat lelang jelas disebutkan perusahaan harus memiliki 2 unit Concrete Mixer atau yang biasa disebut molen. Saat mengaduk semen, tukang hanya menggunakan cangkul saja dan alat juga tak terlihat di lokasi proyek.

Salah satu pekerja yang ditanyai mengatakan, mereka memang tidak diberikan alat Concrete Mixer. Diabjuga berdalih alat tersebut tidak dibutuhkan. Sebab, kalau menggunakan molen nantinya dikhawatirkan semen akan berlebih.

“Ngecornya dikit-dikit, kalo pakek molen, nanti takut belebih. Jadi mau dikemanakan lebihnya itu,” jawab tukang itu. (red)

 

Tags

Related Articles

Berikan Komentar Anda :

avatar
  
smilegrinwinkmrgreenneutraltwistedarrowshockunamusedcooleviloopsrazzrollcryeeklolmadsadexclamationquestionideahmmbegwhewchucklesillyenvyshutmouth
  Subscribe  
Notify of
Back to top button

Dapatkan Berita Update "KERINCI TIME" Terbaru Setiap Harinya

Close
Close