Hikayat Perjalanan Tokoh Politik Kerinci

Hikayat Perjalanan Tokoh Politik Kerinci

Oleh : Damasrizal

Di suatu ketika, seorang tokoh politik kerinci melakukan perjalanan ke kota medan, ditengah kota medan yang metropolitan dan hiruk pikuk kegiatan si tokoh politik kerinci berkeliling. Di persimpangan  ditengah-tengah kota medan, beliau bertemu dengan tukang becak, beliau meminta kepada tukang becak tersebut untuk membawanya berkeliling kota medan, “pak, saya mau berkeliling di kota medan, melihat kota medan” kata sang tokoh kepada si tukang becak.

Lalu si tukang becak meminta ia untuk naik diatas becak, dan mulai mengayuh becaknya, berkeliling dalam kota medan yang dikenal dengan kota metropolitan di pulau sumatera ini. Pada tengah hari, lelah berkeliling dan sitokoh tahu betul begitu letih si tukang becak mengayuh sepeda, si tokoh mengajak si tukang becak makan siang di salah satu rumah makan restoran, namun anehnya si tukang becak tidak mau makan di dalam rumah makan, ia membawa nasinya ke dalam becaknya, dan disanalah ia makan.

“makan di dalam pak” kata si tokoh kepada si tukang becak, apa kata si tukang becak, “cukup didalam becak saya saja pak” katanya kepada sitokoh.

Setelah beristirahat dan makan siang,  si tokoh kembali mengajak situkang becak melanjutkan perjalanan keliling kota medan, hingga pukul 16.00 wib, dan pada akhirnya berhenti di hotel garuda dimana tempat ia menginap.

Keluar dari becak sitokoh tersebut mengeluarkan dompet dan memberikan ongkos kepada si tukang becak uang Rp. 100.000,- namun begitu terkejutnya dia ketika mendengar apa jawaban dari situkang becak, “cukup Rp. 70.000,- saja, sebab biasanya penghasilan saya paling banyak  Rp. 50.000,- jadi karena sore saya tidak lagi keluar saya ambil Rp.70.000,- “ katanya kepada si tokoh.

Mendengar jawaban si tukang becak, si tokoh menjawab “begini pak, sisa yang Rp.30.000,- saya kasih bapak Rp. 10.000,- untuk beli rokok bapak, Rp. 20.000,- untuk belanja anak-anak” kata si tokoh.

“kalau begitu saya terima pak, terima kasih banyak, nanti malam saya tidak keluar lagi” katanya.

Si tukang becak langsung pulang, mengayuh becaknya dengan semangat meskipun sudah begitu lelah selama seharian mengayuh keliling kota medan, didalam hati si tokoh berkata, “saya tidak menduga ada situkang becak hidup di kakilima bebas dan merdeka bisa dikatakan preman, namun didalam hatinya masih tersimpan kejujuran dan ketulusan” kata sitokoh.

Beberapa bulan kemudian sitokoh mengunjungi kota bukit tinggi Sumatera Barat, pengalaman di bukit tinggi hampir sama dengan di kota medan, saat malam tiba dia ingat ingin menyantap sate disalah satu pedagang sate kaki lima di tengah kota bukit tinggi. Namun setelah asyik menyantap sate si tokoh ingin merokok tapi saying dia kehabisan rokok, kebetulan di sekitar pedagang sate,  tidak ada yang menjual rokok, karena tidak ingin repot, ia melihat ada sekelompok anak muda bertato dan ia menduga mereka itu adalah preman, dalam hatinya berkata. “saya akan coba minta bantu preman di luar untuk membantu saya beli rokok” katanya.

Lalu sitokoh memanggil preman tersebut, salah satu diantara dari mereka datang dan si tokoh langsung berkata, “mohon maaf, saya mau meminta tolong, rokok saya sudah habis, jika bisa tolong beli rokok untuk saya” katanya sambil memberikan uang Rp. 50.000,-.

“baik pak” jawab si preman. Didalam hati sitokoh tersebut, “ini adalah sebuah uji coba, apakah preman tersebut akan datang membawa satu bungkus rokok untuknya, atau uangnya dibawa kabur ” katanya.

Berselang 5 menit, si preman datang, dan menyerahkan satu bungkus rokok dan kembalian uang Rp. 40.000,-.  si tokoh kaget, dan mengatakan, “apa untuk bapak ada di beli rokok?” katanya.

“tidak pak, saya sudah ada rokok” jawab si preman.

Lalu si tokoh memberikannya uang Rp. 20.000,- kepada si preman untuk membeli rokok, baru ia menerima uang dari si tokoh.

Beberapa hari kemudian si tokoh kembali ke kerinci, pada saat shalat zuhur di mesjid baiturrahman Sungai Penuh, ia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan tempat parkir seperti biasanya, setelah shalat, ia mengambil mobil untuk melanjukan aktifitasnya, ia kemudian memberikan uang sebesar Rp. 100.000,- kepada si tukang parkir, maksudnya memang ingin memberinya uang. Tetapi si tukang parkir menjawab “pak maaf cuma 1.000”  menolak uang si tokoh.

Mendengar jawaban dari si tukang parkir si tokoh bertanya kenapa menolak, si tukang parkir menjawab “tidak usah pak,  jumlah Rp.100.000,- terlampau banyak.

Dari kisah di atas apa yang bisa di petik?

  • · Menurut penulis ada beberapa otokritik atau instrospeksi terhadap tingkah dan sikap kita, ketika para orang-orang kecil masih berbicara dengan hati nurani saat berurusan dengan uang pemberian hasil keringat  mereka karena tidak setimpal dengan jerih payahnya.
  • · Sayang sekali dalam menghadapi pemilu 9 April 2014,  apakah pernah kita berbicara dengan nurani kita,  seolah kita tidak pernah merasa cukup dengan uang,  ketika harus memilih wakil di DPRD, DPR ukuran kita adalah uang.
  • · Bahwa memberi suara atau berpartisipasi dalam pemilihan umum itu adalah SEDEKAH,  janganlah sedekah kita di ukur dengan uang, atau sedekah kita harus dibayar.
  • · Pernahkah kita berpikir  Apa Jadinya dan Apa yang Akan Dilakukan Oleh Para Anggota DPRD ini nantinya ketika Duduk di DPRD dan DPR ini. Kalau kita memilih hanya karena UANG. Pilihlah yang anda yakini mampu menjadi memperjuangkan pembangunan daerah dan memang sudah terbukti mau mengurus masyarakat, bukan yang terpilih nanti hanya untuk dirinya sendiri !!!

Berbicaralah dengan hati nurani anda,

wajarkah menjual suara untuk menentukan nasib bangsa lima tahun kedepan

uang hanyalah alat, pilihan kita adalah hak

renungkanlah dengan hati dan pikiran yang bersih……!!!

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Berita Terkait By Google News

Apa Komentar Anda Tentang Artikel Ini?

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful