InternasionalNasional

Indonesia Dicoret Amerika dari Daftar Negara Berkembang

Kerincitime.co.id, Berita Jakarta – Amerika Serikat memutuskan mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Pencoretan mereka lakukan lewat Kantor Perwakilan Perdagangan atau USTR.

Dengan pencoretan tersebut Indonesia akan kehilangan beberapa fasilitas negara berkembang.

Pertama, Indonesia tidak akan menerima fasilitas Official Development Assistance (ODA). Fasilitas ini merupakan alternatif pembiayaan dari eksternal untuk pembangunan sosial dan ekonomi.

Dikutip dari Antara, Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi mengungkap dengan ODA, sebuah negara berkembang tidak hanya mendapat pendanaan dari pihak eksternal.

Dengan fasilitas ini, Indonesia bisa mendapatkan bunga rendah dalam berutang.

“Kita bicara mengenai utang, maka kita tidak dapat lagi klasifikasi ODA karena dengan itu kita akan mampu mendapatkan bunga yang murah. Kalau di bawah US$4.000 bisa dapat 0,25 persen,” katanya.

Baca juga:  Jokowi Sebut RS Darurat Corona di Pulau Galang Bisa Beroperasi Senin 6 April

Nantinya, penghilangan fasilitas ini akan berdampak pada perdagangan karena Indonesia akan menjadi subjek pengenaan tarif lebih tinggi.

Kedua, Indonesia akan kehilangan Generalized System of Preferences (GSP). GSP adalah fasilitas bea masuk impor terhadap produk ekspor negara penerima yang diberikan oleh negara maju demi membantu ekonomi negara berkembang.

Menurut Satria Sambijantoro dari Bahana Sekuritas, saat ini terdapat 3.544 produk Indonesia yang menikmati fasilitas GSP, dengan nilai ekspor tahunan mencapai US$2,1 miliar pada 2018. Ekspor signifikan termasuk perhiasan emas, ban karet, tas olah raga, alat musik.

Satria memaparkan AS merupakan salah satu negara penting bagi prospek neraca perdagangan Indonesia.

Baca juga:  Nilai Rupiah Terkini Rp16.273 Perdolar

“RI menikmati surplus perdagangan US$9,6 miliar dengan AS pada 2019,” ujarnya dalam keterangan resmi, dilansir Brito.id media partner Kerincitime.co.id dari laman Antara, Senin (24/2).

Menurut Satria, surplus dengan AS adalah yang terbesar, dibandingkan dengan mitra dagang lainnya seperti India (surplus US$7,6 miliar), Uni Eropa (surplus US$2), Jepang (defisit US$1,8miliar), Australia (defisit US$2,6miliar), Cina (defisit US$18,7milyar).

Selain Indonesia, beberapa negara seperti China dan India juga dicoret dari daftar tersebut.

Presiden AS Donald Trump mengkritisi mengenai negara-negara ekonomi besar, seperti China dan India, yang dikategorikan sebagai negara berkembang, sehingga mendapat preferensi khusus.

Menurut Trump, hal itu tidak adil, mengingat negara-negara yang menyandang status negara berkembang memperoleh pemotongan bea masuk dan bantuan lainnya dalam aktivitas ekspor dan impor. (Irw)

Tags

Related Articles

Berikan Komentar Anda :

avatar
  
smilegrinwinkmrgreenneutraltwistedarrowshockunamusedcooleviloopsrazzrollcryeeklolmadsadexclamationquestionideahmmbegwhewchucklesillyenvyshutmouth

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

  Subscribe  
Notify of
Back to top button

Dapatkan Berita Update "KERINCI TIME" Terbaru Setiap Harinya

Close
Close