HOT NEWSPolitikSungai Penuh

Wawancara Ekslusif, PANTASKAH FESDIAMON JADI WAKIL RAKYAT?

Kerincitime.co.id, Sungai Penuh – Melihat fenomena politik saat ini, membuat miris. Masyarakat sepertinya berlomba-lomba mengejar kekuasaan politik, tetapi tidak memahami hakikat dan fungsi kekuasaan politik (political power) itu sendiri. Peluang menjadi calon bupati, walikota, gubernur, presiden, dan anggota legislatif sudah dianggap “peluang kerja” baru yang bisa dimasuki oleh siapa saja, termasuk oleh mereka yang tidak jelas ideologi dan integritas moralnya. Ada sebuah persepsi yang salah atau miskonsepsi di tengah kehidupan sosial masyarakat kita saat ini tentang hakikat jabatan-jabatan politik.

Hanya sebagian kecil saja rakyat yang mengerti bahwa jabatan politik itu adalah ladang pengabdian, medan perjuangan untuk kemaslahatan rakyat, bukan tempat mencari popularitas, mencari kaya, dan mencari jabatan dengan segala fasilitas mewahnya. Kebanyakannya, terlebih lagi masyarakat awam, masih menganggap jabatan-jabatan tersebut adalah cara cepat menjadi kaya dengan memanfaatkan kekuasaan beserta fasilitas negara yang ada. Akibatnya, muncul apatisme politik dan ketidakpercayaan publik (distrust) terhadap parpol dan para politisi, yang dikenal dengan istilah “golput”. Idealnya, hal tersebut tidak mesti terjadi kalau ada pendidikan politik (political education) yang baik dan benar kepada masyarakat.

Masyarakat harus memahami bahwa jabatan politik itu bukanlah tempat mencari fasilitas dan kekayaan, tetapi merupakan ladang pengabdian dan perjuangan untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat (social welfare). “Jabatan politik itu adalah ladang pengabdian. Ia adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat sebagai pemilik mandat dan juga di hadapan Tuhan itu sendiri,” kata Fesdiamon, calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Sungaipenuh, dari Partai Hanura (Hati Nurani Rakyat) dengan nomor urut 4 (empat). Berikut petikan wawancara TVRI Jambi dengan tokoh muda asal Rawang itu di kediamannya, Jln. Diponegoro, Jambi, jam 20.00 WIB, Sabtu, 30 November 2013.

Apa alasan Anda untuk maju menjadi anggota legislatif?

Ya, saya ingin mengabdi untuk masyarakat. Saya menganggap jabatan politik adalah sarana yang tepat untuk memperjuangkan nasib rakyat.

Dulu Anda kan di Partai Demokrat. Sekarang Anda pindah lagi ke Hanura. Ada apa?

Saya tidak tahu persis mengapa saya di-delete dari Demokrat. Yang jelas, di Demokrat itu, saya dicoret. Bukan mengundurkan diri. Nah, karena saya punya cita-cita politik, maka saya harus bergabung dengan partai politik. Kemudian, Hanura “melamar” saya. Ya, saya terima. Yang jelas saya butuh wahana untuk memperjuangkan cita-cita politik saya.

Apa cita-cita politik Anda?

Ya, saya itu punya prinsip, berpihak pada kebenaran, keadilan, keindahan. Itu saja. Jika itu benar, saya ikuti. Saya perjuangkan. Tapi, jika itu tidak benar, tidak adil, tidak baik, ya saya akan menentang. Saya akan kritisi. Saya akan luruskan. Tentu, tetap dalam kerangka atau koridor hukum dan konstitusional yang benar. Sehingga rakyat benar-benar merasa terwakili diparlemen.

Apakah pindah partai itu bukan termasuk “politisi kutu loncat”?

Tidak. Saya pikir, istilah “politisi kutu loncat” itu tidak pas dengan kondisi bangsa kita saat ini. Coba Anda baca sejarah. Bung Karno itu juga pernah pindah partai, dan itu tidak ada persoalan. Yang jelas, bagi Bung Karno ketika itu, cita-cita politiknya bisa tercapai. Apa itu? Kemerdekaan Indonesia. Jadi, saya pikir itu istilah yang dibuat berdasarkan sentimen politis saja.

Anda sekarang kan berusia 28 tahun. Apakah itu bukan usia yang terlalu muda? Atau Anda harus menunggu 5 tahun lagi?

Dalam politik, menurut saya, usia itu tidak jadi ukuran. Anda lihat di zaman kemerdekaan dulu. Kebanyakannya didominasi oleh kaum muda. Bung Karno jadi presiden di usia yang relatif muda. Sebaliknya, usia tua juga tidak jadi persoalan. Anda lihat Ronald Reagen menjadi Presiden Amerika itu diusia 70-an tahun. Ayatullah Khomaini pemimpin spiritual Iran juga menjadi panutan dan tokoh rakyat Iran di usia tua. Jadi, yang jelas, usia itu bukanlah ukuran. Yang penting, bagi saya, adalah ia punya kemauan, kemampuan, kapabilitas, kapasitas, dan integritas moral. Dan, tahu apa yang harus diperbuat.

Dalam berpolitik, biaya atau cost politik itu adalah suatu hal yang sangat dibutuhkan dan bahkan bisa jadi sangat menentukan dalam pencalegan. Bagaimana Anda melihatnya?

Nah, pesoalan ini perlu juga saya berikan pencerahan. Begini, salah satu penyebab tumbuh suburnya korupsi di negeri ini adalah karena politik biaya tinggi. Ada sebuah sikap keliru dari masyarakat, seperti misalnya, “Kami tidak mau pilih caleg yang tidak mau memberi kami uang.” Sikap yang seperti ini sangat-sangat keliru. Cara seperti ini harus kita robah.

Apa modal Anda maju menjadi caleg?

Keyakinan dan niat baik untuk memperjuangkan nasib rakyat.

Hanya itu?

Iya.

Ya, maksud saya, modal finansial.

Baca juga:  Pemkot Peringati Hari Kesehatan Nasional ke 55

Saya tidak punya uang.

Jadi, apakah Anda maju menjadi wakil rakyat untuk mencari kaya?

Saya sudah sering menyampaikan hal ini pada berbagai kesempatan. Menjadi anggota legislatif itu bukan tempat mencari kaya. Kalau mau mencari kaya, ya Anda jadi pengusaha saja. Ini bukan tempat mencari kaya. Persoalan ini sudah sering saya sampaikan di forum-forum maupun di berbagai kesempatan diskusi. Saya juga sering menyampaikan hal ini kepada banyak orang, termasuk di kalangan mahasiswa dan politisi itu sendiri. Saya katakan, lembaga legislatif itu tempat berjuang, tempat mengabdi. Jangan kotori lembaga terhormat itu dengan nafsu serakah kita akan materi. Oleh karenanya, saya mengistilahkannya DPR itu “ladang pengabdian”. Bukan ladang uang. Hal ini juga yang membuat saya untuk tidak mendidik rakyat atau konstituen saya dengan money politics. Politik uang atau money politics adalah salah satu penyebab tumbuh suburnya KKN di negeri ini. Sementara saya telah membangun komitmen untuk berjuang melawan praktik-praktik korupsi. Dan, akan menghindari prilaku korupsi. Kasihan rakyat kita. Rakyat kita sudah terlalu lama sengsara akibat prilaku korupsi yang merajalela di berbagai sektor.

Tapi sudah menjadi rahasia umum, bahwa agar terpilih, para caleg harus membayar per kepala sekian rupiah. Bagaimana menurut Anda?

Ya, inilah yang harus kita robah. Mengapa kita harus ikut-ikut cara seperti itu. Cara seperti itu sangat keliru. Kita harus merobahnya. Mulainya dari mana? Ya dari kita sendiri. Jangan bodohi rakyat kita sendiri dengan cara-cara seperti itu. Kalau masih kita terapkan cara-cara kotor seperti itu, kualitas lembaga legislatif kita tidak akan menjadi baik. Bahkan, kalau itu tidak kita robah, lembaga legislatif dapat menjadi sumber bahkan “lumbungnya” korupsi. Tentu rakyat tidak menginginkan hal itu terjadi. Kalau tidak mau, ya bagaimana? Jawabannya, ya jangan pilih caleg karena uangnya, tapi pilihlah caleg yang punya niat yang tulus dan ikhlas untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat.

 

Ok. Begini, kan banyak komentar miring di tengah masyarakat, bahwa untuk menjadi anggota legislatif, khususnya untuk tingkat DPRD Kabupaten dan kota, dibutuhkan uang sekitar 200 juta. Bagaimana komentar Anda?

 

Untuk apa uang segitu? Saya tidak mau mencari dukungan dengan cara-cara seperti itu. Karena hal itu dapat mendorong seseorang untuk mengembalikan modalnya dengan cara korupsi ketika ia menjabat. Saya tidak mau seperti itu. Anda lihat ya, dulu, di tahun 50-an, para politisi berjuang tidak dengan cara jual-beli suara seperti itu. Mereka berjuang berdasarkan ideologi dan cita-cita sosial. Nah, saya ingin mengembalikan spirit para pejuang kita dulu. Bahwa, berpolitik itu adalah berjuang dan berjuang itu adalah berpolitik.

Apa yang telah Anda perbuat untuk daerah anda selama ini?

Tidak ada. Ha..ha..ha… Yang telah berbuat untuk daerah saya  selama ini ya mereka-mereka itu. Sehingga, kondisi  daerah saya, Hamparan Rawang, menjadi seperti sekarang ini. Ini adalah hasil dari perbuatan mereka-mereka itu. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka dunia akhirat.

Siapa mereka yang Anda maksud?

Ya, mereka yang telah diberi amanah selama ini oleh masyarakat untuk ngurus Hamparan Rawang. Saya kan, selama ini, tidak pernah diberi amanah oleh masyarakat Hamparan Rawang untuk mengurus mereka. Makanya, saya katakan saya belum pernah berbuat. Itu yang saya maksud dengan “tidak pernah berbuat”.

Jadi, bagaimana?

Ya  justru itu. Selama ini, kan saya katakan tadi saya belum berbuat untuk daerah saya. Oleh karena itulah, daerah saya jadi seperti sekarang ini. Ha..ha..ha.. Amburadul. Artinya, daerah saya tidak maju dikarenakan saya tidak pernah berbuat. Oleh karena itulah, saat ini, sudah saatnya saya harus berbuat dan mengabdikan diri untuk masyarakat yang saya cintai. Saya harus berjuang untuk merubah kondisi itu. Harus ada perubahan (change) ke arah yang lebih baik.

 

Ada juga komentar miring, bahwa setelah menjadi wakil rakyat, para anggota DPR menjadi semakin sulit didekati. Jadi, ada kesan menjaga wibawa gitu. Tidak mau diganggu oleh rakyatnya. Bagaimana pendapat Anda?

 

Hal seperti itu tidak boleh dilakukan oleh seorang wakil rakyat. Tidak pantas. Orang yang seperti itu tidak layak disebut wakil rakyat. Yang namanya wakil rakyat, ya dia harus berbaur dengan rakyat. Jabatan legislatif itu bukan barang mewah. Bukan barang lux. Artinya, bukan sesuatu yang mewah atau sesuatu yang wah seperti budaya di zaman Orde Baru dulu. Namun, ia juga bukan merupakan hal yang murahan. Maksud saya, jabatan politik seperti DPR atau DPRD adalah amanah. Sekali lagi saya tekankan, itu amanah! Ia merupakan mandat dari rakyat. Masa, setelah kita menjadi wakil rakyat malah rakyatnya kita cuekin, ha..ha..ha… Itu tidak benar. Jadi, wakil rakyat itu harus akrab dengan rakyat. Ia harus berada di tengah massa rakyat. Ia harus membimbing rakyat. Kalau kita meminjam istilah Ali Syari’ati, arsitek revolusi Iran itu, ia harus mencerahkan rakyat dengan bergumul bersama massa rakyat, bukan meng-elite dengan cara memisahkan diri dan berada di menara gading.

Baca juga:  Uang Komite Miliaran Rupiah SMA 1 dan SMA 4 Sungai Penuh Disorot

 

 

Bagaimana Anda melihat fenomena golput saat ini?

 

Ini merupakan gejala apatisme politik. Masyarakat memilih golput karena berbagai hal. Salah satunya adalah karena ketidakpercayaan (distrust) kepada wakil-wakil rakyat di lembaga-lembaga legislatif. Nah, hal inilah yang harus kita rubah. Caranya, tentu dari tokoh-tokoh politik itu sendiri. Berikan pencerahan dan pendidikan politik secara benar kepada masyarakat. Berikan contoh atau keteladanan yang baik kepada masyarakat.

 

 

Melihat fenomena pencalegan saat ini, apa komentar Anda?

 

Saya melihat ada sebuah persepsi yang salah di tengah masyarakat. Ada semacam miskonsepsi, gitu.

Maksud Anda?

 

Ya maksud saya, saat ini jabatan-jabatan politik seperti, misalnya, peluang untuk menjadi kepala daerah dan anggota legislatif sudah dianggap “lapangan pekerjaan” baru. Ha..ha..ha… Coba Anda lihat, orang ramai-ramai ngambil formulir untuk nyaleg. Untuk apa? Apakah ini peluang kerja baru? Bukan. Ini ladang pengabdian. Artinya, tidak semua orang bisa menjadi wakil rakyat. Dibutuhkan integritas moral dan ideologi yang jelas. Kalau saat ini, coba Anda perhatikan, ada yang baru “satu malam” mengenal dunia politik, karena melihat peluang nyaleg ada, ya mereka juga buru-buru ikut nyaleg, ha..ha..ha… (tertawa lepas).

 

 

 

 

Sebenarnya apa sih fungsi utama dari lembaga legislatif itu?

 

Fungsi utama legislatif itukan ada tiga, yaitu: fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan.

 

Bagaimana Anda melihat fungsi legislatif saat ini, sudah sesuaikah?

 

Ya, saya melihat masih belum optimal dan belum berjalan sebagaimana mestinya. Oleh karenanya, masyarakat mengecam lembaga ini. Karena sering mengecewakan harapan rakyat. Kritikan publik itu sah-sah saja dalam sebuah negara demokrasi.

 

Di segi apa saja masyarakat belum puas terhadap kinerja lembaga legislatif?

 

Ketiga-tiganya.

 

Bisa Anda jelaskan lebih lanjut?

 

Ya, dari segi legislasi, misalnya, masyarakat masih belum puas dengan produk-produk hukum atau peraturan yang dihasilkan oleh lembaga ini. Di tingkat undang-undang, kita bisa saksikan saat ini banyaknya undang-undang yang dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK). Di level daerah, yakni Perda, juga demikian. Banyaknya Perda yang dikeluhkan oleh masyarakat karena tidak mencerminkan rasa keadilan. Produk legislasi saat ini, menurut saya, belum aspiratif.

Maksud Anda?

 

Artinya begini, dalam membuat produk legislasi atau peraturan, seperti Perda, misalnya, semestinya berdasarkan aspirasi dari masyarakat itu sendiri. Kalau sekarangkan tidak. Anda lihat sendiri. Masyarakat butuh ini, yang diberikan lain, yang diatur lain. Dengan kata lain, produk legislasi yang ada saat ini, banyak yang tidak berdasarkan kehendak atau cita-cita kesejahteraan rakyat.

Fungsi anggaran juga seperti itu, saya lihat. Pengalokasian anggaran masih belum adil. Anggaran yang ada belum diperuntukkan sebagiannya untuk rakyat banyak. Anggaran masih terkuras untuk menutupi kebutuhan rutin pemerintah, khususnya untuk belanja pegawai, seperti anggaran mobil dinas, anggaran untuk beli komputer, anggaran ini, anggaran itu, tunjangan ini, tunjangan itu, studi banding, yang kalau kita perhatikan masih belum efektif dan efisien. Nah, ini yang harus kita rubah. Merubah hal tersebut adalah salah satu misi saya.

 

Anda yakin mampu memperjuangkan itu?

 

Insya Allah, kalau saya diberi kesempatan dan mendapat restu oleh masyarakat.

 

Di bidang pengawasan, bagaimana Anda melihat?

 

Juga belum maksimal. Saat ini, dalam pengamatan saya ya, legislatif bukannya mengawasi kinerja eksekutif. Malah, mereka berkolaborasi dengan eksekutif untuk menjalankan kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat. Tapi, sekali lagi, ini pandangan saya. Ke depan, kita berusaha bagaimana fungsi pengawasan ini benar-benar berjalan maksimal. Kalau eksekutif menyimpang, ya harus dikritisi. Harus diluruskan. Sebaliknya juga, jika eksekutifnya benar, yang harus tetap dikawal. Agar, cita-cita kesejahteraan rakyat dapat terwujud.

 

Jika Anda terpilih, apa hal mendesak yang akan Anda perjuangkan?

 

Begini, berbicara persoalan kesejahteraan rakyat, kan ada tiga hal penting yang menjadi pokok utama. Apa itu? Yaitu, pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Inilah hal utama yang harus menjadi perhatian.

 

Di bidang ekonomi, apa yang bisa Anda perjuangkan?

 

Begini. Menurut peraih hadiah Nobel Ekonomi tahun 1998, Amartya Sen, kemiskinan terjadi itu bukan karena kurangnya makanan, tetapi karena kurangnya demokrasi. Artinya, apa? Untuk membebaskan manusia dari kemiskinan, berikan akses yang luas untuk mereka mengembangkan hidup sesuai dengan pilihan mereka. Sekarang inikan tidak. Anda lihat, orang yang bercita-cita jadi pengusaha, karena terhambat oleh permodalan, akhirnya niat itu terkubur. Orang yang berniat jadi dosen, karena tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, akhirnya mundur dari cita-cita itu. Yang berniat jadi ilmuwan, juga seperti itu. Nah, itulah yang menjadi penyebab kemiskinan.

Baca juga:  Warga Banyak Mengurus Penurunan Kelas BPJS

Jadi, bagaimana?

 

Ya, berikan akses yang luas kepada masyarakat untuk mengembangkan hidup dan kehidupan mereka sesuai dengan pilihan mereka. Penyebab kemiskinan itu, adalah aksesibilitas. Karena keterbatasan akses, orang terpaksa mengerjakan apa yang dapat dikerjakan, bukan apa yang bisa mereka kerjakan.

 

Bisa Anda berikan contoh kongkret apa saja yang akan Anda lakukan setelah jadi wakil rakyat?

 

Ada banyak hal yang akan saya perjuangkan untuk masyarakat. Namun, yang lebih mendesak bagi saya itu ada tiga hal. Pertama, menyediakan mobil ambulance di tiap-tiap kecamatan. Jadi, ketika sakit, masyarakat bisa mudah mendapatkan pertolongan medis. Jangan seperti sekarang. Apa lagi pada waktu tengah malam. Masyarakat masih mengalami kesulitan untuk memperoleh pertolongan medis dengan cepat ketika ada keluarga mereka yang kritis. Kedua, menyediakan rumah informasi yang akan saya namakan “Fesdiamon Center”. Rumah informasi ini akan berfungsi sebagai tempat bagi masyarakat untuk memperoleh berbagai informasi tentang berbagai hal, khususnya tentang persoalan pembangunan daerah. Tentang korupsi, misalnya. Tentang penyelewengan proyek, dan lain sebagainya. Dan, rumah atau pusat informasi ini bisa juga menyediakan berbagai informasi yang berkaitan dengan kepentingan hidup masyarakat, seperti tentang peluang usaha, peluang kerja, info beasiswa, dan lain sebagainya. Ketiga, saya juga akan memperjuangkan anggaran untuk pengadaan mobil pemadam kebakaran di tiap kecamatan. Atau, setidaknya, dua atau tiga kecamatan, terdapat satu mobil pemadam kebakaran.

 

 

Apa yang menjadi musuh utama bangsa kita saat ini?

 

Kemiskinan dan pengangguran.

 

Berbicara persoalan kemiskinan dan pengangguran itukan persoalan ekonomi. Di bidang ekonomi, apa yang mesti Anda dilakukan?

 

Ada beberapa hal yang menjadi problem besar ekonomi, yaitu bekerja atau jadi pengusaha atau berusaha sendiri. Nah, terhadap hal tersebut, ada beberapa kendala yang dihadapi oleh masyarakat.

 

Bisa Anda jelaskan lebih lanjut?

 

Ya, dalam hal pekerjaan, masyarakat mengalami kesulitan mencari tempat kerja. Mengapa? Karena, jumlah tenaga kerja saat ini tidak sebanding dengan lapangan kerja yang tersedia. Nah, ini harus menjadi perhatian yang serius dari pemerintah untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat.

Bagaimana caranya?

 

Investasi. Perbanyak investasi di dearah. Permudah upaya masyarakat untuk membuka usaha seperti akses terhadap permodalan, izin usaha, dan pelatihan life skill.

 

Bukankah persoalan permodalan itu adalah urusannya pihak perbankan?

 

Ya, justru itu. Pemerintah harus membantu kemudahan akses masyarakat ke perbankan. Selama inikan masyarakat tidak akrab dengan perbankan, yang diistilahkan dengan tidak “bankable”. Masyarakat yang punya kemauan berusaha, tetapi tidak punya modal, harus dibantu kemudahan akses permodalannya. Saat ini masih banyak masyarakat yang tidak memahami bagaimana berurusan dengan pihak bank dalam mendapatkan bantuan permodalan.

 

 

Persoalan izin usaha, bagaimana?

 

Juga begitu. Permudah izin usaha bagi masyarakat. Jangan ada pungli dalam pengurusan izin usaha. Hal itu akan membuat orang enggan untuk berusaha. Perpendek urusan birokrasi yang terlalu berbelit-belit. Itu counterproductive dengan upaya kita menekan angka kemiskinan.

 

Apa lagi yang menjadi persoalan ekonomi?

 

Pengembangan diri. Kita memang tidak bisa memberikan langsung apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. Tetapi, yang perlu itu adalah membantu memfasilitasi orang untuk mengembangkan diri. Misalnya, beri dia akses pendidikan. Kalau orang sudah cerdas, sudah terdidik, sudah punya skill, dia tidak mungkin nganggur. Minimal, dia bisa berusaha sendiri dengan modal skill yang dia miliki. Untuk persoalan ini, beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sangat perlu, saya pikir. Anggarkan beasiswa bagi mereka yang ingin mengembangkan diri dari tingkat SLTA sampai jenjang S3.

Kalau janji politik Anda tidak bisa tercapai, Anda siap mundur?

 

Siap. Kalau mundur itu gampang hahahaha… Saya siap mundur, kalau memang saya tidak sanggup.

 

Baik. Closing statement dari Anda.

 

Saya berharap masyarakat dapat jeli dalam menentukan pilihannya pada Pemilu 2014 nanti. Dan, tentunya, saya juga memohon doa dan dukungan dari masyarakat. Mudah-mudahan saya mampu berbuat lebih banyak dan lebih baik untuk masyarakat, agama, nusa, dan bangsa yang kita cintai ini. Semoga Tuhan meridhai kita semua.

Tags

Related Articles

Berikan Komentar Anda :

avatar
  
smilegrinwinkmrgreenneutraltwistedarrowshockunamusedcooleviloopsrazzrollcryeeklolmadsadexclamationquestionideahmmbegwhewchucklesillyenvyshutmouth
  Subscribe  
Notify of
Back to top button

Dapatkan Berita Update "KERINCI TIME" Terbaru Setiap Harinya

Close
Close