Kerncitime.co.id, Berita Jakarta – Perkembangan terbaru dari pencarian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu pada Sabtu (9/1/2021)lalu adalah mulai terdeteksinya sinyal dari black box.
Temuan sinyal black box ini penting untuk menemukan lokasi jatuhnya pesawat dengan rute Jakarta-Pontianak itu. Sinyal black box atau kotak hitam ditangkap berada di kedalaman 17-20 meter di bawah laut, pada Minggu (9/1/2021) lalu.
Saat terjadi peristiwa kecelakaan pesawat, selain korban, black box menjadi bagian yang paling dicari keberadaannya.
Benda ini dapat merekam dan menjadi sumber yang menjelaskan teknis terjadinya kecelakaan sebuah pesawat.
Apa yang perlu kita ketahui soal black box? Berikut 7 fakta soal kotak hitam:
- Berwarna oranye
Meski dinamakan black box atau kotak hitam, sebenarnya benda ini berwarna oranye. Pewarnaan tersebut dimaksudkan agar tim pencari mudah menemukannya.
Sementara, penamaan black box berawal dari sejarah penggunaannya di masa Perang Dunia II. Alat pendeteksi ini dicat warna hitam agar tidak memantulkan cahaya.
- Penemu black box
Penemu black box adalah David Warren.
Ia menciptakan alat ini pada 1950. Saat usianya masih enam tahun, ayah Warren tewas dalam kecelakaan pesawat pertama di Australia.
Kejadian ini menjadi latar belakang Warren untuk merancang black box. Pada 1960, Australia menjadi negara pertama yang mewajibkan penggunaan black box untuk semua pesawat komersial.
- Tahan banting
Black box dirancang agar tidak rusak ketika terjadi sebuah kecelakaan pesawat. Lapisan luarnya adalah titanium atau baja tahan karat dengan dua lapisan.
Tabung black box tahan banting karena telah diuji dengan dilontarkan menggunakan meriam udara. Lontaran tersebut menciptakan dampak 3.400 Gs.
Selain itu, benda ini juga kedap air sampai kedalaman 6.000 meter dan tahan suhu panas sampai di atas 1000 derajat celcius selama sedikitnya 30 menit.
- Terdiri dari 2 bagian
Dalam black box terdapat dua bagian penting, yaitu Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR).
FDR berisi rekaman kecepatan pesawat, ketinggian, percepatan vertikal, dan aliran bahan bakar. Dengan menganalisis data dalam FDR, kita dapat mengetahui teknis terjadinya kecelakaan sebuah pesawat.
Sementara, CVR berisi rekaman percakapan yang terjadi di kokpit. Percakapan pilot dan kopilot yang terjadi sebelum kecelakaan dapat memperkuat invetigasi kecelakaan pesawat.
- Kapasitas penyimpanan
Sebuah black box dapat menyimpan data penerbangan sampai 25 jam. Data tersebut tersimpan dalam FDR, dan membantu penyelidik mencatat berbagai fungsi operasi pesawat, seperti detail waktu, ketinggian, kecepatan udara, dan arah pesawat.
Adapun, rekaman dalam CVR mampu merekam percakapan pilot dan kopilot selama 2 jam. Perekam suara kokpit berfungsi untuk menentukan waktu kejadian, karena berisi informasi seperti komunikasi antara awak, pengawas darat, dan pesawat lain.
- Letaknya di ekor pesawat
Setiap pesawat, baik yang digunakan untuk kepentingan komersial, bisnis, militer, dan kepentingan lainnya, wajib memasang black box.
Umumnya, letak black box biasanya ada di bagian ekor pesawat. Mengapa di bagian ekor? Jika terjadi kecelakaan, diharapkan mencegah kerusakan black box.
Akan tetapi, ada black box yang letaknya di bagian tengah atau bagian belakang dekat roda pesawat. Posisi tersebut tergantung dari konstruksi dan rangka pesawat.
- Mengirim sinyal hingga 30 hari
Jika terjadi suatu kecelakaan, black box memiliki sistem sinyal darurat berupa sinyal “ping”. Sinyal tersebut berfungsi sebagai pendeteksi lokasi keberadaan black box.
Sinyal akan dikirim setiap satu detik sekali secara otomatis selama 30 hari. Sinyal itu juga bergantung pada kapasitas baterai sebuah black box.
Para ahli memperhitungkan waktu sinyal paling optimal adalah 6-10 hari sampai baterai melemah. (Irw)
Sumber: Kompas.com