
Mafia BBM Beraksi Didepan Mata, APH Tak Ada Nyali
Kapolres Kerinci Pilih Bungkam
Kerincitime.co.id, Berita Sungai Penuh – Kelangkaan solar bersubsidi di Kerinci dan Sungai Penuh diduga kuat dipicu oleh aksi borong untuk pasokan tambang emas ilegal. Kapolres memilih bungkam.
Padahal aksi Mafia BBM tepat didepan mata, nyali Aparat sepertinya tak berguna.
Antrean kendaraan mengular ratusan meter di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Koto Lebu Kota Sungai Penuh sepanjang akhir Mei lalu.
Parahnya lagi, keganasan antrian hingga 4 Jalur, akibatnya kemacetan tak terhindar.
Namun, pemandangan itu menyisakan ironi yang pekat, ketika warga kelas bawah harus gigit jari karena pasokan solar subsidi mendadak habis, sejumlah mobil tertentu dengan bebas mengisi tangki mereka berkali-kali. Mesin pompa BBM mendadak mati saat rakyat mendekat, tapi seketika hidup kembali begitu orang dalam merapat.
Dari informasi yang dihimpun menunjukkan bahwa kelangkaan ini bukanlah masalah teknis distribusi semata, melainkan buah dari sistem penyelewengan terstruktur yang diduga melibatkan pemilik SPBU, oknum pelindung (beking), dan jaringan mafia tambang. Modusnya terbilang rapi. Pihak SPBU disinyalir menyediakan langsung tumpukan kode batang (barcode) Pertamina yang tidak sesuai dengan plat nomor kendaraan yang mengantre.
Seorang sumber yang mengetahui persis permainan ini membisikkan bahwa setiap SPBU di wilayah Kerinci dan Sungai Penuh telah mengondisikan jatah preman atau kuota khusus untuk para oknum dekingan.
“Ada mekanisme tanpa barcode yang lolos begitu saja. Mobil yang sama bisa bolak-balik menyedot solar subsidi dalam sehari,” kata sumber yang menolak dikutip namanya demi keselamatan.
Ke mana larinya ribuan liter solar bersubsidi yang haknya dirampas dari masyarakat kecil itu? Benang merah penelusuran mengarah pada aktivitas hulu sungai ekonomi gelap di Provinsi Jambi dalam industri pertambangan emas tanpa izin (PETI) alias tambang emas ilegal. Solar subsidi berharga murah yang disedot dari SPBU Kerinci dan Sungai Penuh diduga kuat dialirkan secara masif sebagai bahan bakar alat-alat berat di lokasi tambang ilegal tersebut.
Simbiosis mutualisme kejahatan ini tidak berhenti di hulu. Kilau komoditas hasil tambang emas ilegal tersebut disinyalir mengalir kembali ke hilir, masuk dan diputarkan di salah satu toko emas ternama di pusat Kota Sungai Penuh. Skema pencucian uang dan penadahan hasil bumi ilegal ini diduga telah berjalan bertahun-tahun, menciptakan ekosistem hitam yang kebal hukum karena disokong oleh modal yang masif.
Aktivis Kerinci, Edward P, membenarkan adanya fenomena ganjil yang terus berulang ini. Kepada jurnalis pada Selasa (2/6), ia meluapkan kegeramannya atas situasi di lapangan yang kian telanjang.
“Apa mata kami yang salah lihat fenomena di SPBU Kerinci dan Sungai Penuh terkait solar subsidi itu? Di depan mata terlihat ada, tetapi susah didapatkan. Ada dugaan kuat permainan pemilik SPBU dengan beking-nya dalam mengontrol SPBU jenis solar subsidi untuk orang tertentu,” ujar Edward tajam.
Menurut Edward, jatah untuk para beking ini membuat sistem digitalisasi barcode yang digagas Pertamina lumpuh total. Kendaraan penimbun bisa melenggang tanpa pemeriksaan, sementara masyarakat miskin dihadapi dengan alasan klasik seperti mesin mati (stok habis).
Dilansir jambicyber, Â Kepala Kepolisian Resor Kerinci, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ramadhanil, pada Selasa, 26 Mei 2026, sang perwira menengah memilih untuk mengambil langkah seribu dengan diam.
Sikap tutup mulut pucuk pimpinan polres ini memicu tanda tanya besar di kalangan publik mengenai komitmen korps baju cokelat dalam memberantas mafia energi dan penyelundupan.
Namun, alih-alih memberikan jawaban resmi secara tertulis atau verbal, Kapolres justru mengutus salah satu anggotanya untuk menghubungi wartawan. (Red)





