Panwaslu Kerinci Sorot Dugaan Politik Uang

Kerincitime.co.id, Jambi-Mendekati pelaksanaan pemungutan suara ulang Pemilukada Kerinci di Kecamatan Siulak Mukai dan Sitinjau Laut, berembus kuat dugaan politik uang pengikat suara dengan syarat memberikan sumpah setia tidak mengalihkan dukungan.

Namun tidak semua warga di sana menerima rayuan itu. Desri semisal, warga Sitinjau Laut mengaku menolak disumpah untuk memilih salah satu calon bupati. Katanya sebagai kompensasi sumpah setia dukuangan suara, dia akan menerima Rp 150.000. Namun dirinya menolak dan pergi.

“Saya diajak orang datang ke rumahnya. Setelah itu saya akan diberi uang Rp 150.000, namun dengan syarat disumpah dahulu,” ujar Desri melalui telepon, Sabtu (23/11)
Selain Desri, ada juga warga Sitinjau Laut lainnya. Feri namanya, dia juga mengaku diming-imingi sejumlah uang. Katanya uang itu diberikan jika memilih salah seorang calon bupati. Namun jika tidak mau tidak akan diberi uang. “Sebelumnya saya disumpah dulu, baru dikasih (uangnya),” jelasnya.

Praktik gerilya suara dukungan dengan cara sumpah disebut-sebut telah menjadi rahasia umum, dan jamak dilakukan pihak-pihak tertentu yang mengklaim timses dari kontestan yang berbeda. Sumber Tribun menyebut, tak jarang demi mendapatkan suara dukungan pihak itu rela memberikan kompensasi rupiah lebih tinggi dibanding pesaingnya.

“Misalnya Tim A memberikan Rp 150.000, besoknya tim B memberikan 200.000 tapi lain waktu tim A malah memberi uang (lebih) lagi,” ungkap sumber Tribun. Kabar praktik itu juga terendus Panwaslu Kerinci. Mereka tak menampik kemungkinannya, bahkan disebutnya sudah menjadi rahasia umum.

Nanang, Anggota Panwaslu bahkan menyebut modusnya tidak biasa lagi, termasuk dugaan politik uang dengan sumpah setia itu. Versi yang didengarnya, calon pemilih diajak ke rumah warga yang menjadi timses, selanjutnya dibujuk memberikan suara dukungan dengan iming-iming rupiah, namun dengan syarat bersedia disumpah.

“Dia disumpah dengan Alquran oleh seorang ustaz,” kata Nanang melalu telepon, kemarin. Namun pihaknya sejauh ini kesulitan membuktikan kabar itu. Apalagi mereka yang mengaku pernah diminta bersumpah dengan iming-iming uang tidak pernah melapor ke Panwaslu. Belum lagi, informasi yang diperolehnya, warga yang disumpah juga bukan berdiam di dua kecamatan coblos ulang.

“Kita juga susah menjangkau tempat di mana mereka disumpah,” kata Nanang. Namun dia berjanji begitu ada warga yang melaporkan adanya praktik ini, pihaknya segera meresponnya pada kesempatan pertama. “Iya akan kita proses sesuai peraturan,” janjinya. Begitu juga dengan gerilya suara dukungan dengan iming-iming benda, pihaknya juga belum menemukan.
“Kita sudah kerahkan tiga PPL di setiap desa di dua kecamatan itu.

Kalau ada barang pemberian dari tim ses akan mudah ditemukan,” jelasnya. Namun Nanang menyakinkan proses pengawasan coblos ulang ketat, dan pihaknya juga menjamin akan bertindak tegas. (TRIBUNJAMBI.COM /arn)

 

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

Berita Terkait By Google News

ăn dặm kiểu NhậtResponsive WordPress Themenhà cấp 4 nông thônthời trang trẻ emgiày cao gótshop giày nữdownload wordpress pluginsmẫu biệt thự đẹpepichouseáo sơ mi nữhouse beautiful