opini

PELABUHAN KOTA SUNGAI PENUH

Oleh : KURNIADI ARIS,S.H., M.M., (Dosen IAIN Kerinci /Advokat-Pengacara)

Kota Sungai penuh adalah sebuah kota yang secara geografis berada paling utara diantara kota lainnya di Provinsi Jambi, Kota ini dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2008 yang merupakan pemekaran dari kabupaten Kerinci Provinsi Jambi dan pengesahannya dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 8 Oktober 2009 yang pada saat itu dijabat oleh H. Gamawan Fauzi SH.MM., sebelumnya beliau adalah Gubernur Provinsi Sumatra Barat. Sudah ±12 tahun kota yang berpenduduk ± 97.190 jiwa ini menjalankan roda pemerintahnnya sendiri sebagai salah satu daerah Tingkat II di Provinsi Jambi.

Dilihat dari angle (sudut pandang) geografis kota Sungai Penuh mempunyai luas 391,5 km dan dikelilingi oleh kabupaten kerinci. Kota Sungai Penuh dipimpin secara defenitif oleh seorang walikota pada tahun 2011 melaui Pilkada dan selanjutnya kembali melalui Pilkada dipimpin oleh Walikota yang sama Bapak Prof.Dr Asyafri Jaya Bakri untuk periode tahun 2016 sd 2021.

Selain itu kota Sungai Penuh juga ada kota satelit atau kota-kota yang berada di sekitar kota Sungai Penuh itu sendiri seperti Kota Bangko yang merupakan Ibukota Kabupaten Merangin, Padang Aro yang merupakan Ibu Kota Kabupaten Solok Selatan berikutnya ada daerah kecil lain yang merupakan daerah penyangga seperti Tapan,Lunang dan lain-lain.

Posisioning kota Sungai Penuh dalam sumber daya ekonomi mempunyai Opportunity atau peluang yang sangat besar untuk berkembang apabila mampu menjadi magnet buat kota disekitarnya, namun berdasarkan pengamatan dan kenyataan sampai saat sekarang hal ini belum termaksimalkan salah satu parameternya adalah kota Sungai Penuh belum dan tidak memiliki diferensiasi atau perbedaan dari kota lainnya yang menjadi icon kota itu sehingga menjadi pembeda dan merupakan salah katu kutub magnet yang akan menaraik untuk orang lain mudah mengingat dan mengunjungi kota Sungai Penuh,seharusnya dan semestinya ini sudah difikirkan dan di eksekusi dari jauh-jauh hari, orang tidak mudah menegingat sebuah kota jika tidak ada sebuah diferensiasi sehingga orang mudah ingat kota tersebut, dan menariknya untuk mengetahui dan mengunjunginya.

Baca juga:  Jambi dan Perubahan Iklim

Seperti contoh jika orang bicara pendidikan orang akan langsung ingat kota Yogayakarta karna kualitas pendidikan yang baik serta biaya hidup yang murah untuk pelajar, selanjutnya ketika orang bicara kuliner tentu juga langsung ingat kota padang dengan beragam sajian kuliner yang sangat menggugah selera bahkan Rendang sudah di patentenkan menjadi makanan asli Sumatra Barat dan dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia, berikut jika bicara fashion pasti orang akan ingat kota bandung dengan segala sumberdaya garment pabrik tekstil, sepatunya dan lain-lain serta banyak lagi yang lain seperti malang yang begitu maju industri kreatifnya.

Untuk skala yang lebih kecil kita bisa lihat bagaimana kota Bukittinggi membangun diferensiasinya dengan Jam Gadang, kebun binatang, pasar tekstil Aur Kuning dengan pembelinya yang datang dari manca negara bahkan pasar ini dujuluki denagn nama Pasar Tanah abangnya Sumatra, bahkan kota Bukittingi juga dengan mudah diingat orang dengan Nasi Kapaunya, begitu masiv mereka membuat diferensiasi yang membuat orang mudah mengingat kotanya dan membuat orang-orang baik lokal maupun dari manca negara ingin datang ke kota mereka dan ini tentu merupakan income buat kota tersebut dengan segala macam transaksi ekonominya mulai dari Perhotelan, Transportasi, Perdagangan, Restorant sampai ke jasa Guide dan lainnya yang tentu ini menjadi multiplier effect secara ekonomi.

Kesemua ini tentu tidak kita temukan di kota Sungai Penuh dan kita semua belum tahu mau kemana arah pembangunan kota sungai penuh atau ke sektor mana kota sungai penuh akan berlabuh untuk menciptakan dan membangun diferensiasi sehingga munculah Brand Image yang kuat. Saat ini berbicara tentang brand kota Sungai Penuh, kota Sungai Penuh belum punya brand apakah menjadi kota Kopi, kota Perdangangan (Trade Center) , kota Pendidikankah. Sesungguhnya sektor pendidikan tidak kalah potensial untuk di jadikan brand kota Sungai penuh mengigat jarak antara kota Sungai Penuh sendiri dan kota kota disekelilingnya sangat jauh dari Perguruan Tinggi Negeri baik di Provinsi Jambi ataupun di Provinsi Sumatra Barat juga Bengkulu bukakankah kesulitan selalu beriringan dengan peluang.

Baca juga:  Berburu Prestasi di Ajang MTQ Provinsi

Tapi tidak ada Blue Print yang tegas kemana arah kota Sungai Penuh untuk mencitrakan dirinya. Bahkan yang meneyedihkan jika ada wisatawan dari luar yang hanya sekedar ingin berselfie ria sebagai kenangan tanda pernah mengunjungi kota Sungai Penuh warga kota sungai penuh kesulitan mungkin juga tak tahu kemana akan mengarahkannya wisatawan karna kota Sungai Penuh tidak punya Icon, apakah itu hanya sebuah monumen yang dapat kita jadikan Icon kota Sungai Penuh, seperti Painan dengan Pantai Carocoknya,dengan Mesjid terapung yang ada dipantai tersebut dan lain-lain.

Tentu kita tidak perlu berkecil hati terahadap semua itu besar harapan kita kepada semua stake holder yang ada di kota Sungai Penuh untuk memikirkan semua agar kota Sungai Penuh menggelait meneyesuaikan diri dengan perkembangan zaman kata orang saat ini berada di Era 4.0 semua sudah serba digital dan saat inipun sudah diberlakukan MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) dimana sesama masyarakat Asia Tenggara bebas mencari pekerjaan kenegara Asia Tenggara lainnya.tentunya ini merupakan ancaman tersendiri buat bangsa Indonesia tidak terkecuali kota Sungai Penuh jika Sumber Daya Manusianya tidak unggul dan kompetitif.

Baca juga:  Berburu Prestasi di Ajang MTQ Provinsi

Kedepan tentu kita harus terbuka terhadap perkembangan zaman dan menerima perkembangan itu sendiri termasuk budanya tanpa meninggalkan budaya lokal (Local wisdom) dan budaya pergaualan hidup yang sudah tercipta secara turun temurun (Living Law), tentu kita selalu ingat Jepang yang begitu terbuka menerima kebudayaan dari luar Jepang yang masuk kenegaranya namun jepang tidak meninggalkan budaya aslinya sendiri.

Berikutnya menurut hasil riset yang dilukan oleh Ciputra sebuah negara tidak akan bertumbuh ekomoninya jika jumlah entrepreneurnya kurang dari 2% diukur dari jumlah penduduknya. Indonesia sendiri baru mencapai angka 0.2%. jika kita tarik garis lurus ke kota Sungai Penuh tentu Pemerintah kota Sungai Penuh perlu mengindahkan ini agar juga menajadi kota yang tumbuh ekonominya dengan mendorong dan merangsang tumbuh kembang angka Entrepreneur.

Dengan semua hal di atas semoga menjadi catatan dan masukan agar Pemerintah Kota Sungai penuh mampu berbenah dan bersaing dengan kota-kota lainnya baik Regional bahkan Internasional,menjadikan kota Sungai Penuh sebagai destinasi pendidiikan,Perdangan tergantung kemana akan dibawa arah kota ini oleh semua stake holder dan didukung oleh warga kotanya sendiri dengan cara mendukung program-program pembagunan pemerintah kota Sungai Penuh agar tercapai dengan baik sehingga nantinya mampu melahirkan Brand Image yang kuat tentang kota Sungai Penuh dan jelas pelabuhan mana yang akan dituju oleh kota Sungai Penuh dalam menetukan jati dirinya namun sebaliknya jika sampai saat sekarang pemerintah tidak tahu mau kemana palabuhan jati diri kota Sungai Penuh tentu ini menjadi prseden buruk untuk perkembagan dan kemajuan koata Sungai Penuh sebagai kota yang unggul dan berkemajuan.

Show More
Back to top button
>