HOT NEWS

Profesor Penyair Jambi Dimas Arika Mihardja Tutup Usia

Profesor Penyair Jambi Tutup Usia.
Profesor Penyair Jambi Tutup Usia.

Kerincitime.co.id, Berita Jambi – Jambi kembali kehilangan penyairnya, ia adalah sang Profesor Penyair Jambi Dimas Arika Mihardja yang juga dosen Unja dengan nama Profesor Dr.Sudaryono M.Pd.

Penyair Jambi ini meninggal dunia Kamis (5/4/2018) sekitar pukul 19.00 WIB. Ia meninggal dunia di RS Bratanata Jambi dalam usia 59 tahun. Seniman Jambi, Sakti Alam Watir dalam Facebooknya mengatakan Setiap saya mau melakukan kegiatan fotografer, selalu ingat Pak Sudaryono berharap dibuatkan Puisi, sudah banyak Foto dibuat Puisi oleh Almarhum. “Selamat Jalam Pak Sudaryono sang Profesor Penyair Jambi,” katanya.

Berbagai ucapan duka dari berbagai penyair indoensia dan jambi mengalir deras, seperti bang Acep Syahril.

In Memoriam
Sudaryono Pseudonim
Dimas Arika Mihardja

31 tahun lalu, tepatnya pertengahan April 1987, sekitar pukul 16.30 aku mendatangi rumah (bedeng) Sudaryono pseudonym Dimas Arika Mihardja, di depan Lorong Nangka, Sipin Jambi. Disitulah awal perkenalanku dengan penyair ini, dan sebagai awal proses kreatif kepenulisan beliau selanjutnya. Setelah beberapa tahun terhenti menulis ketika dia hijrah dari Jogja ke Jambi.

Di rumah itu hanya ada istrinya Rita Indrawati dan gadis kecilnya Marenda Atika Mh. Perkenalanku dengan keluarga ini sungguh sangat berkesan, keakraban kami terasa seperti pertemuan dua sahabat yang lama terpisah.
Dan saat itu juga kusampaikan maksud dan tujuan kedatanganku sore itu, kalau aku berencana menerbitkan buku kumpulan puisi sejumlah penyair Jambi, Riak-Riak Batanghari, dengan menyodorkan sejumlah nama, seperti: Iif Ranupane, Bing F Laro, Iriani R Tandi, Helmi Bakar(almarhum), Thomas Heru Sudradjat, Acep Syahril, Ridwan Junaedi, Husni Akbar, Maman Saleh Supraba.

Baca juga:  Lapak MKS Dibongkar, Puluhan Pedagang Tak Kebagian Tempat Pindah

“Ini satu nama lagi, Maizar Karim Elha. Sekarang dia ngajar di FKIP Unja sama dengaku,” jelasnya. Berarti semuanya ada 11 nama termasuk Sudaryono pseudonym Dimas Arika Mihardja.

Sejak pertemuan itu, Dimas Arika Mihardja seperti tidak lepas dari puisi, hidupnyapun kemudian mengalir seperti puisi hingga suatu kali, dalam pembicaraan kumpulan puisinya Upacara Gerimis di Taman Budaya Jambi, aku menyebutnya sebagai “Penyair Gerimis”.

Walaupun setelah itu kami jarang bertemu karena aku lebih banyak hidup di luar Jambi, tapi setiap kedatanganku ke rumahnya selalu disambut seperti keluarga, bahkan pipi ketiga gadis-gadis kecilnya, Marenda Atika Mh Riyandari Asrita Mh, dan Dyah Ayu Sukmawati pun waktu itu selalu kustempel sebagai bagian dari ekspresi kekeluargaan.
Dan kukira inilah saatnya pemerintah Jambi memberikan perhatian terhadap keluarga almarhum, karena atas gagasan serta pemikirannya untuk memajukan gerak kesusastraan di Jambi.

Selamat jalan mas, semoga Allah memberi tempat yang layak bagimu:

Kemudian dari bang asro almurtawi

MET JALAN PROF, MOGA ALLAH MERIDHOI

Suatu masa di tahun 1989, lelaki itu berdiri di hadapan kami, sekitar 600 calon mahasiswa peserta Ospek. Mengambil pelantang, lalu mulutnya komat-kamit. Entah apa yang diucapkannya. Aku baru tahu rupanya dia sedang membaca puisi. Di waktu yang lain, saat ujian semesteran aku terlambat datang karena salah jadwal. Tergesa ku masuki gedung D2 FKIP Mendalo darat.

Baca juga:  Surat Larangan Parkir Tuai Pro Kontra

Seorang dosen berperawakan sedang menyambutku dengan kata-kata: Lah telat. Ujian hamper selesai. Ttinggal 12 menit, berani? Tanpa banyak kata kujawab: berani. Hingga saat itu aku belum begitu mengenalnya. Juga ketika kemudian laki-laki itu membela puisiku berjudul ~Banjir~ yang dimuat Independent dituduh sebagai plagiat puisi Mas Acep Syahril oleh (Alm) Ari Setya Ardhi di Ruang Arena Taman Budaya Jambi.

Saya baru agak akrab, ketika kami saling mencarut dan memaki , bergumul pemikiran di harian nasional seperti: Merdeka, Simponi, Swadesi, Taruna Baru, sinar Pagi Minggu dll bersama Bang Isbedy Stiawan ZS, Harta Pinem, Naim Emel Prahana, Mbak DIHA, Mas Acep Syahril dan sederet kawan lain. . Dialah Dimas Arika Mihardja pseudonym dari Sudaryono.

Dia memang bukan guru secara formal, tetapi ilmunya banyak kucecap dalam pergaulan kami. Sahabat yang baik, kakak yang baik, bapak yang baik. Pemberi semangat juga kritik yang tidak nyinyir. Dialah yang turut membukakan cakrawala kesastraanku. Terakhir kami berdua diundang menghadiri MUNSYI 2. Sayang karena alasan kesehatan dia tidak bisa datang. Kini dia telah pergi, menyusul dua sahabat saya yang lain: Ari Setya Ardhi dan Firdaus. Moga Allah ridho atas kiprah dan amalnya.

Berikut puisi Jose Rizal Manua yang dibuat untuk DAM:
INNALILLAHI WAINA ILAIHI ROJI’UN
SELAMAT JALAN SAHABATKU:

Jose Rizal Manua
DAM

Untuk; Dimas Arika Mihardja
Selamat Ulang Tahun!

DAM adalah panggilan sayang
Dari para sahabatnya.
Nama lengkapnya;
Dimas Arika Mihardja.
Karyanya bagai sungai Batanghari
Mengalir tiada henti.
Dengan kata dan kalimat
Dilukiskannya peristiwa-peristiwa sederhana
Dilukiskannya sketsa-sketsa bersahaja
Dilukiskannya artefak kejayaan bangsa
Karya-karyanya tersebar di berbagai koran
Dan jurnal ilmiah.
Di sana;
cerpen-cerpennya
Esai-esainya
Kritik-kritik sastranya
Dan rimbunan puisi-puisinya
Singgah dan berlabuh.
DAM adalah panggilan sayang
Dari para sahabatnya.
Nama lengkapnya;
Dimas Arika Mihardja.
Karyanya bagai sungai Batanghari
Mengalir tiada henti.
Dilukiskannya cinta dalam zikir
Dilukiskannya renungan dan harapan
Tentang manusia dan alam.
Tentang Jambi, kota kelahirannya yang kedua.

Baca juga:  Mengharukan! Cerita Perjuangan Indah Pratiwi Meraih Duta Pendidikan Indonesia Lingkungan Hidup 2021

Jakarta, 3 Juli 2015.

(JP3)

Dari Putra Agung

Mas, Engkau telah menjadi mempelai merambah kehidupan abadi.

Engkau telah tunai, Mas.
Surga menantimu, hadiah atas setiap jariyah ilmumu.
Al Fatihah…
In memoriam :
Prof Sudaryono (Dimas Arika Miharja)
//salamngopi/

Dari Ramayani

SELAMAT JALAN PAK DE.. DIMAS ARIKA MIHARDJA

Sebungkus kenangan bermula aku mengenalmu dari perbincangan karya hingga ke pertemuan berbagai event sastra, aku yang mengikuti kiprahmu dalam usahamu menciptakan apa saja sebagai wujud kecintaanmu pada sastra Indonesia, Kini kau Tiada.. Yang ku kenang adalah karyamu dan segala kebaikan , kiprahmu yang tak mengenal lelah.

Namamu tetap tersimpan di hati kami, dari segala kebaikanmu doa sepenuh cinta kami melantunkan untuk penerang perjalananmu semoga segala amal imadahmu titerima oleh allah swt, selamat jalan Pak de Insya Allah, kau akan mendapat tempat terhormat di sana.bersama orang orang sholeh, aamiin
Alfatihah ….

(cr1)

Show More
Back to top button
>