JambiopiniPariwisata/Budaya

Puncak-puncak Capaian Artistik Seniman Teater Jambi

teaterPuncak-puncak Capaian Artistik Seniman Teater Jambi

Oleh; Yupnical Saketi

Kelarnya pegelaran (yang menurut penulis masih dikategorikan ‘teater’ meski menurut Ide Bagus Putra selaku penggarap adalah Dramatisasi Musikalisasi Puisi) ‘Khotbah’karya WS Rendra bersama sanggar Anjungan Puisi yang diasuhnya pada 25, 26 dan 27 Februari 2016, penulis tak bisa mengelak untuk tidak menyebut pementasan tersebut sebagai sebuah pertunjukan teater yang fenomenal dan revolusioner serta layak disandingkan dengan pementasan-pementasan fenomenal revolusioner lainnya yang sebelumnya telah dipentaskan, berderet beriring sebagai puncak-puncak capaian artistik kreator teater Jambi selama ini.

Mungkin secara umum sebagian publik menilai pementasan itu biasa-biasa saja, bahkan mungkin tak sedikit yang menyebut apa yang disuguhkan ide dengan kreatifitasnya yang (maaf) tergolong liar itu, sebagai pertunjukan ekspresi emosional belaka bahkan mungkin terbilang ‘gila’. Tapi dalam tulisan ini, seperti judul yang dibuat maka penulis akan menapikan dulu segala bentuk perbincangan kontroversi seputar dan sekitar isi dan essensi interteks seperti yang setelah pergelaran berseliweran memenuhi ruang-ruang diskusi baik resmi maupun tidak, langsung maupun tidak antar audiens saat itu. Kali ini penulis hanya akan terfokus membicarakan perihal capaian artistik yang telah diperbuat seorang Ide Bagus Putra.

Seperti yang disebutkan Ide sendiri pergelaran yang disuguhkannya itu sebagai mix atau kombinasi dari Dramatisasi Puisi dan Musikalisasi Puisi, maka ia beranjak dari naskah puisi fenomenal penyair besar WS Rendra dan pula digarap dalam wujud pertunjukan puisi yang dikemas teramat teaterikal dan dramatikal secara kolosal melibatkan banyak pemain.

Apalagi, pertunjukan itu terasa semakin prestesius ketika berkombinasi dan berinteraksi langsung dengan musikalisasi puisi di atas panggung yang telah disulap sedemikian rupa oleh Ide Bagus. Bahkan Ide nyaris saja menjadi serupa dengan ‘konser Puisi Multimedia’nya Asrizal Noor, andai di dalam garapannya itu dia tidak membatasi teks pertunjukannya pada satu teks naskah ‘Khotbah’ saja, atau andai Ide juga menyertakan slide atau klip video yang menjadi ciri khas Puisi Multimedia Asrizal.

Ide yang sebelumnya memang penulis kenal sebagai sosok ‘kreator kepala’ yang penuh energi kegilaan dan keliaran dalam berkarya, memang tidak pernah berhenti melakukan berbagai kejutan eksperimentasi dan esksplorasi dalam setiap tampilan performance karya-karya yang disuguhkannya di atas panggung. Pada beberapa garapannya sebelumnya dia telah berkali menyulap lapangan sekolah tempatnya mengajar menjadi arena pertunjukan.

Sebelumnya lagi, dia (bersama penulis) kerap kali menampilkan garapan Performance Art yang mengeksplore berbagai tempat menjadi arena pertunjukan, seperti, gedung, taman, kolam, air terjun, hutan, cafe, pameran lukisan, kandang ternak, tubuh, rakit, lumpur dan lain sebagainya. Hal itu kami lakoni bersama baik semasa masih di bangku kuliah maupun pasca meraih gelar keserjanaan Bahasa Indonesia-nya dari FKIP Universitas Jambi.

Tidak hanya di genre Seni Pertunjukan, Ide juga sangat dikenal di dunia Senirupa. Dia adalah perupa eksperimentatif yang melahirkan karya dalam wujud Lukisan, Sketsa, Patung, Instalasi dan Performance Art. Di lukisan dia sempa memperkenalkan konsep dan teknik melukis yang begitu aneh yakni melukis di atas media beludru dengan menggunakan pahat yang sejatinya digunakan untuk mematung atau mengukir. Bahkan dia pernah melahirkan karya yang merupakan perpaduan dari dua genre yakni Sastra dan Senirupa yakni berupa Puisi Rupa yang diberinya nama ‘Puisigrafi’.

Namun, dari sedemikian panjang proses kreatif yang telah digelutinya sedemikian banyak karya yang dilahirkannya, baru kali ini lah, baru pada pegelaran ‘Khutbah’ WS Rendra inilah menurut penulis Ide baru benar-benar berhasil menciptakan karya yang tidak saja revolusioner namun juga menunjukan kapasitasnya sebagai salah seorang kreator teater handal di Jambi, baru kali ini lah penulis berani menyebut Ide sudah mencapai satu puncak artistik kekaryaannya.

Apa yang disuguhkannya selama tiga hari di Teater Arena Taman Budaya Jambi tersebut tidak saja berhasil dalam memilih dan mengekplorasi tema yang secara kebetulan momentumnya memang pas dengan berbagai kejadian seputar keagamaan dan keyakinan yang secara langsung maupun tidak langsung telah pula menjadi cerminan kondisi sosial masyarakat Indonesia dewasa ini, tapi Ide juga telah teramat berhasil mengeksplorasi pesona panggung teater Arena TBJ dari yang semula kaku dan konvensional menjadi sangat membius berkat pengolahan maksimal konsep ‘melawan arus’ yang senantiasa menjadi jiwa kreatifitas seorang Ide.

Di sini Ide telah melakukan perombakan habis-habisan terhadap panggung teater Arena TBJ tersebut. Kenapa tidak, Ide dengan teramat berani telah membalik kebiasaan dan hukum konvensional pertunjukan, dimana panggung yang biasanya adalah tempat pegelaran dilangsungkan dan tribun tapal kuda disekeliling sebagai tempat duduk penonton, dalam pegelaran ‘Khotbah’ kondisi itu dibalik, sehingga arena panggung diubah menjadi areal penonton, sementara tribun utama penonton yang biasanya sebagai tempat tamu VIP berubah jadi arena panggung areal permainan aktor dan aktrisnya.

Luar biasanya, dalam hal ini apa yang dilaakukan Ide, menurut penulis teramat sangatlah berhasil, ketika tribun penonton itu berubah jadi seperti arena konser opera orkestra yang diisi para aktor aktris yang bermain sebagai para jemaah. Kondisi itu terasa semakin hidup dan mandiri ketika tata lampu dan tata set panggung terlihat begitu apik dan padu padan menampilkan suasana megah rumah ibadah dewasa kini.

Ditambah lagi dari sekian banyak properti set yang dipajang di atas panggung ternyata tak satupun yang tidak difungsikan atau digunakan pemain pada gilirannya, arti kata tak ada satupun yang keberadaan set dan properti panggung yang mubazir, kecuali juntaian beberapa helai kain putih dari langit-langit hingga lantai di bagian belakang (padahal penulis sebelumnya sempat membayangkan juntaian kain itupun nantinya akan ditarik para pemain seperti halnya properti tergantung lainnya sampai tribun itu akan kembali seperti penampilannya semula sebagai tribun penonton).

Ada kitab suci yang membatu di satu sisi depan, ada beberapa rebana yang tergantung di bagian belakang yang pada gilirannya ditabuh para pemain sampai hancur, ada tebu yang digantung menyerupai tirai di bagian depan seakan jadi pembatas areal panggung dan penonton yang pada gilirannya juga dimanfaatkan majadi alat pemukul, ada bejana tanah berisi abu yang digantung tepat dibagian sentral depan yang pada satu adegan justru jadi titik surpise ketika dijatuhkan dari atas dan pecah berantakan di lantai tepat di depan penonton VIP.

Lalu, eksplorasi artistik juga terjadi pada properti para pemain yang berperan sebagai jemaah. Di sini Ide menggunakan lampu senter menyala di bagian dada pemain yang disembunyikan dibalik pakaian, hal ini sepertinya terinspirasi film Ironman, film hollywood yang sangat ngepop itu ternyata berhasil dieksplore Ide menjadi beressensi lain pada pegelarannya selain sekedar pemanis artistik.

Di bagian gerak, sebagai seorang seniman yang mengaku begitu menggilai Seni Tari Ide dengan teramat berhasil mengeksplore secara komulatif performance tata gerak para pemain mengiringi emosi adegan yang ditampilkan. Hal itu adalah nilai plus yang telah berhasil digapai seorang Ide.

Belum berhenti di situ, sebagaimana konsep Dramatisasi Musikalisasi Puisi seperti yang disebutkan Ide sebelumnya, dalam garapannya itu secara praktis juga tidak bisa meninggalkan keberadaan grup band Musi (Musikalisasi Puisi) yang dibesutnya. Hanya saja keberadaan grup live musik ini tidak ditampilkan satu panggung dengan para aktor aktris melainkan untuk mereka diset satu panggung lain yang lebih khusus, terpisah namun masih amat menyatu dengan pertunjukan secara keseluruhan, dimana panggung untuk mereka disiapkan tepat di belakang para penonton utama.

Kondisi set seperti ini pada satu sisi berhasil mengurung audiens untuk fokus berada di dalam aura pertunjukan mereka, dan penonton yang duduk di kedua tribun wing dapat pula menikmati mereka secara langsung cukup dengan hanya memutar arah kepala ke kiri dan ke kanan untuk dapat menyaksikan kedua pertunjukan di kedua sisi panggung tersebut yakni depan dan belakang. Hanya penonton VIP yang menghadap ke panggung utama di tribun itu yang tak bisa turut menyaksikan aksi para pemusik life di belakang mereka tersebut.

Menurut penulis, apa yang dilakukan Ide ini terbilng fenomenal dan revolusioner, meski keberadaan pembagian posisi kepada kedua bagian panggung ini selain menjadi satu kelebihan justeru juga sekaligus menjadi cela dan celah bagi rusaknya konsentrasi dan fokus penonton khususnya mereka yang duduk di deretan tribun wing yang dipaksa harus membagi tatapannya ke kiri dan ke kanan. Namun apapun itu, yang jelas apapun yang telah dilakukan Ide ini adalah hal revolusioner yang baru dan menjadi sumber nilai plus lain yang telah berhasil menunjukkan klas Ide yang sesungguhnya.

Dari sekian banyak fenomena dan revolusi yang tersaji dan mengundang decak kagum audiens saat tiga hari pegelarannya itu, maka ‘Khotbah’ WS Rendra oleh Ide Bagus Putra dapatlah disimpulkan Sang Kreator Kepala kali ini benar-benar telah menunjukkan tingkat pencapaian artistik pertunjukannya yang terbaik selama karirnya belasan tahun berteater.

Memang kalau dilihat dari jumlah penonton ‘Khotbah’ Ide Bagus Putra ini masih cukup jauh dari capaian Teater AiR pada garapan TUK beberapa waktu lalu di tempat serupa, tapi dari sisi artistik dan performance Khotbah layak mendapat apresiasi tinggi. Selaku publik kita tentunya selalu berharap ke depannya Ide Bagus akan kembali hadir dengan karya barunya yang lebih fenomenal dan Revolusioner, meskipun itu bukan untukkembali mencapai puncak capaian serupa (karena hal itu sudah tidak mungkin terjadi lagi setelah satu kali terccapai), namun setidaknya itu guna mempertahankan eksistensi prestasi dan prestidse yang telah berhasil diraihnya saat ini. Semoga.

Tentang Berproses dalam Seni Teater

Sebagai Seni Pertunjukan yang fokus atau ‘poin of art’nya adalah keberhasilan menyajikan pertunjukan sebagai sarana kreatifitas yang komunikatif, edukatif dan artistik, maka dalam satu proses panjang kreatifitas berkesenian (dalam hal ini, penulis menspesifikasi khusus di genre Seni teater) capaian artistik adalah salah satu target ataupun tengara yang ingin dicapai oleh setiap kreator. Dan dalam sejarah telah berlangsungnya perteateran modern di Jambi semenjak 80-an lalu dengan tokoh perintisnya adalah Arifiean Akhmad (Alm) dan Aniek Sudaryo (Alm) sesungguhnya Jambi (dalam catatan penulis) sudah berhasil mencatatkan beberapa puncak capaian artistik, catatan yang di dalam hitungan kuantitatif terbilang sebagai sebuah ‘Record’.

Hanya saja dalam perjalanannya kita (baca; Jambi) telah teramat kerap alfa dan lupa sehingganya hal tersebut berlalu begitu saja seperti angin, seakan tak ada artinya samasekali bagi secabik catatan sejarah pergerakan teater di bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah ini. Dan lacurnya lagi, inilah yang menjadi pembeda negatifnya kita di banding-daerah lain di Tanah Air ini.

Sejauh perjalanan penulis yang sedikit banyak senantiasa bersentuhan langsung maupun tidak dengan detik demi detik, detak demi detak, denyut demi denyut nadi perteateran Jambi itu selama ini, penulis merasa patur bersyukur karena ternyata tak pernah luput mencatat beberapa puncak capaian artisitik para seniman teater Jambi tersebut ke dalam katalog dokumentasi pribadinya. Dan itulah yang kali ini ingin dibaginya kepada publik Jambi, dengan harapan sedikit banyak data atau sekedar cerita ini suatu ketika dapat menjadi satu pemicu kebanggaan komulatif kita sebagai warga Jambi pewaris tuah Rangkayo Hitam, bahwa ternyata kita adalah orang-orang yang luarbiasa.

Dari Arifien Akhmad, Didin Siroz, EM Yogiswara, Didi Hariadi, Ary MHS Ce’gu, hingga Ide Bagus Putra

Tanpa menapikan arti penting nama-nama tokoh seniman lainnya yang hingga kini masih terus bergerak berproses pada poros teater, itulah deretan nama beberapa para seniman teater Jambi yang menurut penulis masuk daftar yang dibuatnya, telah sempat memancangkan cagak sejarah perteateran Jambi dengan capaian puncak-puncak artisitik dalam proses panjang kreatifitas perkeseniananannya. Sekali lagi itu adalah nukilan dari catatan pribadi penulis yang asumsinya mungkin saja masih terbilang subjektif, dan karena itu pula penulis tidak menutup diri jika selanjutnya akan muncul catatan-catatan koreksi dan kritik dari rekan-rekan penulis dan peneliti lainnya.

Seperti yang telah penulis paparkan di awal, bahwasanya dunia perteateran modern Jambi secara ‘de fakto’nya dimulai ketika tokoh teater Arifien Akhmad dan pasangan hidupnya Aniek Sudaryo (keduanya memang Pasutri) memulai berbagai pertunjukan teater di Jambi, khususnya di di Taman Budaya Jambi, yang dengan bekal akademiknya sebagai jebolan ASDRAFI Jogjakarta, telah menedahkan tontonan teater yang lain dari biasanya kepada publik Jambi saat itu.

Dimana semasa itu di publik Jambi belum dikenal istilah teater, yang ada hanya Drama, Tonil, Dul Muluk, dan Panggung Bangsawan, yang kesemuanya adalah format teater tradisional yang hidup dan tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat Jambi.

Sesungguhnya, pasangan Pasutri yang selanjutnya dikenal sebagai bapak dan ibu Teater Modern Jambi itu telah memulai mementaskan karya-karyanya semenjak akhir tahun 70-an dan sepanjang tahun 80-an, telah belasan bahkan mungkin puluhan judul naskah telah dipentaskannya. Namun, sejauh itu belum pernah ada catatan monumental yang mampu dituliskan dengan tinta emas sebagai manifestasi dari bentuk capaian artistik yang telah keduanya torehkan.

Barulah pada paruh akhir tahun 90-an (tepatnya tahun 1998) yang ditunggu-tunggu publik Jambi hadir di panggung, yakni sebuah lakon yang diangkat dari naskah tradisional Jambi yakni Rangkayo Hitam, diangkat ke atas panggung pementasan secara sangat fenomenal dan revolusioner. Adalah pementasan naskah Rangkayo Hitam; Episode Matahari Mengerucut yang melibatkan banyak pemain dan kru dari berbagai latar belakang sanggar yang berbeda, seperti dari Teater Tonggak, teater AiR, Teater Oranye, Komsat Cindaku, dan Kajanglako Art Center selaku produser dan Taman Budaya Jambi selaku Fasilitator, mereka semua berhimpun di bawah bendera sanggar Teater Merah Putih dan Teater Purnadhita. Tidak pula berlebihan kalau penulis pun waktu itu terlibat langsung sebagai pemain memerankan tokoh Rangkayo Pedataran pada garapan itu.

Selain penulis, juga terlibat sebagai pemain pada pementasan tersebut adalah Oton Marton yang memerankan  Rangkayo Hitam, Didi Hariadi memerankan Rangkayo Pingai, Yulia Syafitri memerankan Rangkayo Gemuk, Gusmarni memerankan Putri Selaras Pinang Masak, Emen Sling memerankan Datuk Paduko Berhalo, dan turut berperan Nanang Sunarya dan Husni Thamrin.

Lalu apa istimewanya sampai-sampai pementasan satu ini layak dituliskan dan disebut salah satu puncak capaian artisitik seni teater di Jambi? Tentu hal ini penting bagi publik yang pada masa naskah itu dipentaskan tidak berkesempatan menyaksikan atau belum lahir kedunia. Hal ini akan dapat menjadi sebentuk lentera yang akan dapat seikit menerangi jalan mereka menyusur sejarah perteateran Jambi yang masih begitu gelap kini.

Pasca dipentaskan pada satu malam Minggu di bulan Agustus 1998, Arifien Akhmad beserta segenap aktor-aktris serta kru pendukungnya menuai pujian dari tokoh dan publik seni Jambi. Diantara mereka yang terkagum dan terbius itu ada tokoh seni pertunjukan Tom Ibnur, ada tokoh budayawan dari kalangan birokrat Jambi Junaidi T Noor, Jafar Rasuh, bahkan Ibu Lily Abdurrahman Sayuti, istri mendiang Gubernur saat itu.

Dari sini pula selanjutnya Rangkayo Hitam Episode Matahari Mengerucut tersebut disponsori Lembaga seni budaya yang dibina Ibu Lily yakni Kajang Lako Art Centre, melakukan pentas keliling ke bebeapa daerah di dalam Provinsi Jambi.

Kenapa tidak, sebagai publik seni Jambi yang haus sesuatu yang baru, saat itu hadir mengusung konsep pertunjukan yang sangat revolusioner saat itu, dimana naskah Rangkayo Hitam yang ditulisnya sendiri dihadirkan ke atas pentas dalam wujud yang sangat revolusioner, lain dari pertunjukan teater biasanya yang pernah hadir di Jambi dalam masa –masa sebelumnya.

Salah satu sisi yang paling revolusioner selain sisi essensi isi pertunjukan yang dilakukan Arifien adalah sisi artistik. Siapa tidak heboh tiba-tiba menyaksikan teater Jambi tampil dengan gaya dandanan kostum dan tata rias ala teater Kabuki Jepang. Lalu siapa tidak terperangah ketika saat itu panggung Teater Arena TBJ telah disulap Arifien menjadi Kolam dan dari atas dihadirkan hujan buatan dengan memanfaatkan sistem pipa instalasi air yang dibalut replika salju. Lalu siapa tidak siap tidak terkejut ketika pola permaianan realis digarap begitu apik dalam ketegangan antara absurd dengan surealis.

Itulah beberapa point artistik luarbiasa yang selanjutnya bagi penulis pementasan itu layak untuk disebut sebagai salah satu pertunjukan fenomenal revolusioner yang menjadi salah satu puncak capaian artistik seorang Arifien Akhmad.

Namun, Arifien tidak mencapai prestasi itu dengan mudah, dia telah melalui proses kekaryaan yang sangat panjang sebelum akhirnya mencapai posisi itu. bahkan saking panjangnya proses survey, kotemplasi, penelitian, penggalian yang telah dilakukannya, dia bahkan sampai harus rela berkali disalib para rekan seprofesinya yang lebih junior lainnya seperti Didin Siroz dan EM Yogiswara yang ternyata berhasil menyuguhkankan karya-karya monumental revolusioner sebagai capaian puncak artistiknya lebih dulu dari sang mentor, Arifien Akhmad.

Didin Siroz, adalah salah seorang junior Arifien yang pertama kali mampu menoreh puncak capaian artistiknya pertama kali, mendahului rekan-rekan sejawatnya yang lain, padahal saat itu, Didin hanyalah seorang pendatang baru dari Kota Kembang Bandung yang hijrah ke Jambi dalam rangka tugas sebagai pegawai negeri di TBJ.

Adalah pegelaran naskah ‘Menggugat Jalan Setapak’ (MJS) yang ditulisnya sendiri dan disturadarainya sendiri pula yang saat itu langsung menggebrak dan membuat terperangah dunia perteateran modern Jambi yang baru saja melek semenjak dibangunkan sang mentor maestro, Arifien Akhmad saat itu. secara essensi muatan maupun artistik pertunjukan teater bergenre realis tersebut saat itu sangatlah fenomenal dan revolusioner. Saat itu adalah tahun 1994, sekitar 13 tahun sedari masa awal Arifien Akhmad membuka cakrawal teater modern di Jambi.

Bersama MJS, didin menyuguhkan eksplorasi artistik yang sangat maksimal. Adalah keberhasilannya mengolah permaianan tradisional ‘engrang’ menjadi model pertunjukan teater. Permaianan yang biasa dimainkan anak-anak dan para remaja itu dijadikan properti tetap pemain yang tidak saja hadir sebagai tempelan melainkan menyublin utuh dengan naskah cerita yang dimainkan, dimana dikisahkan terjadinya pencemaran lingkungan akibat limbah beracun di satu tempat sehingga membuat manusia menjadi mutan.

Didin mengeksplore engrang bambu menjadi satu-satunya alat untuk berjalan di atas bumi yang bisa menyelamatkan manusia dari genangan limbah yang digambarkan telah menggenangi tanah dan bumi. Maka tak mengherankan dengan cerita yang begitu bernas, kaya makna dan pesan filosofis, maka selanjutnya MJS mengundang decak kagum publik.

Bahkan dengan keberhasilan itu naskah itu mendapat kesempatan untuk dipentaskan kedua kalinya, dan tidak hanya itu, pementasan itupun selanjutnya direkam kedalam format kaset video oleh TBJ sebagai dokumentasi. Ide bagus Putra sendiri selau generasi Teater terkini sengaja mengambil pertunjukan tersebut sebagai objek skripsinya guna menamatkan studinya di PBS FKIP Unja, dan bukan untuk menyombongkan diri, penulis terlibat pula sebagai rekan diskusi dan penelaah rekan Ide Bagus Putra saat itu sampai dia berhasil lulus dengan nilai A. Nah dari keberhasilan itu, wajarlah jika selanjutnya penulis berani menasbihkan MJS adalah puncak capaian artistik pertama teater modern Jambi.

Puncak capaian artistik perteateran selanjutnya adalah apa yang pada tahun 1997 berhasil disuguhkan EM Yogiswara bersama pementasan ‘Perca’ yang naskahnya ditulisnya sendiri. Pada masa itu kegairahan dunia perteateran di jambi tengah pada masa puncaknya, dengan keberadaan TBJ yang saat itu dipimpin Jafar Rasuh yang begitu inten memberi ruang ekspresi bagi para teaterawan Jambi.

Ditengah suasana penuh gairah itulah EM Yogiswara hadir dengan ‘Perca’nya. Pola gaapan Absurd yang diusung EM ternyata teramat sangat padu padang dengan unsur artistik yang dihadirkannya ke atas pentas saat itu. EM yang memang dikenal sebagai sosok seniman yang kaya eksperimentasi menyuguhkan eksperimentasi berbagai unsur artistik, khususnya di sisi Kostum dan tata panggung.

Pertunjukan teater Kolosal yang semasa itu membawa puluhan para siswa anggota sanggar Sekintang Dayo (semasa itu EM masihlah bernaung di Sekintang Dayo) mengeksplore keberadaan limbah plastik sebagai kostum pemain, puluhan anak mulai dari tingkat SD sampai mahasiswa diformat menggunakan kostum yang dirangkai dari limbah kantong kresek. Kehadiran kostum yang terlihat unik, apik dan artistik itulah yang selanjutny pertunjukan tersebut mengundang apresiasi luar biasa dari publik seni Jambi.

Dan dari pergelaran Perca inilah selanjutnya yang melahirkan nama-nama seniman teater Jambi yang sampai hari ini masih terus berkarya seperti Husni Thamrin, Didi Hariadi, Bujang Uwa, Zaidan, Amao dan lainnya.

Selain sisi kostum, EM juga melakukan eksplorasi di bagian tata panggung dan properti, dimana berbagai peralatan yang tidak lazim dihadirkan di atas panggung sebagai media eksplorasi para aktor dan aktris alam adegan-adegan yang simainkannya. Hadirlah di atas panggung ban mobil bekas, kursi reot, meja billiar bekas, tali temali yang menjuntai dari langit-langit, dan lain sebagainya. Dan pada pemetasan perca inilah dimulai lahirnya teknik masuk yang tidak lazim oleh aktor, dimana aktor bisa turun dari loteng dengan tali, dari kursi penonton di tribun dan lainnya.

Dikarenakan keberhasilan membius publik itulah selanjutnya penulis menasbihkan pula ‘Perca’ EM Yogsiwara tersebut menjadi salah satu pula Puncak Capaian Artistik perteateran di Jambi. Setelah dan sebelum Perca itu EM sesungguhnya telah dan masih terus melahirkan karya-karya fenomenal lainya, namun Perca adalah yang dianggap puncaknya pencapaian artistik EM yang takkan bisa dilupakan publik Jambi hingga kini dan selanjutnya.

Pasca Perca EM Yogiswara itulah dua tahun selanjutnya Arifiean Ahkmad menggebrak dengan ‘Rangkayo Hitam; Episode Matahari mengerucut’nya. Setelah itu perteateran Jambi sempat mengalami stagnasi bahkan mati suri dalam jangka waktu yang cukup lama sampai pada tahun 2003 Didi Hariadi selaku jebolan Sekintang Dayo dan Teater AiR muncul menggebrak panggung Teater Arena dengan karya revolusionernya ‘Sang Buta’ sebuah naskah yang ditulis Khall Gibran.

Didi hadir membawa angin segar bagi lesunya perteateran Jambi saat itu. naskah realis syarat filosofi digarap begitu apik dengan eksperimentasi artistiknya yang begitu fenomenal dan menumental. Didi tiba-tiba memenuhi sekujur panggung dengan rumputan dan ampas tebu, menutup seratus persen permukaan panggung, hingga tampilan teater arena seakn berubah menjadi kandang ternak. Tidak hanya itu, eksplorasi artistik Didi juga dilakukan terhadap kostum, dimana dia mengolah gedobang pisang menjadi tampilan kostum teater yang unik nyentrik,membungkus tubuh para aktor dan pemain. Di sisi lain dia juga melakukan eksplorasi di sisi musik (yang kebetulan semasa itu penulis bersama rekan Amao dipercaya menggarap musiknya), dengan mengoptimalkan eksplorasi musik daerah Jambi.

Eksplorasi yang disuguhkan Didi ternyata mengundang apresiasi positif publik yang telah begitu haus tontonan. Padahal sejatinya, selaku pelaku seni teater sebelum dan sesudah pegelaran ‘Sang Buta’ itu telah puluhan naskah digarap Didi, tapi tetap Saja Sang Buta menjadi fenomena tersendiri yang selanjutnya ditasbihkan pula oleh penulis sebagai salah satu Puncak Capaian Artistik seni teater Jambi saat itu.

Lalu tidak lama pasca garapan Didi, dua tahun selanjutnya prestasi dan prestise perteateran Jambi kembali terukir fenomenal. Adalah Ary MHS Ce’gu yang kemudian muncul dengan konsep kekaryaan terbarunya dalam format Monolog yakni naskah Gentile yang ditulisnya sendiri. Di dunia perteateran, Ary bukanlah sosok baru, dia telah memulai karirnya sebagai sutradara semenjak masih duduk di bangku kuliah Jurusan MIPA FKIP Unja.

Sebelumnya telah belasan bahkan mungkin puluhan naskah telah digarapnya baik di dalam maupun di luar Jambi, bahkan tidak hanya sekedar menggarap, Ary juga kerap melakukan berbagai eksplorasi dan eksperimentasi baik pada pola garapan maupun pada model artistik, namun sayangnya belum ada satupun diantara garapannya itu yang benar-benar mampu menampilkan sosok Ary yang benar-benar seorang tokoh teater berkelas.

Sebelum-sebelumnya dia pernah melahirkan konsep teater Instalasi, yang mengadopsi dari konsep senirupa, lalu dia juga pernah menelorkan konsep teater Dul Muluk Alternatif, mengadopsi konsep musik pop alternatif yang masa itu tengah booming dengan artis utamanya Sheila on Seven. Namun kesemua konsep tersebut tak pernah ada yang benar-benar mampu menggugah sanubari publik teater Jambi bahkan sebaliknya konsep-konsepnya itu kerap menjadi celaan dan guyonan publik.

Setelah lama melakukan pengendapan sembari terus berlatih, akhirnya Ary muncul lagi ke permukaan bersama Teater Oranye yang telah lama dibesutnya dengan menyuguhkan konsep karya terbarunya berupa Monolog ‘Gentile’, sebuah naskah mini kata yang memaksimalkan kehadiran artistik dan keunggulan teknis berteater yang dimilikinya ke atas panggung.

Di panggung Ary menyulap tampilan panggung menjadi sebentuk isi dalam perut manusia yang penuh dengan juntaian dan jalutan usus dan lambung, dari atas dia menghadirkan hujan buatan, di permaianan dia menghadirkan replika buaya yang menelan dirinya hingga mengeluarkannya kembali sebagai kotoran dari dubur buaya tersebut. Di musik Ary menghadirkan kolaborasi unik antara musik life berupa musik gendang melayu dan musik off berupa irama musik rock dan ost. Di tata gerak berhasil mengeksplore kemampuan maksimal tubuhnya dalam menari, meniru berbagai gerak manusia, maka jadilah penampilan itu seperti atraksi anak bisu dan cedal yang mengaduk-ngaduk sanubari audiens-nya yang saat itu datang dari berbagai kalangan.

Diskusi terbuka tidak pernah sepi membicarakannya, koran-koran memuat brbagai analisa para tokoh terhadap penampilan Gentile Ary Ce’gu. Karena itulah selanjutnya penulis yang termasuk salah seorang yang terbius saat ini menilai pertunjukan Gentile tersebut adalah salah satu puncak capaian artistik seorang Ary Mhs Ce’gu, sosok yang juga penulis kenal dekat sedari masa kuliah seperti halnya Ide Bagus Putra.

Hanya saja, sayangnya pasca pertunjukan itu Ary tidak pernah lagi mampu menghadirkan karya yang sama fenomenal dan revolusionernya, dia selanjutnya seperti berubah jadi seorang yang kehilangan energi dan melahirkan karya tanpa banyak studi, sampai pada masa selanjutnya diapun hilang dari peredaran perteateran Jambi.

Penutup

Itulah beberapa sobekan catatan fenomenalnya perteateran Jambi yang sempat didokumentasikan penulis selama ini. Apapun, proses masih terus berlangsung dan tidak akan pernah berhenti. Karena itulah semua berkeyakinan ke depannya akan semakin banyak tercipta dan terlahir puncak-puncak capaian artistik baru lainnya. Entah oleh siapa entah untuk siapa. Mungkin Bonarti Lubis, mungkin Eri Argawan, mungkin Husni Thamrin, mungkin Bujang Uwa, mungkin Titas Suwanda, mungkin Nanang Sunarya, mungkin Dedi Purwandi, mungkin Eso Pamenan, mungkin Sean Popo Hardi, mungkin Cherly Lubis, mungkin Wendy, mungkin Putra Agung, mungkin Ricky A Manik, atau mungkin yang lainnya, bahkan mungkin juga penulis sendiri. Yang jelas kita tetap hadir di sini untuk jadi penyaksi, pencatat dan pemerhati. Maju terus teater Jambi. Wassalam budaya.***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button