opini

Mengintip Benarkah Pesta Demokrasi Adalah Pesta Rakyat

Oleh : KURNIADI ARIS,S.H.,M.M., Advokat/Dosen IAIN Kerinci

Indonesia adalah sautu negara yang bercirikan demokrasi, terminolgi demokrasi bersal dari bahasa yunani, yang bersal dari kata Demos dan Kratos, Demos berarti rakyat dan Kratos berarti kekuasaan maka dapat di tarik kesimpulan demokrasi adalah kekuasaan oleh rakyat.

Selaras dengan apa yang tertuang dalam UUD 1945, Pasal 1 angka 2 menyatakan kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar, terang benderanglah kalau rakyat memegang kekuasaan tertinggi di Republik Indonesia ini yang kita cintai bersama, Sudah jelas tidak perlu ditafsirkan bemacam-macam lagi makna hukumnya (In Claris Non Fit Interpretario).

Dalam melaksanakan roda pemerintahan dalam bernegara setiap lima tahun sekali kita mengadakan pemilu, baik pemilhan presiden dan wakil predisen, DPR RI, DPRD Tingkat I, DPRD Tingkat II, dan pemilihan Dewan Perwakilan Daaerah amanat ini seusai dengan UU No 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan umum.

Kesemua pelaksanan pemilihan pemimpin dan wakil rakyat ini adalah manifestasi untuk mengejawantahkan amanah UUD 1945. Inilah yang disebut Pemilu (Pemilihan Umum) yang di narasikan sebagai pesta rakyat, pestanya segala kaum dalam berdemokrasi baik kaum Proletar (Rakyat Jelata) atau kaum Borjuis (Golongan Mapan), Mayoritas, Minoritas untuk memilih pemimpinya dan wakil-wakil Rakyatnya di semua tingkatan.

Akan tetapi menyongsong gegap gempita pemilu serentak pada tahun 2024 yang akan datang menyisakan satu pertanyaan besar yang perlu dijawab yaitu,” apakah betul pesta demokrasi dalam bentuk pemilu adalah pesta rakyat”, sebab pesta dalam bahasa awam adalah sebuah kegiatan sosial sebagai tanda perayaan dalam suasana kegembiraan oleh orang-orang yang merayakannnya.

Jika kita integrasikan dengan istilah pesta demokrasi maka makna yang muncul adalah, sebuah proses dimana rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi memberikan mandat pemberian mandat kepada wakil rakyat untuk mengurus hajat hidup rakyat itu sendiri.

Baca juga:  Adab

Lalu apa indikator yang akan di gunakan kalau pesta dalam bentuk pemilu itu akan menghasilkan para wali-wali rakyat yang mampu memegang amanah rakyat. Yunani adalah negara yang sedang bergelut dengan kebangkrutan dengan rasio hutang 172,5%.

Apakah pesta demokrasi di yunani memabukkan rakyatnya hingga saat berpesta dalam memlih pemimpinnya salah dalam memlih pemimpin (Unforce Eror Vote) atau kita alihkan kenegara tetangga di asia tenggara Vietnam yang bisa tumbuh ekomominya mencapai 7,46% dan apakah ini juga bisa tarik hoptesis bahwa rakyat vietnam cerdas dalam memilih pemimpinnnya.

Tentu kesemua data dan fakta di atas tidak bisa kita jadikan instrumen tunggal untuk mengukur seberapa besarkah pengaruh pesta demokrasi dalam pemilu dapat menentukan nasib dan arah suatu negara tertentu?

Dan seberapa Reliable atau handalnya rakyat membaca visi dan misi yang ditawarkan sang kandidat hingga rakayat jatuh hati padanya dan kemudian memilihnya, sama-sama masih segar dalam ingatan dan masih basah tinta dalam catatan kita bahwa ratusan orang harus meregang nyawa ketika ikut berbartisipasi ketika menjadi petugas KPPS pada pemiliu 2019, dan masih menyisakan pertanyaan besar mengapa mereka meinggal masal dan seribu pertanyaan lainnya masih mengganjal di benak kita.

Jika demikian sudah sewajarnyalah dalam menyonsong pesta demokrasi pada tahun 2024, rakyat indonesia khusunya yang sudah mempunyai hak pilih harus dan wajib, cerdas menyikapi pesta demokrasi jangan terjebak pada ueforia suasana jadilah pemilih yang cerdas sebab pilhan kita menentukan nasib kita dalam berbangsa dan bernegara, carilah Pemimpin yang handal bukan Pemimpi yang handal.

Baca juga:  Dumisake

Semua stake holder dalam pesta demokrasi wajib ikut mencerdaskan pemilih melalui education voter (pendidikan untuk pemilih ), apakah itu pemerintah, partai-partai politik peserta pemilu yang menjadi kontestan dalam pemilu, KPU,Bawaslu Dll. Kita harus ingat bahwa wacana di tahun 2004 pemilu dilaksanakan seretak dengan Pilkada tentu ini hajat yang lauar biasa tendensisus dan rawan konflik sosial dan apakah rakayat berselera dengan menu demokarsi yang disesiaikan di mejanya, waktu yang kan menjawab seberapa siap dan cerdas semua anak bangsa menyikapi semua ini.

Ditambah lagi dengan wabah Covid 19 pada saat ini dimana rakyat terpukul ekonominya sehingga jeritan kesulitan ekonomi terdenger di mana-mana baik di depan mata kita maupun di raungan di dunia maya atau media sosisal.

Jangan memberikan contoh-contoh yang buruk seperti Negative Campign ketika memasuki masa kampanye , padahal izi adalah zona rawan konflik sosial sehingga lahirlah sak wasangka saling curiga-mencurigai sesama anak bangsa bahkan bermuara dan mengerucut pada terjadinya dikotomi di masyarakat yang terbelah menjadi dua kutub dan ini adalah out come yang kontra produktif terhadap makna pesta demokrasi itu sendiri.

Mulai saat ini jadilah kita pemilih yang cerdas agar pesta demokrasi betul- betul akan menjadi sarana pestanya rakyat karna tepat dan cerdas mememlih pemimpinnya dan pemimpin yang terpilih menjaga amanah untuk mengurus hajat hidup rakyat Indonesia.

Baca juga:  Dumisake

Singakat kata pemilih harus tahu Visi,Misi,Rekam Jejak dan program dari calon pemimpinnya janganlah terjebak pada faktor primordial dan segala macam Politikal Marketing dari sang calon yang tidak ada hubungannya dengan kecakapannya sebagai calon pemimpin yang mengurusi hajat hidup rakyat atau konstituennya. Laksana pedangang kecap, kecap dialah yang nomor 1, sementara kecap merek lain no 2 dan seterusnya.

Dengan demikian terpilihnya pemimpin yang amanah dengan standar kompetensi yang tinggi jelas Visi ,Misi dan Program-program yang di tawarkannya kelak pada aplikasinya kita mampu bergerak kerah yang lebih baik dan Indonesia menjadi kekuatan ekonomi besar dunia dan berdiri di atas kaki sendiri.

Hal ini menjadi satu variabel untuk bukti bahwa pesta demokrasi adalah kegiatan rakyat dalam pemilu yang berujung pada sebuah kegembiraan. Karena sukses dalam memilih pemimpin yang mampu mengurusi hajat hidup rakyat itu sendiri kearah yang lebih baik.

Sebab jika salah dan tidak cerdas dan cermat dalam memlih bisa jadi pesta demokrasi menjadi pesta yang kelabu yang penuh tangisan dan berakhir pada umpatan, kekecewaan, rasa menyesal bahkan kepada hal-hal yang lebih ekstrim dari kesemua itu yang titik pangkalnya salahnya rakyat memberi mandat kepada pemimpin yang sebenarnya mempunyai standar kompetensi yang rendah. Sehingga gagal mengemban amanah dan dampaknya akan berbalik kepada rakayat secara keseluruhan tidak saja yang memilihnya bahkan juga yang tidak memilihnya.

Kalau kita lebarkan sedikit islam sudah memeberikan metodologi untuk sebagai sandara dalam memilih amir atau pemimpin ktriterianya yaitu, Siddiq(jujur), Amanah (Bisa dipercaya), Fatanah (Cerdas,Bijak), Tabliqh (Menyampaikan).

Show More
Back to top button
>