Chandra Purnama: Untuk kehidupan anak cucu Jangan Wariskan Air Mata !!!
Berita Kerinci, Kerincitime.co.id – Masyarakat di Alam Kerinci sejak masa lampau telah di kenal memiliki keanekaragaman kearifan lokal, salah satu dari nilai nilai kearifan lokal yang hingga saat ini masih dirawat oleh masyarakat adat di alam Kerinci ialah mau dan mampu merawat hutan hutan adat yang ada di sekitar lingungan kehidupan mereka
Hal ini disampaikan H.Chandra Purnama,SH,MH dalam diskusi bersamaBj Rio Temenggung Tuo – Pemerhati budaya/penerima Pin emas dan Anugerah Kebudayaan Tingkat Nasional di kawasan pintu rimbo /hutan adat nenek Limo dan Nenek Empat Hiang Kecamatan Sitinjau Laut Kabupaten Kerinci beberapa waktu yang lalu,bagi masyarakat di alam Kerinci hutan dianggap bak “Pusaka” yang perlu di jaga dan dipelihara dari kepunahannya, artinya di dalam hati dan pikiran(benak) masyarakat adat yang ada di alam Kerinci secara turun temurun telah tertanam bahwa dari hutan mereka mendapatkan sumber mata pencarian dan pendapatan untuk keluarganya
Dari Hutan adat di kawasan Hiang Kecamatan Sitinjau Laut –Kerinci inilah mereka secara gratis mendapatkan lingkungan yang lebih baik, udara yang lebih bersih dan mata air yang bening dan pada musium kemarau panjang sekalipun masyarakat khususya para petani tidak mengalami kekeringan dan tetap bisa menanam padi disetiap musium, dan pada musium hujan sekalipun mereka tidak kebanjiran”Kata H.Chandra Purnama,SH,MH”
Menurut H,Chandra Purnama,SH,MH masyarakat adat di wilayah adat Nenek Limo dan Nenek Empat Hiang dengan kearifan lokal yang dikawal oleh para pemangku pemangku adat (Depati/Ninik Mamak) masyarakat banyak mendapatkan manfaat dari hutan yang hingga saat ini masih terjaga dan dirawat dengan baik, Dari hutan adat itu masyarakat mendapatkan kehidupan sosial yang lebih baik, dan mereka secara pribadi dan sebagai bagian dari kelompok masyarakat adat memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang sama terhadap upaya penyelamatan hutan adat yang selama puluhan tahun telah mereka lakukan
Di wilayah adat Nenek Limo dan Nenek Empat Hiang nilai nilai kearifan lokal masih sangat dipatuhi dan ditaati oleh komunitas masyarakat adat yang ada di wilayah adat Hiang-Kecamatan Sitinjau Laut Kerinci, masyarakat dengan kesadaran dan tanggung jawab moral yang di mulai dari diri sendiri telah memiliki komitmen yang kuat dalam melestarikan hutan dan merawat nilai budaya dan kearifan lokal yang secara turun temurun telah mereka jalani.
Hutan Taman Nasional termasuk hutan adat yang masih lestari di daerah Hiang-Sitinjau Laut Kerinci merupakan kekayaan alam yang dianugerahi oleh Sang Pencipta kepada manusia yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber kehidupan, dan manifestasi rasa syukur atas anugerah Tuhan,maka setiap kita yang mengaku sebagai khalifah dan insan ciptaan Tuhan memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk memanfaatkan hutan secara bijak dan optimal dan memiliki kewajiban yang sama pula untuk merawat dan menjaga kelestariannya, “Sebagai sebuah generasi pada zaman kini sudah sepatutnya kita secara bersama sama untuk terus menjaga hutan -agar hutan kita dapat terus mampu untuk menerbitkan mata air yang bening untuk keberlanjutan kehidupan, dan “kita memiliki kewajiban yang sama untuk tidak mewariskan air mata” kepada anak cucu kita “ Ujar H.Chandra Purnama,SH,MH”
Dikalangan birokrat dan masyarakat di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh sosok H.Chandra Purnama telah di kenal luas, “Pur” demikian panggilan akrab masyarakat adat di Hiang itu dalam kesehariannya dikenal sebagai ketua Lembaga Adat Betung Kuning-Hiang,ia juga penggiat lingkungan dan Ketua Hutan Adat di Hiang, dan secara bersama sama masyarakat adat sejak beberapa tahun yang silam telah merawat dan menjaga hutan adat termasuk merawat Flora – Fauna yang ada di Hutan itu.
Kegigihannya dalam memelihara dan menyelamatkan hutan adat dikampungnya bersama sama masyarakat adat membuahkan hasil, sebuah penghargaan bergengsi tingkat nasional, Regional dan Daerah telah diraih berkat perjuangan -ia bersama para tokoh tokoh adat dan masyarakat adat di wilayahnya telah mengharumkan nama propinsi Jambi di tingkat Nasional dengan menerima penghargaan Kalpataru yang diserahkan oleh Presiden RI Bapak Dr..H.Susilo Bambang Yudhoyono.
Penyerahan Citra “Kalpataru” diserahkan secara lansung oleh Kepala Negara/Presiden Republik Indonesia pada Tanggal 6 Juni tahun 2005 pada puncak acara hari Lingkungan Hidup yang dipusatkan di Istana Cipanas Propinsi Jawa Barat
Bersama para pemangku pemangku adat /budayawan di Alam Kerinci beliau ikut serta berperan secara aktif untuk melestarikan dan mengembangkan adat serta kebudayaan Suku Kerinci, disela sela kegiatan rutinitasnya sejak masih aktif menjadi pejabat hingga saat ini Chandra Purnama dikenal dekat dikalangan aktifis Mahasiswa,aktifis Lembaga Swadaya Masyarakat dan kalangan pers, dan ia termasuk salah seorang sumber rujukan dalam sejumlah diskusi/ dialog budaya dan lingkungan, Chandra Purnama termasuk salah satu dari sedikit pejabat yang mau berbagi pengalaman dan memberikan pencerahan kepada adik adik dibawah generasinya,salah satu kebiasaan beliau adalah melakukan diskusi diskusi bersama para budayawan,pemangku pemangku adat dan seniman untuk memberikan pecerahan kepada masyarakat tentang besarnya peranan adat dan pentingnya pelestarian nilai nilai tradisi dan kearifan lokal untuk mewujudkan masyarakat adat yang beradab serta lebih bermartabat.(Budhi)