Pariwisata/Budaya

Menggugat Kegagalan Interprestasi Dari Pementasan Yang Gagal

Menggugat Kegagalan Interprestasi Dari Pementasan Yang GagalMenggugat Kegagalan Interpretasi dari Pementasan yang Gagal

Oleh: Titas Suwanda

Sutradara TUK, Ketua Teater AiR Jambi.

Prof. Dr. A. Teeuw:

“Bila seorang pembaca tidak berhasil mencapai interpretasi yang integral dan total, tinggal hanya dua kemungkinan: karya itu gagal atau pembaca bukan pembaca yang baik; kemungkinan ketiga tidak ada,”.

 

Kutipan tersebut memberikan penguatan pada saya untuk berbagi keterbatasan pemahaman yang saya anggap sebagai suatu kecukupan atas suatu teks pertunjukkan teater berjudul “TUK” yang dipentaskan Teater Art in Revolt (AiR) Jambi di gedung pertunjukan teater arena, Taman Budaya Jambi (TBJ) selama tiga hari berturut-turut, sejak tanggal 4 sampai 6 Februari 2016 lalu.

Sebagai ketua Teater AiR Jambi, sekaligus sutradara yang melakukan penggarapan sehingga teks lakon berjudul TUK karya Bambang “Kenthoet” Widoyo terbangun wujudnya sebagai peristiwa (event) di panggung berbentuk tapal kuda milik TBJ tersebut, saya terus membesarkan hati para anggota Teater AiR Jambi yang terlibat sebagai pelakon. Sebab apa yang sudah kami sajikan ke ruang publik pecinta teater Jambi mendapatkan apresiasi yang luar biasa, yang sungguh di luar dugaan. Beberapa media cetak, dan media online lokal (Posmetro Jambi, Jambi Independent, Jambi Ekspres, Jambi One) yang terbit pada tanggal 5 Februari 2016 memuat bahwa pementasan TUK merupakan pementasan yang fenomenal. Hal ini barangkali berdasarkan pantauan langsung para jurnalis media terhadap banyaknya jumlah penonton selama pertunjukan TUK berlangsung.

Adakah hal lain yang lebih membahagiakan hati seorang koki selain dari apa yang ia masak, kemudian ia sajikan di meja makan habis disantap dan dinikmati orang? Alhamdulillah. Menyimak banyaknya penonton yang memenuhi gedung teater arena, sebagai pegiat teater, kami tentu sangat bahagia. Animo tinggi masyarakat penikmat teater menjadi penyemangat, seperti secarik tisu yang menghapus peluh. Tergantikan segala keletihan selama proses penggarapan TUK berjalan lebih kurang delapan bulan sebelum pementasan.

Namun sebagai komunitas, teater AiR tentu cukup legowo dengan hipotesis jika kuantitas penonton tidaklah memberikan kepastian membaiknya kualitas penonton teater di Jambi. Apalagi menjadi jaminan terhadap kualitas pementasan TUK yang kami sajikan sebagai teks (diskursus) pertunjukan teater tersebut. Keraguan serupa bahkan diungkapkan beberapa pemerhati setia Teater AiR Jambi yang entah oleh dirinya sendiri, atau oleh wartawan dari suatu media online (Jambiaktual.com) yang menerbitkan berita terkait pementasan TUK, menasbihkan diri mereka sebagai kritikus. Patut kami syukuri jika benar adanya bahwa mereka adalah kritikus. Artinya, kami memiliki para pembaca yang sangat cerdas atas teks pertunjukan yang kami sajikan.

Dalam media online tersebut pulalah para Kritikus (meminjam istilah dari Jambiaktual.com) ini menyampaikan berbagai pandangan tentang diskursus panggung TUK. Bahkan seorang kritikus, dengan lugas berpendapat bahwa TUK merupakan pementasan yang gagal. Entah dengan pemahaman konseptual makna leksikal bentuk |gagal| dalam KBBI yang benar atau karena ketergesaan pemaknaan (interpretasi) terhadap teks pentas TUK. Namun, sebagai sutradara yang setidaknya semalam lebih dulu membaca naskah TUK, sebelum menentukan pemain dari proses casting, saya bertanggung jawab sepenuhnya atas kegagalan tersebut.

Seperti pandangan Teeuw yang saya kutip, hanya ada dua kemungkinan bila suatu teks tidak berhasil diinterpretasi. Kemungkinan pertama adalah, karya itu gagal; dan kemungkinan kedua, pembaca teks bukanlah merupakan pembaca yang baik. Melalui Jambiaktual.com, para kritikus telah mengungkapkan adanya kemungkinan pertama, bahwa sebagai suatu teks, pementasan TUK merupakan karya yang gagal. Namun sebelum segalanya tersimpul, sebagai penyeimbang, saya akan paparkan tentang kebenaran adanya kemungkinan kedua: bahwa para kritikus sebagai pembaca yang seharusnya cerdas itu ternyata bukanlah pembaca yang baik, bahkan gagal memaknai (menginterpretasi) teks TUK.

Bukannya bermaksud hendak berbantah-bantah, saya menggunakan hak jawab saya sebagai bentuk keprihatinan. Saya benar-benar prihatin. Bagaimana tidak? Seorang “kritikus” yang gagal menangkap esensi teks TUK lantas melemparkan diskursus baru ke ruang publik bahwa teks TUK gagal mengungkapkan esensi. Seperti pepatah lama, buruk muka cermin dibelah. Di berita yang sama, kritikus lain berpendapat teks pentas TUK hanya menampilkan unsur komedi. Sementara kritikus lainnya menyayangkan kekentalan dialek jawa, dan tidak adanya penanda identitas kejambian.

Tuk memeristiwakan kekacauan, keperihan, kekonyolan persoalan hidup yang dialami tokoh-tokoh yang tinggal di Magersaren. Magersaren sendiri adalah suatu perkampungan yang dihuni masyarakat dari kalangan bawah. Disitulah Mbah Kawit, Marto Krusuk, Lek Bismo, Bibit, Soleman, Romli tinggal, bergelut, berinteraksi, dan bertahan hidup.

Kehadiran tokoh underdog seperti kaum gelandangan dan latar hidup masyarakat kelas bawah inilah yang menurut Sapardi Djoko Damono sebagai penanda teks teater modern Indonesia. Para gelandangan, kere, bajingan, preman, dan pengemis dalam lakon-lakon mutakhir adalah “para pengembara ide” yang bebas mengeluarkan pandangan penulisnya, kapan saja dan dimana saja sepanjang lakon. Pada lakon TUK, para tokoh underdog kadang diperlakukan sebagai sosok intelektual.

Tokoh Mbah Kawit misalnya, dalam dialognya sarat mengungkapkan kandungan makna-makna filsafati tentang tuk yang secara harfiah dalam bahasa jawa berarti “sumber air”. Pada adegan Mbah Kawit memarahi Bibit yang akan membuang ember bobrok ke dalam sumur, Mbah Kawit menuturkan bahwa “tuk adalah sumber kehidupan, sumber rejeki. Jangan mengotori apalagi membuang sampah ke dalam sumur. Jauh dari air berarti jauh pula dari rejeki”. Begitu juga dengan tokoh Soleman Lempit, preman yang juga berprofesi sebagai makelar tanah. Dalam tuturannya Soleman menyatakan bahwa manusia memiliki etika, attitude yang secara konvensional bersifat mengikat. “pekerjaanku memang makelar Prit. Tapi pantang bagiku membujuk orang untuk menjual barangnya,” kata Soleman pada Mbokde Jemprit, pedagang pasar yang tampil sebagai sosok selalu mengeluh.

Intelektual tokoh underdog juga tampak pada tokoh Bismo, seorang seniman gagal (yang diadaptasi dari tokoh dalang dalam naskah asli) yang akhirnya memilih berprofesi sebagai pedagang keliling yang menjual mainan anak-anak. Bismo selalu mengingatkan tokoh Jemprit bahwa sebagai manusia kita harus banyak bersyukur dan berhenti mengeluhkan keadaan. Sedangkan tokoh Isteri Romli dengan kemarahannya menuturkan bahwa manusia itu kalau sudah jelek kelakuannya buat apa ditutup-tutupi.

Dari beberapa sekuel alur itu, tidakkah penonton (pembaca teks pertunjukan Tuk) merasakan suasana yang menindih, yang mendorong para tokoh melakukan tindakan-tindakan yang tidak masuk akal? Kekacauan suasana Magersaren bahkan telah diciptakan sejak awal cerita. Dimana ketika peralihan adegan yang ditandai dengan masuknya tokoh-tokoh baru muncul dengan dialog (gilir tutur) yang seakan tumpang tindih. Adegan pertama adalah pertengkaran tokoh Romli, si tukang jahit dengan Sum, isterinya. Romli yang khusuk menjahit pakaian dikejutkan oleh suara gaduh dari dalam rumah. Romli pun berteriak memanggil isterinya “Sum… kamu kenapa? Nyari Apa?”. Namun tuturan Romli justru dijawab oleh kemunculan Marto Krusuk yang memanggil nama anaknya “Genjik…njik.. dimana kamu njik..” seolah menjawab pertanyaan Romli. Tuturan Isteri Romli “yang jelas aku nggak mau dimadu, nggak sudi…nggak mau!!” malah dijawab oleh Soleman “siapa yang mau!” yang dalam waktu hampir bersamaan sedang berdialog dengan Mbok Jiah yang ingin menggadaikan radio miliknya karena kehabisan uang. Dialog Mbok Jiah yang memanggil Soleman “Man… kamu mau kemana?” justru disambung oleh isteri Romli dengan “Pulang!! Sumpek aku disini”. Begitu seterusnya sampai semua tokoh dimunculkan di panggung.

Kekacauan ‘gilir tutur’ tersebut tampil bukan tanpa kaitan ‘sebab-akibat’ yang menjadi dasar penciptaan lakon. Namun dengan kesadaran penuh sutradara untuk memunculkan suasana dan memberikan pengalaman batin kepada penonton akan kesemrawutan Magersaren. Di Magersaren pulalah para tokoh hidup bersama. Bertahan hidup dengan “tuk”-nya (sumber penghidupan) masing-masing. Kegamangan hidup itu semakin terguncang oleh munculnya isu bahwa Magersaren akan dijual. Mereka kebingungan. Dimana lagi mereka akan tinggal, untuk sekadar melepas kepenatan hidup dan berteduh dari panas ataupun hujan?

Wacana perlawanan kelas bawah muncul ketika penghuni Magersaren yang dimotori Mbokde Jemprit memprotes keras rencana penjualan Magersaren oleh Menik yang dibantu Soleman Lempit. Kesewenangan Menik sebagai representasi kaum borjuis (kapitalis) diadegankan dengan pengusiran penghuni Magersaren yang tak mampu membayar sewa rumah. Teks TUK diakhiri monolog Mbah Kawit sambil memantrai sumur agar tidak ada orang yang mau membeli Magersaren. Monolog Mbah Kawit juga merepresentasikan perlawanan kelas bawah yang kental dengan ideologi eksistensialisme yang berpandangan bahwa hakekat kehidupan manusia pada dasarnya hanyalah suatu kesia-siaan.

Selain mewacanakan perlawanan kelas bawah, teks Tuk juga merupakan upaya menggugat zaman. Zaman postmodern yang membuat generasi kesulitan membedakan mana realitas sebenarnya, mana realitas buatan atau dunia simulasi. Merujuk pendapat Lechte, inilah zaman dimana masyarakat hidup dalam silang-sengkarut kode, tanda, dan model yang diatur sebagai produksi dan reproduksi dalam sebuah simulakra. Sedangkan Baudrillard memaparkan simulakra adalah ruang dimana mekanisme simulasi berlangsung.

Suatu mekanisme yang menjebak manusia dalam ruang realitas yang dianggap nyata padahal sesungguhnya semu dan penuh rekayasa. Realitas semu ini menjadi ruang antitesis dari representasi, yang dalam wacana Derridean disebut dekontruksi representasi. Contoh realitas semu tersebut adalah televisi dan internet.

Upaya menggugat zaman pada teks TUK tergambar jelas pada adegan seorang tua bernama Marto Krusuk yang sibuk mencari anaknya yang bernama Genjik. Di tengah suasana panggung yang mengambarkan keremangan pergantian siang ke malam (senja) Marto Krusuk berteriak memanggil Genjik yang disambut dengan tuturan Bismo yang mengatakan Genjik sedang nonton televisi di rumah Nyah Bawang. Peristiwa ini membuka mata kita bahwa seorang Genjik yang merupakan representasi generasi muda kita sedang larut dalam realitas semu bernama televisi hingga lupa waktu bahwa siang telah berganti malam. Keterlenaan generasi dalam realitas semu juga berdampak pada sikap apatis generasi terhadap persoalan yang terjadi di sekitar kehidupannya. Sosok Genjik yang larut menonton TV bahkan tak pernah hadir dalam pementasan. Tanpa peduli persoalan yang terjadi di Magersaren, tempat dimana ia tinggal.

Genjik mengingatkan kita bahwa hingga hari ini model dan ruang realitas semu semakin beragam. Hari ini, internet berada pada urutan terdepan sebagai simulakra yang paling diminati masyarakat postmodern. Bahkan internet menjadi acuan baru masyarakat. Apapun yang manusia butuhkan seolah tersedia di internet. Realitas yang dihasilkan oleh teknologi ini mengalahkan realitas yang sebenarnya. Citra lebih meyakinkan ketimbang fakta. Mimpi lebih dipercaya ketimbang kenyataan sehari-hari. Inilah zaman hiperealitas. Realitas yang lebih nyata dari yang benar-benar nyata. Zaman juga membuat manusia melupakan esensi. Lebih mengutamakan penampilan, kulit atau kemasan, ketimbang isi. Seperti halnya para kritikus pementasan TUK yang khusuk mengulas sesuatu yang tampak.

Terkait pendapat kritikus yang menyebut bahwa teks pementasan TUK hanya menonjolkan unsur humor (komedi) sekiranya juga perlu saya imbangi dengan pemahaman dan perspektif lain. Merujuk pendapat Sunu Wasono, bahwa unsur humor memang menonjol dalam lakon-lakon mutakhir. Hanya saja, unsur humor tersebut bukan semata-mata dilandasi fungsi dagang seperti halnya terdapat dalam pertunjukan lawak populer, tetapi dilandasi oleh motif komunikasi. Penilaian penuhnya unsur lelucon dalam lakon mutakhir juga dikemukakan pengamat teater Indonesia, Sapardi Djoko Damono. Menurut Sapardi, humor dalam lakon mutakhir lebih bersifat “kecerdasan” atau wit yang dilandasi hasil pemikiran intelektual.

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana seorang yang berlabel kritikus memaknai semisal tuturan Istri Romli yang mengancam akan memotong kemaluan suaminya yang telah menghamili seorang perawan di Magersaren dianggap humor semata. Padahal nyata-nyata saya menonjolkan keperihan seorang istri yang dikhianati. Bagaimana pula caranya agar saya dapat membayangkan kritikus menganggap kekonyolan seorang preman yang mengencingi sumur karena kesal ayamnya yang biasa diandalkan di gelanggang aduan mati tercebur sumur, atau nasib Mbok Jiah yang harus terusir karena tidak mampu membayar sewa rumah, tentang perilaku Mbah Kawit yang memantrai sumur sampai mati, serta kekonyolan penghuni Magersaren lainnya yang melepas kepenatan hidup dengan cara saling mengejek karena tiada lain yang bisa menjadi hiburan selain interaksi di sekitar sumur yang ada di tengah Magersaren itu, hanya sebagai komedi.

Dari bangunan alur, tak ada bagian yang rumpang. Bahkan alur cenderung mengalir lurus. Saya memang mengamputasi teks asli yang jika disajikan utuh akan berdurasi hingga empat jam pementasan. Pemotongan ini dengan mempertimbangkan kondisi daya tahan penonton di Jambi. Namun, saya memastikan tidak ada bagian rumpang. Pemotongan hanya dilakukan pada adegan bersayap yang tak memengaruhi konstruksi alur serta porsi muatan dramatik lakon. Hal ini bisa di kroscek langsung ke naskah asli, sehingga pernyataan sebagai seorang kritikus benar-benar komprehensif dan tidak prematur.

Sejatinya saya ingin tetap menjaga distansiasi (penjarakan) antara saya sebagai sutradara (kreator) dengan penonton dengan sebagai sari dari teori interpretasi yang saya dan teater AiR Jambi pahami dengan teguh. Disertai harapan akan ada interpreter mumpuni yang selain mampu memahami apa yang ada dalam teks, juga mampu memahami dunia yang diproyeksikan keluar teks, sampai pada apropriasi (pemahaman diri) sebagai tahapan akhir dari interpretasi. Namun selama bergiat di teater AiR Jambi, harapan tersebut agaknya masih membutuhkan waktu.

Banyak kesewenangan penafsiran dari para kritikus selaku pembaca cerdas dari teks pertunjukan yang disajikan. Tafsiran artifisial tak berdasar yang hanya dibuat-buat. Saya curiga, ulasan yang menyatakan TUK gagal dari sisi muatan nilai, rasanya tidak menempatkan teks TUK pada konteks yang semestinya. TUK sebagai teks yang berasal dari teks sastra (lakon) kemudian diwujudkan ke atas pentas teater (seni pertunjukkan). Mungkin teks TUK dikomparasikan dengan teks khotbah seorang ulama di atas mimbar dalam rumah-rumah ibadah. Pahamilah, teater sebagai seni pertunjukkan menyajikan peristiwa ke atas pentas. Entah peristiwa baik. Atau mungkin peristiwa buruk.

Endraswara menuturkan bahwa penafsiran menegaskan manusia autentik dilihat dalam kontek ruang (lokus) dan waktu (tempos) di mana manusia sendiri mengalami dan menghayatinya. Untuk memahami dasein (manusia autentik), kita tidak bisa lepas dari konteks yang ada, sebab itu kalau dilihat dari luar konteksnya, yang tampak ialah manusia semu yang artifisial atau hanya buatan saja.

Interpretasi menjadi tidak otentik jika pembaca masih terbenam di dalam dunia langsung teks dan terlena di dalam keterbenamannya. Ini adalah kepolosan pertama. Kepolosan kedua adalah pembaca mencoba menangkap kembali kelangsungan tersebut hanya sebagai suatu batas dan sebagai kelangsungan yang diperantarai.

Dikemukakan Ricoeur bahwa makna sebuah teks tidaklah terletak di balik teks tersebut, melainkan di hadapannya. Ia bukan sesuatu yang tersembunyi, tetapi sesuatu yang terbuka, bahkan merupakan poin-poin yang mengarah pada dunia yang mungkin dihadapi dengan adanya referensi teks yang tidak mencolok. Pemahaman tidak lagi hanya sekadar mengaitkan teks dengan kreator dan situasinya. Ia mencari sesuatu untuk merenggut proposisi dunia yang diungkap oleh referensi teks.

Pemahaman diri ditandai pertemuan antara dunia yang disarankan oleh teks dengan dunia kongkrit pembaca atau penafsir. Gadamer menggunakan istilah peleburan cakrawala-cakrawala (fusion of horizons). Peleburan tersebut karena pembaca tidak mungkin mengambil alih dunia teks secara keseluruhan dan meninggalkan dunia aktual yang dihayatinya sekarang, sehingga penafsir tidak membiarkan dunianya tetap dan sekaligus tidak menolak dunia yang ditawarkan teks.

Demikianlah, setidaknya, sebagai sutradara dari suatu pementasan yang dianggap gagal, saya mengemukakan tentang kemungkinan kedua dari pendapat Teeuw, bahwa pembaca bukanlah pembaca yang baik. Terbersit pula di benak saya ke depannya Teater AiR Jambi bisa membuka workshop tentang bagaimana menginterpretasi teks teater. Mana tahu dari workshop itu nantinya akan lahir kritikus teater yang mumpuni. Aamiiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button