Pariwisata/Budaya

Benda Budaya suku Kerinci terancam punah

Berita Sungai Penuh, Kerincitime.co.id – berbagai artefak dan tinggalan tinggalan kebudayaan dan peradaban suku Kerinci yang tersebar di Kota Sungai Penuh terancam punah, bahkan Aksara Incung Suku Kerinci saat ini saat ini akan menjadi kenangan dan pajangan di Musium atau hanya dijadikan sebagai benda pusaka yang disimpan diatas loteng” Umuouh Gdeang” yang ada di setiap laheik laheik jajoo(Rumah berlarik disetiap luhah luhah)

Para pakar dan budayawan yang memahami aksara Incung saat ini jumlahnya dapat di hitung dengan jari jemari, dilain pihak Pemerintah Kota Sungai Penuh dan Pemerintah Kabupaten Kerinci (SKPD terkait) hingga hari ini belum menunjukkan langkah yang nyata, yang ada Kepala Bidang Kebudayaan Disporaparbud Kota Sungai Penuh bersikap ambivalent dan belum memahami kebudayaan secara utuh termasuk aksara Incung, Bidang kebudayaan Dinas Poraparbud Kota Sungai Penuh memahami Budaya hanya dalam arti sempit “mengurus Tari dan Nyanyiaan kreasi,padahal kebudayaan itu memiliki ruang dan dimensi yang amat luas.

Doktor HJ.Nazurty,M.Pd. Dosen FKIP Universitas Negeri Jambi mengharapkan agar Pemerintah untuk lebh pro aktif dalam menggali dan merawat budaya suku Kerinci seperti Aksara Incung, dan berbagai seni tradisi seperti Tale.

Menanggapi adanya pihak yang mengclaim sebagai penggali dan peneliti Aksara Incung suku Kerinci DR. Hj.Nazurty.M.Pd. belum sependapat, Aksara Incung itu sudah ada sejak berabad abad yang silam, dan pada tahun 1941 DR.P.Voorhove seorang ahli bahasa yang diperbantukan kepada Gubernur Sumatera telah melakukan penelitian yang berhubungan dengan aksara Incung,dan beliau telah mengumpulkan lebih dari 200 naskah yang beraksara Incung,Naskah tersebut sebagian besar diperoleh dari masyarakat adat yang ada di alam Kerinci.

Jadi tidak benar jika ada yang mengaku sebagai penggali dan peneliti aksara Incung pertama dialam Kerinci, atau yang mengaku dialah yang paling tahu tentang aksara Incung, sebab sudah ada peneliti sebelumnya termasuk sejumlah tokoh tokoh budayawan dan pemangku adat (depati,ninik mamak) di alam Kerinci, kalau orang yang mempelajari kembali memang akhir akhir ini sudah mulai banyak dilakukan, dan aksara /huruf itu sendiri sudah ada dari masa sebelumnya.jadi syah syah saja jika ada pihak pihak lain yang mencoba merawat dan melestarikan,yang penting tidak mengclaim bahwa dialah yang paling tahu.

Menjawab pertanyaan tentang kepakaran Prof.DR.H.Amir Hakim Usman,MA dibidang kebudayaan dan Sastra Kerinci,ini sudah diakui oleh para pakar dalam dan luar negeri, hanya saja sebagai akademisi beliau jarang mau menonjolkan diri, dan Prof.DR.H.Amir Hakim merupakan satu satunya Profesor kelahiran Sungai Penuh Kerinci yang membuat buku Kamus Bahasa Kerinci”,jadilah tidaklah mungkin sebagai Dekan Fakultas Sastra dan sebagai orang Kerinci tidak mengetahui dan tidak memahami aksara Incung, orang yang tidak memiliki gelar akademis saja ada yang tahu, masak iya seorang Profesor dan orang Kerinci pula tidak paham dengan budaya Kerinci. Memang beliau tidak mengekspos keluar atau membuat buku tentang aksara Incung, akan tetapi sebagai seorang akademisi beliau sosok yang orang campus yang intelektual dan sering bolak balik ke Belanda(Leiden), jadi jika kita merasa tahu namun jangan anggap diri paling tahu,sebab kebudayaan termasuk aksara Incung merupakan milik bersama dan merupakan sebuah warisan peradaban yang diwarisan kepada anak cucu,bukan untuk dipahami sekelompok orang saja.

Menanggapi Kritikkan terhadap Buku Mengenal Aksara Incung , DR.Hj.Nazurty,M.Pd, menanggapi biasa biasa saja, yang namanya buku baik yang di tulis, maupun yang disusun pasti tidak ada yang tidak salah, akan tetapi jika ada yang kurang atau salah mari kita diskusikan dan kita bicarakan secara ilmiah melalui dialog atau bedah buku melalui forum, dan penyusunpun minimal secara moral wajib melakukan perbaikkan,karena buku itu merupakan ilmu yang akan dipelajari oleh generasi generasi mendatang, terlepas dari benar atau tidak benar nya isi buku atau adanya kesalahanan sebaiknya pihak pihak yang merasa kurang puas sebaiknya berbicara dengan santun dan mengedepankan pikiran dan konsep ilmiah bukannya mencela atau mencaci maki sebuah karya

Depati H.Alimin Budayawan.pemerhati dan pelestari Aksara Kerinci kemaren 12/4 mengemukakan, bahwa dimasa hidupnya Prof.Dr.H.Amir Hakim Usman dikenal sebagai sosok cendekiawan/ilmuawan, dan dimasa hidupnya beliau merupakan orang Kerinci dan seorang Dosen Bahasa dan Sastra di IKIP Padang yang pernah menemui DR.P.Vorrhoeve di Belanda, dan DR.P.Voorhoeve pun banyak bercerita tentang budaya Kerinci khususnya Aksara Incung Suku Kerinci

 

Menurut Depati H.Alimin, adalah wajar saja jika sebuah buku di kritisi,kalaupun ada yang belum sempurna atau tidak tepat masih bisa di revisi ulang,Hanya “Kitab Suci Al Quran “ yang tidak boleh direvisi,apapun jenis buku karangan dan ciptaan manusia tidak luput dari kesalahan dan penafsiran yang berbeda,tergantung sudut pandang, dan khusus untuk naskah yang di Kritik oleh Antri Mariza Qadarsih Iskandar seperti yang tersebut dalam buku yang di susun oleh Budhi .,Dkk, itu mengada ada, saya yang menyalin dan menterjemahkanya,mungkin salinan milik pak Iskandar Zakaria sama dengan yang saya salin, karena naskah aksara Incungnya sama, hanya saja saya tidak hanya menyalin tapi saya juga menterjemahkannya.

Pemerhati dan penggiat seni Azrefli ,MM, menyebutkan sebenarnya kita harus bersyukur masih ada orang orang seperti Bapak Iskandar Zakaria, Bapak Depati.H.Alimin, Bapak Depati Hasril Meizal,an dan Saudara Budhi VJ Rio Temenggung yang mau peduli dan memperhatikan serta mengembangkan budaya suku Kerinci termasuk aksara Incung yang nyaris punah,meskipun dalam memahami dan menyusun artikel, makalah dan buku mengenai aksara Incung masih banyak ditemui kesalahan dan kondisi itu perlu kita kritisi secara bersama untuk penyempurnaan/Revisi berikutnya.

Jika buku sebuah buku sudah di kritisi secara benar dan bertanggung jawab,maka buku itupun akan semakin baik sehingga aksara Incung sebagai sebuah warisan bangsa dapat dikembangkan secara luas ditengah tengah masyarakat, syaran saya sebaiknya para pemerhati dan penggiat aksara Incung perlu duduk bersama melakukan diskusi dengan mengedepankan intelektual dan nalar akal sehat.

Hendri,, seorang Jurnalis Kota Sungai Penuh dengan nada diplomasi mengatakan, dalam sebuah buku atau sebuah karya cipta masih akan ada kritikan, dan kritikkan itu mesti disikapi secara arif dan bijaksana, yang penting tujuan membuat sebuah karya atau buku bermuara untuk pencerahan peradaban, kalaupun dalam sebuah buku atau karya terdapat kesalahan atau kekhilafan masih ada ruang dan waktu untuk melakukan koreksi dan perbaikkan, dan kedepan bagaimana menjadikan bantu sandungan itu menjadi sebuah batu loncatan untuk menuju kearah yang lebih baik. (Rio)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button