
Kerincitime.co.id, Berita Kerinci – Keajaiban alam yang menjadi ikon Provinsi Jambi, Danau Kerinci, kini tengah berada dalam kondisi memprihatinkan. Penurunan debit air yang drastis telah mengubah wajah danau seluas 4.200 hektare tersebut menjadi daratan gersang di bagian tepiannya. Fenomena langka ini dikonfirmasi dugaan dari dampak langsung dari uji coba operasional raksasa energi, PT Kerinci Merangin Hidro (KMH), Rabu (28/1).
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VI Jambi, Joni Rahalsyah Putra, mengungkapkan bahwa penurunan muka air ini terjadi selama masa uji coba pengaliran yang berlangsung pada 1–16 Januari 2026.
Mengejutkannya, penurunan drastis ini dipicu hanya oleh pembukaan satu dari tiga pintu air yang tersedia. “Dari tiga pintu, hanya satu yang dibuka setinggi 20 centimeter untuk menggerakkan turbin. Ternyata, dalam 16 hari pengoperasian, dampaknya sudah mengakibatkan penurunan air Danau Kerinci yang begitu signifikan,” ujar Joni dalam rapat koordinasi di Jambi, Selasa (27/1/2026).
PLTA Kerinci sendiri merupakan proyek strategis dengan kapasitas terpasang 350 MW hingga 480 MW. Pembangkit ini menggunakan empat unit turbin tipe Vertical Francis yang membutuhkan rata-rata debit air sebesar 59,4 m³ /detik.
Kondisi ini memicu reaksi keras dari aktivis dan masyarakat setempat. Edwar, salah satu aktivis Kerinci, menyebutkan bahwa dampak yang dirasakan bukan sekadar pemandangan yang buruk, melainkan ancaman terhadap hajat hidup orang banyak.
Beberapa sektor yang kini berada di ujung tanduk antara lain:
1. Danau Kerinci yang merupakan ikon wisata Jambi kehilangan daya tarik estetika karena dasar danau yang menyembul ke permukaan.
2. Lahan persawahan warga terancam kekeringan karena gangguan pada aliran sungai yang bermuara dari danau.
3. Nelayan setempat mulai kesulitan mencari ikan seiring terganggunya ekosistem dan biota danau.
Selain faktor teknis dari PLTA, kondisi cuaca ekstrem di wilayah Kerinci turut memperburuk keadaan. Kurangnya intensitas hujan dalam beberapa pekan terakhir membuat pasokan air ke danau tidak seimbang dengan air yang dialirkan untuk menggerakkan turbin.
Menanggapi krisis ini, PT KMH melalui rapat bersama tim pusat berjanji akan melakukan pendataan terhadap wilayah yang terdampak kekurangan air. Sebagai solusi jangka pendek, perusahaan berencana menyiapkan tandon-tandon air bagi masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih dan irigasi sawah.
Terkait perizinan, pihak BWS menjelaskan bahwa izin uji coba tersebut dikeluarkan langsung oleh pemerintah pusat melalui sistem online. Namun, sinkronisasi antara pemerintah pusat, daerah, dan pengembang baru dilakukan secara intensif setelah dampak nyata mulai dirasakan masyarakat.
Kini, masyarakat Kerinci hanya bisa berharap agar operasional permanen PLTA nantinya tidak mengorbankan kelestarian lingkungan dan identitas daerah yang telah dijaga selama berabad-abad. (Feng)





