Hukumopini

Misteri Ijazah Jokowi: Sebuah Ujian Integritas Publik

Oleh: Ferwinta Zen (Lawyer di Jakarta)

1. Latar Belakang dan Kronologi Isu

Isu keaslian ijazah Presiden ke-7, Joko Widodo (Jokowi), mencuat kembali dan menjadi sorotan publik dalam beberapa bulan terakhir. Dugaan bahwa ijazah S1-nya “palsu” dilaporkan oleh Tim
Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA). kumparan+3KompasNasional+3Kompa+3.

Polri (Bareskrim) menindaklanjuti dengan melakukan gelar perkara dan pemeriksaan laboratorium forensik terhadap ijazah yang diserahkan oleh tim kuasa hukum Jokowi.

Pada 22 Mei 2025, Bareskrim menyatakan bahwa ijazah Jokowi asli, setelah melakukan uji lab forensik yang membandingkan ijazah Jokowi dengan tiga ijazah rekan seangkatannya di
Fakultas Kehutanan UGM. IT Science Journal.

Namun, para penuduh belum sepenuhnya puas. Sebagai contoh, Roy Suryo menegaskan bahwa analisis digital yang dia lakukan menunjukkan kejanggalan, dan dia tetap menuntut agar dokumen asli diperlihatkan secara terbuka. Kompas.

Sementara itu, Jokowi menuduh adanya “agenda besar politik” di balik tuduhan ijazah palsu. detikcom Dia mengklaim ada “sosok besar” yang mendukung isu tersebut. detikcom.

UGM, sebagai almamater, juga angkat bicara: Wakil Rektor UGM menyatakan bahwa catatan akademik menunjukkan Jokowi lulus pada 5 November 1985. DW News Namun, kampus menyebut bahwa ijazah asli disimpan oleh Jokowi sendiri, bukan di kampus.

2. Titik Temu & Konflik Fakta
a) Analisis Forensik vs Klaim Digital

● Tim forensik Bareskrim menyatakan hasil uji dokumen fisik (kertas, tinta, stempel, tanda
tangan) menunjukkan identitas produk yang “identik” antara ijazah Jokowi dan
dokumentasi pembanding. IT Science Journal+1
● Namun, para penuduh, seperti Roy Suryo, berargumen bahwa analisis digital perlu diperhitungkan, meski ahli dari kubu Jokowi menyatakan hanya lab fisik (seperti Puslabfor) yang memiliki otoritas untuk uji dokumen analog. Kompas.

Baca juga:  Khalid ibn al-Walid: Panglima yang Meruntuhkan Dua Imperium Dunia
b) Transparansi Dokumentasi

● UGM menyatakan siap menunjukkan dokumen pendukung jika ada perintah pengadilan. DW News

● Di sisi lain, kelompok pengkritik menuntut agar ijazah asli oleh Jokowi diperlihatkan ke publik secara terbuka, bukan hanya diuji di balik pintu lab forensik. Kompas+1

● Ketidakmauan Jokowi menunjukkan ijazah secara terbuka (beliau menyatakan hanya akan memperlihatkan jika perintah pengadilan) memicu kecurigaan lebih lanjut.

c) Motif Politik

● Tuduhan tidak semata soal keaslian ijazah; ada klaim bahwa agenda politik besar mendasari isu ini, termasuk tuduhan pemakzulan dan tekanan politik. detikcom+1

● Sebaliknya, kubu Jokowi juga mengambil langkah hukum menanggapi tuduhan, dengan laporan balik ke kepolisian atas pencemaran nama baik.

3. Nilai Moral dan Makna Kepemimpinan

Isu ijazah ini bukan sekadar soal legalitas dokumen, tetapi menyentuh nilai-nilai integritas seorang pemimpin:

Kejujuran: Publik berhak mempertanyakan apakah seorang pemimpin menempuh pendidikan sebagaimana tercatat atau tidak. Jika terbukti jujur, itu memperkuat legitimasi
moral. Jika sebaliknya, kerusakan kepercayaan bisa sangat besar.

Akuntabilitas: Seorang figur publik, apalagi mantan presiden, memiliki tanggung jawab moral untuk menjelaskan hal-hal penting dari histori kehidupan publiknya. Transparansi
terhadap ijazah bisa menjadi simbol akuntabilitas.

● Keberanian memperlihatkan kebenaran: Jika ijazah benar-benar asli, memperlihatkan dokumen secara terbuka (atau setidaknya dalam forum pengadilan) adalah langkah
berani yang bisa menutup spekulasi. Menghindar juga bisa dibaca sebagai tanda keraguan, bahkan jika niatnya bukan menutupi sesuatu.

● Preseden bagi generasi berikutnya: Jika isu ini dibiarkan bergulir tanpa penyelesaian yang meyakinkan, maka generasi pemimpin berikutnya mungkin melihat bahwa tuduhan serius seperti ini bisa dihadapi dengan kabut politik dan bukan klarifikasi jujur.

Baca juga:  Makan Bergizi Gratis: Anggaran Raksasa, Tata Kelola Bermasalah?
4. Jalan Solusi yang Bijaksana

Agar polemik berlarut ini tidak terus memecah publik dan memperburuk kepercayaan masyarakat terhadap institusi, beberapa langkah berikut bisa diambil:

1. Sidang Publik atau Pengadilan Terbuka

○ Ajukan agar persoalan ijazah dibahas dalam sidang terbuka di pengadilan. Jika
ada gugatan, penggunaan mekanisme peradilan bisa menjadi jalan netral untuk
menguji dokumen.
○ Dalam sidang, ijazah asli, dokumen pendukung (misalnya salinan buku alumni, arsip UGM) bisa diperlihatkan dengan mekanisme perlindungan jika perlu, tapi tetap dengan transparansi maksimal.

2. Penyampaian Transparan dari UGM

○ UGM sebagai institusi akademik mempunyai tanggung jawab moral dan akademis untuk menjelaskan detail catatan akademik Jokowi: transkrip nilai, tanggal masuk, judul skripsi, pembimbing, dan arsip kelulusan.

○ Jika UGM memiliki dokumen-dokumen pendukung, kampus bisa merilis ringkasan laporan forensik kampus sendiri (tentu dengan izin pengadilan bila dibutuhkan), untuk memperkuat kredibilitas lembaga akademik.

3. Laporan Forensik Independen

○ Bentuk tim ahli independen (akademisi dari universitas lain, pakar forensik dokumen) yang tidak terkait kuat dengan kubu Jokowi atau penuduh, untuk memverifikasi hasil lab.

○ Jika hasil analisis independen sejalan dengan temuan Bareskrim, publik lebih mudah percaya bahwa pemutusan isu bukan hanya “modus politik”.

4. Dialog Publik dan Pendidikan Integritas

○ Gelar seminar, diskusi publik, atau webinar dengan tema “Integritas Pemimpin dan Transparansi Pendidikan” untuk menjadikan isu ijazah ini sebagai momen refleksi bersama.

○ Libatkan mahasiswa, aktivis, tokoh agama, dan media agar menjadi ajang edukasi nilai-nilai moral dalam kepemimpinan, bukan sekadar polemik politik.

5. Komitmen Pribadi dari Jokowi

Baca juga:  Mengapa OTT Kepala Daerah Terus Terjadi?

○ Jika ingin meredam kecurigaan, Jokowi bisa membuat pernyataan publik tertulis yang lebih tegas: misalnya bersedia memperlihatkan ijazah saat proses pengadilan atau dalam forum resmi lain.

○ Komitmen menjunjung nilai kejujuran dan integritas bisa diwujudkan melalui sikap terbuka, bukan hanya kepada pengkritik, tetapi kepada seluruh rakyat yang menaruh harapan pada figur publik.

5. Risiko Jika Isu Dibiarkan

Kalau polemik ini tidak diselesaikan dengan cara yang jelas dan memuaskan, beberapa risiko jangka panjang bisa muncul:

● Erosi kepercayaan publik terhadap figur pemimpin, apalagi mantan presiden, bisa mengurangi legitimasi moral dan simbolik.

● Politik isu berulang: Tuduhan serupa bisa muncul lagi di masa depan, baik terhadap Jokowi sendiri (misalnya soal ijazah lain) maupun figur publik lain, sebagai taktik politis.

● Preseden buruk: Jika dokumentasi penting seperti ijazah tidak diungkapkan secara transparan, publik bisa mencurigai bahwa politisi bisa memainkan dokumen akademik untuk meraih posisi.

● Fragmentasi sosial: Isu seperti ini bisa memecah masyarakat antara pendukung dan penuduh, memperkuat polarisasi politik.

6. Kesimpulan

Polemik ijazah Jokowi bukan hanya masalah dokumen akademik; ia mencerminkan krisis kepercayaan, pertanyaan integritas, dan dilema antara politik dan moral publik. Untuk menutup kontroversi ini dengan cara yang bijaksana, dibutuhkan:

1. mekanisme hukum terbuka,

2. verifikasi forensik yang terpercaya dan independen,

3. keterlibatan lembaga akademik dalam keterbukaan, dan

4. komitmen serius dari tokoh publik untuk mendahulukan kejujuran di atas kepentingan politik.

Di atas segalanya, rakyat Indonesia pantas menuntut pemimpin yang jujur, bertanggung jawab, dan integritasnya tidak diragukan — karena integritas pendidikan adalah salah satu fondasi kepercayaan publik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button