opini

Mengapa OTT Kepala Daerah Terus Terjadi?

Oleh: Ferri Zen (Lawyer ILC Jakarta)

Analisis Lanjutan + Strategi Pencegahan Sistemik

Fenomena OTT kepala daerah bukan anomali, melainkan gejala kegagalan tata kelola
politik dan pemerintahan daerah. Karena itu, pencegahannya tidak bisa parsial, melainkan
harus menyentuh akar masalah.

Dibawah ini saya uraikan strategi pencegahan berlapis: dari hulu (politik), tengah (birokrasi),
hingga hilir (penegakan hukum & budaya).

I. STRATEGI HULU

Reformasi Politik & Biaya Kekuasaan

1. Menurunkan Biaya Politik Pilkada (KUNCI UTAMA)

Akar utama korupsi kepala daerah = biaya politik yang tidak rasional.
Strategi:
● Negara memperbesar pendanaan resmi kampanye (public campaign finance)
● Pembatasan ketat sumbangan individu & korporasi
● Audit real-time dana kampanye berbasis digital (open data)
● Sanksi pidana tegas untuk off-book campaign

Argumen akademik:

Hampir seluruh riset (KPK, UGM, LIPI/BRIN) menyimpulkan:
“Korupsi kepala daerah adalah mekanisme pengembalian modal politik.”

2. Reformasi Rekrutmen Partai Politik

Banyak kepala daerah bukan dipilih karena kapasitas, tetapi:
● modal finansial
● kedekatan elite
● mahar politik

Strategi:
● Wajib seleksi terbuka & uji publik calon kepala daerah
● Transparansi mahar politik (pidana jika disamarkan)
● Pemotongan bantuan partai jika kadernya terbukti korupsi

Baca juga:  Makan Bergizi Gratis: Anggaran Raksasa, Tata Kelola Bermasalah?

Tujuan: memutus relasi “investor politik ↔ proyek daerah”.

II. STRATEGI TENGAH

Reformasi Tata Kelola Pemerintahan Daerah

3. Menutup Celah Korupsi Anggaran & Proyek

Sektor paling rawan OTT:
● APBD
● proyek infrastruktur
● perizinan
● pengadaan barang/jasa

Strategi teknis:
● E-budgeting & e-planning wajib terintegrasi nasional
● Semua kontrak proyek → open contract data
● Larangan kepala daerah intervensi tender
● Penguatan peran UKPBJ independen
Prinsip: less discretion, more system.

4. Menghapus Jual Beli Jabatan ASN

Hampir 30–40% OTT kepala daerah terkait mutasi dan promosi jabatan.
Strategi:
● Semua promosi ASN berbasis merit system nasional
● Digitalisasi penilaian kinerja ASN (tanpa kepala daerah)
● Komisi ASN diberi kewenangan sanksi langsung
● Kriminalisasi tegas jual beli jabatan (tanpa kompromi etik)
Kepala daerah tidak boleh menjadi “raja kecil” birokrasi.

5. Penguatan Inspektorat Daerah (Internal Control)
Saat ini inspektorat:

● lemah
● berada di bawah kepala daerah
● sering tidak independen

Baca juga:  Khalid ibn al-Walid: Panglima yang Meruntuhkan Dua Imperium Dunia

Strategi:
● Inspektorat bertanggung jawab langsung ke Mendagri/BPKP
● Rotasi nasional inspektur daerah
● Inspektorat diberi kewenangan early warning system
Filosofi: mencegah sebelum OTT, bukan bangga setelah OTT.

III. STRATEGI HILIR

Penegakan Hukum & Efek Jera

6. Penguatan KPK sebagai Pencegah, Bukan Sekadar Penangkap
OTT itu obat darurat, bukan solusi jangka panjang.

Strategi:
● KPK diperkuat di fungsi pencegahan daerah
● Wajib integrity pact kepala daerah pasca dilantik
● Monitoring khusus 2 tahun pertama masa jabatan
● Publikasi indeks risiko korupsi tiap daerah

Kepala daerah baru = zona merah korupsi.

7. Hukuman Lebih Berat untuk Kepala Daerah
Korupsi kepala daerah = kejahatan pengkhianatan mandat rakyat.

Strategi:
● Pidana minimum khusus (mandatory minimum sentence)
● Perampasan aset tanpa menunggu putusan inkracht
● Pencabutan hak politik seumur hidup untuk korupsi berat
● Larangan seumur hidup jabatan publik
Tanpa hukuman berat → OTT hanya jadi siklus.

Baca juga:  Khalid ibn al-Walid: Panglima yang Meruntuhkan Dua Imperium Dunia
IV. STRATEGI SOSIAL & BUDAYA

Mengakhiri Normalisasi Korupsi

8. Pendidikan Etika Kekuasaan
Korupsi bukan sekadar soal hukum, tapi mentalitas kekuasaan.

Strategi:
● Pendidikan etika publik wajib bagi kepala daerah
● Evaluasi integritas tahunan oleh publik & akademisi
● Pelibatan kampus & CSO sebagai pengawas independen

Kekuasaan harus dipersepsikan sebagai amanah, bukan aset.

9. Pelibatan Publik & Media
OTT sering terjadi karena informasi masyarakat.

Strategi:
● Perlindungan maksimal pelapor (whistleblower)
● Kanal aduan anonim nasional
● Media diberi akses data anggaran & proyek

Transparansi = musuh utama korupsi.

V. KESIMPULAN BESAR

OTT kepala daerah akan terus berulang jika:
● biaya politik tetap mahal
● kepala daerah punya diskresi absolut
● sistem pengawasan lemah
● hukuman tidak menimbulkan efek jera

Pencegahan efektif hanya bisa dicapai jika:
● politik dibiayai secara sehat
● birokrasi steril dari intervensi
● sistem digital menutup celah
● hukum tegas dan konsisten
OTT bukan prestasi negara, tetapi alarm kegagalan sistem.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button