opini

Cara Pandang Kepemimpinan Jawa

Oleh : Musri Nauli

Ada dua peristiwa penting yang menarik perhatian saya. Pertama ketika Jokowi membuat status di FB yang menyebutkan “Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangestuti. Dan ketika diwawancara Najwa Shihab ketika memenangkan Pilpres di Istana yang menyebutkan “Sugih tanpa bandha, Digdaya tanpa aji, Nglurug tanpa bala, dan Menang tanpa ngasorake.”

Status di FB yang menyebutkan “Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangestuti” berkaitan dengan kisruh KPK-Polri.

Dibawah tekanan publik dan KPK yang hendak menolak Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai Kapolri dan menghadapi tekanan partai yang sudah meloloskannya. Termasuk juga dari DPR-RI yang meminta agar proses BG dilanjutkan.

Entah mengapa Jokowi membuat status di FB tahun 2015.

Seketika angan saya kemudian melayang. Cara pandang Jokowi untuk menyelesaikan tentu saja tidak dapat dilepaskan cara pandang Jokowi dengan nilai-nilai kepemimpinan Jawa. Tradisi yang hidup di masyarakat Jawa. Diwariskan turun temurun.

“Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangestuti” adalah ajaran yang menekankan “Segala sifat keras hati, picik, angkara murka hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar.

Secara jenius Jokowi mampu menyelesaikannya tanpa harus ada yang dikalahkan.

Jokowi “cerdik” dengan mengangkat Komjen Badrodin Haiti yang menjabat sebagai Wakapolri sejak 2014 sebagai Pelaksana Tugas Kapolri. Jabatan ini kemudian diselesaikan hingga tahun 2016.

Baca juga:  Perjalanan Betuah (26)

Dengan mengangkat sebelumnya Wakapolri menjadi Pelaksana Tugas Kapolri mampu menyelesaikan persoalan KPK-Polri secara elegan.

Publik dan KPK menerima tidak diangkatnya BG. Namun disisi yang lain, soliditas Polri tidak terganggu karena dipimpin oleh Wakapolri sendiri.

Sehingga tepatlah filosofi “Suro Diro Jayaningrat Lebur Dening Pangestuti” didalam menyelesaikannya dengan baik.

Sikap “sabar” dan tidak “grasa-grusu” juga ditandai dengan cara Jokowi “memindahkan” PKL di Solo (Walikota Solo) dan penduduk di Dam Pluit (Gubernur Jakarta). Jokowi terus “memastikan” pemetaan persoalan hingga tidak salah langkah.

Publik kemudian menyaksikan bagaimana “upaya pemindahan PKL” justru ditandai dengan upacara dan acara kesenian.

Sedangkan makna dan terus menjadi pedoman Jokowi ditandai dengan “Sugih tanpa bandha, Digdaya tanpa aji, Nglurug tanpa bala, dan Menang tanpa ngasorake.”

Memahami kata-kata diatas tidak dapat dilepaskan dari cara pandang yang dikemukakan oleh R.M. Pandji Sosrokartono (Pandji Sosrokartono). Seorang pemikir Jawa yang terkenal di Belanda. Pandji Sosrokartono adalah kakak kandung R. A. Kartini. Seorang pemikir yang mempengaruhi Kartini.

Baca juga:  Pemimpin Bertuah

Bahkan Kartini mampu “bersurat-surat” dengan Ny Abendanon. Surat ini kemudian dikumpulkan dan menjadi buku yang dikenal “Habis Gelap terbitlah terang’. Buku ini kemudian menginspirasi Emansipasi di Indonesia.

Paska kemenangan Jokowi untuk jabatan Presiden periode kedua, saat Jokowi diwawancara oleh Najwa Shihab mengutip cara pandangnya tentang pemimpin Jawa. Filosofi yang disebutkan “Sugih tanpa bandha, Digdaya tanpa aji, Nglurug tanpa bala, dan Menang tanpa ngasorake.”

“Sugih tanpa bandha”, adalah makna filosofi “kaya tanpa harta”. Sedangkan “Digdaya tanpa aji” adalah makna filosofi sakti tanpa jimat.

Makna ini dipahami sebagai kesaktian, kekuataan apapun hanya milik sang Pencipta. Sehingga dengan kekuatan dari Sang pencipta, halangan apapun dapat diatasi.

Makna “nglurug tanpa bala” adalah falsafah Jawa yang kental dengan “untuk mencapai sesuatu tidak harus dengan kekuatan luar biasa.

Dengan perhitungan matang, hati-hati mengedepankan pendekatan dari hati ke hati maka setiap orang harus dihormati.

Sedangkan apabila “kemenangan telah diraih”, maka “Menang tanpa ngasorake” adalah pendekatan kepada orang lain dan tetap ditempatkan sebagai orang yang dihormat. Makna ini juga mencapai kemenangan tanpa harus merendahkan orang lain.

Baca juga:  Perjalanan Betuah (29)

Lihatlah. Bagaimana Jokowi mengajak Prabowo untuk masuk ke kabinet Pemerintahan Jokowi.

Tidak dapat dipungkiri, cara pandang alam kosmopolitan masyarakat Jawa terhadap kepemimpinan mengutamakan prinsip “kerukunan” dan sikap hormat kepada alam, pencipta, leluhur, guru, orang tua, agama, bangsa dan negara. Frans Magnis Suseno lebih suka menyebutkan “selaras dalam hidup bermasyarakat”.

Koentjaraningrat (Pak Koen) sendiri menyebutkan sikap ini kemudian tercermin “sederhana, jujur, adil, tepo selira, hemat, disiplin dan taat kepada hukum.

Ki Hajar Dewantara sendiri menegaskan mantra sakti yang sering kita dengar “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani.”. Mantra sakti yang sering dilekatkan kepada Guru. Dan menjadi slogan yang dipegang teguh para guru di Indonesia.

Sebagai pemimpin, dia harus mampu menjadi memayu hayuning bawana untuk semua umat dipermukaan bumi.

Hanya pemimpin yang berjiwa besar mampu melakukan untuk merangkul pihak lawan.

Dan ketika pemimpin melaksanakan kewajibannya maka “gemah ripah loh jinawi. Tata Tentram Kerto Raharjo”.

Makna ini juga dikenal dalam Seloko Jambi “Negeri aman. padi menjadi. Rumput hijau. Kebo gepuk. Ke aek cemeti keno. Ke darat durian gugur”.

 

Tags

Related Articles

Back to top button
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
>
Close
Close