HukumJambi

Konflik Lahan WKS, Kasus SMB Mirip Mesuji

Konflik Lahan WKS
Konflik Lahan WKS

Kerincitime.co.id, Berita Jambi – Tanaman akasia di lahan tak bertuan seluas 3.400 hektar itu sudah siap panen. Bentrok berdarah pecah ketika ratusan anggota Koperasi Rimbo Kehidupan Lestari—mitra PT Wira Karya Sakti– tengah menyiapkan jalur transportasi pengangkutan kayu dan dihadang massa Serikat Mandiri Batanghari (SMB).

Dari sinilah serangan balasan dilakukan kelompok SMB ke area di Distrik 8 PT WKS, pada Sabtu akhir pekan lalu.

Berikut penelusuran Ardy Irawan wartawan Jambi Link media partner kerincitime.co.id dilapangan.

Pukul tiga sore, Rabu 10 Juli 2019. Suasana di depan Masjid Baitul Mustakim RT 09 Desa Belanti Jaya Kecamatan Mersam tetiba mencekam. Bentrok berdarah antar dua massa pecah.

Dua unit truck Colt Diesel hancur. Tiga warga luka-luka, salah satunya Hendriyanto, Kepala Desa Sengkati Baru.

Perang saudara ini bermula ketika Hendriyanto bersama 150 orang anggota Koperasi Rimbo Kehidupan Lestari datang ke lokasi untuk memperbaiki ruas jalan bekas PT Indotani.

Pagi itu, mereka bergerak menggunakan tiga unit truk Colt Diesel dengan nomor polisi BH 8194 GJ, BH 8062 FI, dan BH 8529 LO. Truk-truk ini di rental dari Desa Sungai Buluh Kecamatan Muara Bulian.

Hendriyanto memimpin langsung pergerakan massa. Pukul dua siang mereka tiba di Desa Belanti Jaya Mersam dan langsung istirahat makan siang serta sholat.

Setengah jam berselang, mereka bergerak lagi dan berhenti di depan masjid Baitul Mustakim RT 09 Desa Belanti Jaya. Disana, mereka berkumpul sembari menerima arahan dari Hendriyanto.

“Jangan anarkis jika bertemu kelompok SMB,”kata Kades Hendriyanto kepada ratusan anggotanya.

Anggota koperasi Rimbo Kehidupan Lestari ini mengklaim berhak atas lahan seluas 3.400 hektar itu. Karena mereka memiliki konsensi IUPHHK HTR yang sudah didapat dari pemerintah.

Nah, lewat sistem kemitraan, mereka lantas bekerjasama dengan PT Wira Karya Sakti (Sinarmas Grup) untuk berbisnis kayu.

Baca juga:  Empat Pelajar Diciduk Polisi Saat Pesta Miras

Lahan itu kemudian oleh WKS ditanami pohon akasia.

Rupanya, kelompok SMB dibawah pimpinan Muslim juga mengklaim memiliki hak atas lahan tersebut. Menurutnya, lahan itu warisan nenek moyang mereka. Mereka justru balik menuding WKS lah yang menyerobot lahan warga.

Makanya, sejak setahun lalu kelompok SMB sudah menguasai lahan tersebut.

Menjelang asar, Muslim memboyong 170 orang mendatangi massa koperasi yang tengah berkumpul.

Adu argumen pecah dan akhirnya berujung bentrok berdarah. Karena kalah jumlah, massa koperasi lari tunggang-langgang.

Dua truk hancur, tiga anggota koperasi luka-luka.

Hendriyanto –Kades Sengkati Baru–, mengalami luka memar dan robek di bagian gigi. Sedangkan Bahrun (50) mengalami luka Memar dan Mudar Aidi (38) juga mengalami luka memar dan robek di bagian tangan.

Kepada polisi, Hendrianto menjelaskan insiden itu pecah ketika mereka hendak melakukan giat perbaikan jalan produksi.

Rencananya, giat itu akan dilakukan selama tiga hari. Pengerjaan ini bagian dari MoU antara koperasi dan PT WKS, dalam rangka persiapan panen.

Muslim sebenarnya hanyalah pendatang.

Dulu, ia pernah bergabung dalam barisan Persatuan Petani Jambi (PPJ). Sudah sejak lama ia aktif menjadi aktifis dan konsen mengurusi konflik agraria.

Muslim sempat menghilang pada tahun 2014. Tak ada yang tahu kemana ia berada.

Tiga tahun menghilang—awal tahun 2017–Muslim tetiba muncul lagi di Batanghari.

Begitu muncul, ia langsung membentuk organisasi Serikat Mandiri Batanghari (SMB).

Mulanya, ia mengorganisir warga Mersam, Muara Bulian, Maro Sebo Ilir, Muara Tembesi, Maro Sebo Ulu dan Bajubang. Warga pribumi itu ia organisir melalui Marzuki dan Ismawati.

Setahun kemudian –Agustus 2018—terjadi perpecahan di tubuh SMB.

Dua pentolan utama SMB– Marzuki dan Ismawati–hengkang.

Baca juga:  Yusuf Budiman dan Rian Rinaldo Bersinar di Manila, Fachrori Kucurkan Bonus

Marzuki kemudian membentuk PP SMB sementara Ismawati membentuk kelompok Tani Terusan Bersatu.

Sejak itu, Muslim menjadi pemain tunggal di SMB.

Ia lantas merekrut para pendatang, seperti warga Nias, Medan, Jawa, Jogyakarta dan Bekasi untuk bergabung.

Sebagian masyarakat lokal berhasil direkrut, utamanya warga transmigrasi PT SJL.

Muslim cs lantas menduduki lahan yang diklaim tak bertuan itu. Sebagian mereka beralasan lahan itu memang merupakan warisan nenek moyang mereka. Justru, PT WKS lah yang mereka tuding sengaja menyerobot lahan warga.

Karena itu, kelompok SMB ini siap bertaruh nyawa demi mempertahankan hak.

Pasca bentrok, kelompok SMB makin beringas. Mereka kesal dan menganggap PT WKS otak dibalik gerakan Hendriyanto. Karena itulah, Sabtu akhir pekan lalu, kelompok SMB ini menyerang area WKS di Distrik 8 secara brutal.

Sejumlah aparat yang berada dilokasi menjadi korban amuk massa.

Tak sampai sepekan, tim gabungan TNI-Polri diturunkan. Muslim dan anggotanya—45 orang—berhasil di bekuk tanpa perlawanan. Polisi sudah menetapkan 20 orang sebagai tersangka.

Aidil Putra, Penasehat Persatuan Petani Jambi membenarkan Muslim pernah bergabung di PPJ.

“Cuma sampai 2017. Sekarang tidak lagi,”ujarnya.

Aidil berpendapat baik pemerintah maupun petani sama-sama tak ingin insiden keributan terjadi. Ia menilai, kejadian itu merupakan buntut lemahnya pemerintah dalam menangani masalah agraria.(*)

 

Mirip Kasus Mesuji

Tim terpadu sebenarnya sudah berulang kali memfasilitasi kedua belah pihak yang bersengketa. Pertemuan terakhir berlangsung di aula Badan Kesbangpol Provinsi Jambi, Kamis 13 Juni 2019.

Rapat dipimpin Kabid Penanganan Konflik Sosial Badan Kesbangpol Provinsi Jambi Sigit Eko Yuwono. Turut hadir Karo Ops Polda Jambi Kompol Agus Salim, Dir Reskrimum Polda Jambi Edi Faryadi, SH.S.I.K.MH, Binda Jambi dan Kasi Ops Korem 042 Gapu Jambi.

Baca juga:  Polda Jambi Rekrut 53 Orang CPNS Polri

Dalam rapat itu, Dir Reskrimum Polda Jambi berpendapat konflik sulit diselesaikan karena kelompok SMB tidak mau mengikuti pola mediasi pemerintah.

“Harus segera dilaksanakan dengan waktu yang singkat mengingat konflik ini sudah berlarut-larut,”saran Dir Reskrimum.

Kepala Kantor Kesbangpol Batang Hari justru berpendapat perlu penegakan hukum jika kelompok SMB ogah diajak mediasi.

Sedangkan perwakilan dari PT WKS menyetujui rencana dan pola penyelesaian konflik yang sudah dirumuskan Tim Terpadu.

“Kami meminta agar masalah ini dapat segera diselesaikan karena bila dilihat Kelompok Muslim ini sudah merenggut HAM kami sebagai investor,  dan bahkan sekarang bila kami melintas di areal yang mereka duduki tersebut sudah dilarang,”jelas Taufik, juru bicara WKS.

Konflik lahan yang melibatkan SMB ini mirip seperti kasus sengketa lahan di Mesuji, Lampung. Pemicunya sama-sama masalah agraria.

Catatan Jambi Link, konflik pertanahan di Mesuji lantaran negera dinilai sering menyerobot tanah masyarakat lokal.

Kemudian konflik ini berkembang menjadi menjadi konflik antara warga dengan perusahaan. Yakni, ketika negara banyak memberikan konsesi pengelolaan lahan hutan kepada pengusaha.

Persoalan makin kompleks ketika warga pendatang juga masuk hutan untuk membuka lahan pertanian.

Selain membuka pertanian, mereka juga mendirikan rumah dan bangunan permanen. Kedatangan para pendatang ini pun sempat menjadi pemicu segregasi (pemisahan kelompok berdasarkan etnis/ras) sosial di Mesuji.

Sama persis dengan konflik yang terjadi di Mersam yang melibatkan kelompok SMB sebagai aktor.

SMB terlibat konflik dengan PT WKS (Sinarmas grup) yang berdalih punya kerjasama dengan koperasi dalam pengelolaan lahan.

Pemerintah pun memberikan konsensi pengelolaan lahan hutan kepada PT WKS lewat koperasi tersebut.

Inilah yang akhirnya diprotes oleh kelompok SMB pimpinan Muslim cs. Mereka merasa paling berhak atas lahan itu dan mendirikan bangunan disana.(red)

 

Tags

Related Articles

Berikan Komentar Anda :

avatar
  
smilegrinwinkmrgreenneutraltwistedarrowshockunamusedcooleviloopsrazzrollcryeeklolmadsadexclamationquestionideahmmbegwhewchucklesillyenvyshutmouth
  Subscribe  
Notify of
Back to top button

Dapatkan Berita Update "KERINCI TIME" Terbaru Setiap Harinya

Close
Close