JambiPolitik

Terbuka Peluang Munculnya Poros Baru

Berita JAMBI, Kerincitime.co.id – Poros baru berpeluang besar muncul di Pilgub Jambi, di luar dua poros utama saat ini, yakni poros Hasan Basri Agus (HBA) dan poros Zumi Zola.

Hal ini berdasarkan asumsi dua bulan jelang pendaftaran pasangan calon gubernur dan wakil gubernur 26-28 Juli nanti, baru sebagian kecil partai yang memastikan arah dukungan.

Partai yang sudah memutuskan arah dukungan baru partai tempat kandidat itu bernaung. Seperti Demokrat, tentu akan mengusung Ketua DPD Hasan Basri Agus (HBA) dan PAN juga akan mengusung Zumi Zola. Selain itu, PKS juga sudah memutuskan mendukung HBA termasuk PKB yang menyatakan mendukung Zola.

Meski demikian, belakangan partai yang memiliki enam kursi ini mulai goyah. Muncul wacana PKB akan menarik dukungannya dan berpeluang mengusung kandidat baru, baik itu dari internal maupun dari eksternal partai. Ini juga ditandai mulai bertebarannya alat peraga kampanye milik Ketua DPW PKB, Sofyan Ali dibeberapa titik di Kota Jambi.

Selain beberapa partai tersebut, masih banyak partai besar lainnya yang belum memastikan arah dukungannya. Seperti Gerindra, partai yang memiliki enam kursi di DPRD Provinsi Jambi baru melakukan penjaringan kandidat. Nama Ketua DPD Gerindra, Sutan Adil Hendra (SAH) juga mencuat bakal maju. Golkar, NasDem, Hanura dan PBB juga belum meresmikan dukungannya. PDIP, meski hanya HBA yang mendaftar namun belum ada SK dukungan resmi dari DPP PDIP. Sedangkan PPP, dukungannya terbelah, kubu Romahurmuziy mendukung Zola namun kubu DJan Farid condong ke HBA.

Pengamat Politik Jambi, Jafar Ahmad saat dimintai tanggapannya menyatakan, melihat komposisi partai, memang ada peluang untuk memunculkan poros baru.

“Kalau dari sisi peluang partai tidak ada masalah. Tetapi partai tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap jaringan suara, partai itu hanya sebagai tiket masuk,” tuturnya.

Misalnya, jumlah persentase dukungan partai itu 20 persen tidak linier terhadap angka suara yang muncul untuk calon tersebut. Perolehan suara partai saat Pileg lalu inikan bukan karena ideology partai. Bukan karena orang cinta partai lalu orang memilih.

“Jadi dari sisi partai boleh ada peluang, tetapi dari sisi perolehan suara itu sulit. Kan itu yang amat penting. Seberapa yakin kandidat lain ini memiliki kemampuan untuk bersaing dengan orang yang lebih duluan muncul ini,” sebutnya.

Jika memang muncul poros baru, menurutnya metode untuk meraup suara paling gampang adalah mencari pemilih yang identifikasi sosiologisnya kuat. Kemudian jumlahnya banyak.

“Di Jambi misalnya, memilih gubernur dan wakil gubernur carilah orang yang berasal dari kelompok etnis yang identifikasi etnisnya tinggi. Bisa Jawa, Kerinci, Batak, Minang. Kalau Melayu Jambi sudah habis sama HBA dan Zola,” jelasnya.

“Maka, kalau mau menjadi poros baru melawan HBA dan Zola gabungkan etnis ini. Itu menurut saya yang mudah karena waktunya singkat sekarang ini. Kalau tidak berdasarkan itu tidak mudah menyaingi HBA dan Zola,” sambungnya.

Tetapi, persaingan yang perlu diingat oleh calon itu adalah persoalan perang persepsi publik. untuk merebut persepsi publik itu tentu orangnya itu harus dikenal, popularitasnya mesti tinggi.

“Sejauh ini saya sudah berkesempulan sulit muncul calon lain selain HBA dan Zola ini karena upaya yang harus ditempuh itu terlalu rumit, terlalu panjang dan terlalu susah untuk melawan dua orang yang sudah terlanjur popular ini. Itu masalahnya bukannya tidak ada orang, tetapi susah mencari orang untuk mampu bersaing dengan HBA dan Zola dalam kondisi saat ini,” tandasnya.

Dasril Rajab, Pengamat Politik Jambi lainnya juga menilai, melihat komposisi partai yang ada memang ada kemungkinan untuk memunculkan poros baru. “Kemungkinan itu ada dan bisa saja, cuma masalahnya kecil kemungkinannya,” sebutnya.

Karena dari kandidat yang ada sekarang seperti HBA, ia sudah berpengalaman, sudah punya dukungan dan sebagainya. Demikian juga Zola di belakangnya ada sosok Zulkfli Nurdin (ZN) yang notabener mantan Gubernur Jambi dua periode.

“Jadi kemungkinan itu ada, tetapi kemungkinan tidak itu lebih besar. Bahkan menurut pendapat umum yang berkembang sekarang itu hanya HBA dan Zola. Yang jadi pertanyaan sekarang itu pendampingnya siapa. Bisa dihitung dengan jarilah tokoh yang ada yang bisa bersaing,” katanya.

Terlalu susah bagi kandidat baru untuk bersaing, apalagi hanya dengan kemampuan yang tanggung. “Lebih bagung mendukung salah satu calon, yang penting jelas posisi tawarnya. Barangkali itu yang bisa dilakukan oleh parai politik yang ada. Kalau nekad maju upayanya harus besar,” pungkasnya.(jambiupdate)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button