
Khalid ibn al-Walid: Panglima yang Meruntuhkan Dua Imperium Dunia
Ia tidak memiliki kerajaan besar, tidak pula memimpin tentara raksasa. Namun dalam waktu kurang dari satu dekade, seorang jenderal Arab bernama Khalid ibn al-Walid mengguncang dan meruntuhkan dua imperium adidaya dunia: Romawi Timur dan Persia Sassaniyah.
Oleh: Ferri Zen (Lawyer & Pengamat Strategi Milter)
Pada awal abad ke-7, peta kekuasaan dunia nyaris tak tergoyahkan. Di barat, Imperium
Romawi Timur (Bizantium) berdiri dengan tentara profesional, persenjataan berat, dan tradisi
militer berabad-abad. Di timur, Kekaisaran Persia Sassaniyah mengandalkan kavaleri lapis baja
dan aristokrasi militer yang mapan. Di tengah dua raksasa itu, Jazirah Arab hanyalah wilayah
pinggiran—terpecah, miskin, dan dianggap tak berbahaya.
Namun sejarah berubah cepat. Salah satu penggeraknya adalah Khalid ibn al-Walid, panglima
perang yang oleh Nabi Muhammad dijuluki Saifullah al-Maslul—Pedang Allah yang Terhunus.
Dari Musuh Menjadi Panglima Legendaris
Khalid bukan sosok yang langsung memihak Islam. Ia justru pernah menjadi arsitek kekalahan
pasukan Muslim dalam Perang Uhud. Ironisnya, kecerdikan militernya saat itu justru menjadi
bukti bakat strategisnya. Setelah memeluk Islam, bakat tersebut menemukan panggung yang
lebih besar.
Dalam waktu singkat, Khalid muncul sebagai komandan lapangan paling efektif. Ia tidak
memimpin dari kejauhan, melainkan berada langsung di medan perang, membaca situasi, dan
mengubah taktik dalam hitungan jam—bahkan menit.
Kecepatan: Senjata yang Tak Dimiliki Musuh
Salah satu rahasia kemenangan Khalid adalah kecepatan ekstrem. Pada 633 M, ia memimpin
pasukan kecil dari Irak menuju Syam dengan menyeberangi Gurun Siria—jalur yang dianggap
mustahil karena minim air dan logistik. Langkah ini membuat pertahanan Bizantium lumpuh.
Serangan datang dari arah yang sama sekali tidak mereka perkirakan.
Sejarawan Hugh Kennedy menyebut manuver ini sebagai “salah satu mars militer paling berani
dalam sejarah.” Bagi Khalid, kecepatan bukan sekadar soal bergerak cepat, melainkan
mengalahkan musuh sebelum mereka sempat berpikir.
Kavaleri Bergerak dan Seni Memukul Titik Lemah
Berbeda dengan tentara Bizantium dan Persia yang kaku dan bertumpu pada formasi berat,
Khalid mengandalkan kavaleri bergerak. Unit ini berfungsi seperti pisau bedah: cepat,
fleksibel, dan mematikan. Ia tidak menyerang kekuatan utama musuh secara frontal, tetapi
memukul sayap, memutus komunikasi, lalu menciptakan kekacauan.
Puncak kecemerlangan strategi ini terlihat dalam Perang Yarmuk (636 M). Pasukan Muslim
kalah jumlah secara signifikan. Namun Khalid memanfaatkan medan, menempatkan sungai dan
jurang di belakang musuh, lalu menghantam mereka dengan serangan berulang dari samping.
Kekalahan Bizantium berubah menjadi kehancuran total.
Sejarawan militer David Nicolle menyebut Yarmuk sebagai mahakarya perang manuver awal,
jauh sebelum konsep tersebut dikenal dalam doktrin modern.
Menang Tanpa Selalu Bertempur
Menariknya, kemenangan Khalid tidak selalu dicapai lewat pertempuran besar. Reputasinya
sebagai jenderal “tak terkalahkan” menciptakan efek psikologis yang kuat. Banyak kota di Syam
dan Irak memilih menyerah tanpa perlawanan. Dalam banyak kasus, Khalid menang bahkan
sebelum pedangnya terhunus.
Inilah bentuk perang psikologis yang halus namun efektif—sebuah strategi yang baru secara
teoritis dipelajari serius oleh militer modern berabad-abad kemudian.
Lebih dari Sekadar Jenderal
Yang membuat Khalid ibn al-Walid unik bukan hanya kemenangannya, tetapi cara ia menang.
Ia berperang dengan sumber daya minimal, tanpa negara modern, tanpa birokrasi militer besar,
dan tanpa teknologi canggih. Namun ia mampu mengalahkan dua imperium mapan yang telah
berkuasa selama ratusan tahun.
Sejarawan Victor Davis Hanson bahkan menilai Khalid sebagai salah satu jenderal yang
menerapkan operational art—kemampuan menghubungkan taktik dan strategi—jauh sebelum
konsep itu dikenal dalam teori militer Barat.
Warisan yang Terlupakan
Ironisnya, Khalid wafat bukan di medan perang, melainkan di atas ranjang. Ia pernah berkata
bahwa tubuhnya penuh luka, namun takdir membawanya mati secara alami. Barangkali di
situlah letak paradoks terbesar hidupnya: seorang panglima perang legendaris yang
mengajarkan bahwa kemenangan sejati bukan soal kematian heroik, melainkan ketepatan
strategi dan kejernihan akal.
Dalam sejarah dunia, Khalid ibn al-Walid layak dikenang bukan hanya sebagai pahlawan Islam,
tetapi sebagai arsitek kemenangan militer yang mengubah arah peradaban.




